
Makan siang yang membuat Tristan sesak. Bukan karena masakan yang tidak enak, melainkan ada jemari kaki yang mendesak di bawah meja sana.
Seorang wanita dengan nakal menggesekkan kakinya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Malahan perempuan itu terlihat tersenyum, ikut mengobrol ketika Mary membahas hal tentang bulan madu Valdo serta Belva.
"Kau tidak menghabiskan makananmu, Tris," ucap Mary. "Apa makanannya tidak enak?"
Tristan tersentak. "Tidak, makanannya sangat enak."
"Apa makanannya pedas? Kau berkeringat," ucap Valdo.
"Maafkan aku," kata Tristan, "aku merasa kurang enak badan."
"Istirahat saja, Tris. Zareena, bawa Tristan ke kamar tamu," ucap Henry.
"Tidak perlu. Aku pulang saja," kata Tristan karena tubuhnya tidak bisa lagi dikendalikan. Takutnya ketika Zareena membawanya ke kamar tamu, ia malah menyerang wanita itu.
"Istirahat saja sebentar," Valdo menimpali.
"Baiklah, aku mohon maafkan aku," ucap Tristan.
"Tidak apa-apa. Aku akan buatkan jus buah agar kau sedikit membaik," kata Mary.
"Terima kasih," ucap Tristan.
Zareena tersenyum. "Ayo, Tris. Kau harus beristirahat."
Tristan mengangguk, lalu bangun dari duduknya bersamaan dengan Zareena yang segera meraih lengannya kemudian membimbing pria itu berjalan menuju kamar tamu.
__ADS_1
Tristan menoleh ke belakang. Situasi aman tanpa ada Valdo atau Mary yang mengikuti. Langsung saja Tristan menarik tangan Zareena masuk ke kamar.
"Kau menyiksaku," ucap Tristan.
"Tutup dulu pintunya, Sayang."
Tristan menutup pintu, lalu meraih tengkuk Zareena dan mendaratkan kecupan di atas bibir nan menggoda itu.
"Tanggung jawab padaku," ucap Tristan.
"Kau ingin aku melakukannya di sini?" tanya Zareena.
Tristan tidak dapat lagi menahan bibirnya. Kecupan yang mendesak, kuat dan basah ia berikan. Dua indra yang saling bersentuhan, membelit satu sama lain.
"Lakukan, Zareena," pinta Tristan.
"Sepertinya pelayan akan datang membawa jus buah untukmu."
Zareena tersenyum. "Tahan saja, Sayang."
"Sebentar saja." Tristan membuka celananya, lalu menurunkan tubuh Zareena ke bawah. Mendesak bibir wanita itu dengan miliknya. "Ya, begini lebih nikmat."
"Kau berhutang dua kali padaku," kata Zareena.
"Aku akan membayarnya dua kali lipat. Lagian ini ulahmu sendiri yang membuatnya tegang. Sekarang kau harus menenangkan dirinya."
Tengah asik membuat puas Tristan, tiba-tiba pintu diketuk. Suara dari seorang pelayan terdengar dari luar. Zareena yang ingin bangun dari duduk berlututnya tidak bisa lantaran Tristan sudah tanggung berada di puncak.
__ADS_1
"Tuan, Nona," panggil pelayan lagi sembari mengetuk pintu.
"Dia akan curiga," bisik Zareena.
"Jangan dilepas," kata Tristan yang kembali mendesak bibir Zareena dengan miliknya.
Terdengar ketukan lagi serta suara dari Valdo. Sontak Zareena bangkit berdiri dan Tristan berlari menuju kamar mandi.
Zareena menyeka bibir serta merapikan rambutnya sebelum memutar kunci dan membuka pintu.
"Oh, Kakak," ucap Zareena.
"Kenapa kalian mengunci pintu? Pelayan ini membawakan Tristan jus buah," kata Valdo.
Zareena mundur beberapa langkah. "Oh, mungkin tanpa sadar aku menguncinya. Tadi Tristan muntah dan aku membantunya."
"Dia baik-baik saja, kan?" Valdo langsung berjalan menuju kamar mandi, lalu mengetuk pintunya. "Tris, kau baik-baik saja?"
"Oh, Valdo. Jangan khawatirkan aku," sahut Tristan.
"Aku panggilkan kau dokter."
"Jangan! Tunggu sebentar lagi. Aku tengah membersihkan diri."
Zareena mengambil jus buah dari tangan pelayan, lalu meletakkannya di meja. "Karena ada kau, sebaiknya aku pergi."
Valdo mengangguk. "Ya, terima kasih atas bantuanmu."
__ADS_1
Zareena tersenyum, lalu segera keluar dari kamar tamu. Biarkan sisanya Tristan yang menghadapi.
Bersambung