
Baru kali ini Tristan merasa takut menemui kedua orang tua Zareena. Sejak dari rumah, ia sudah mengumpulkan keberanian, tetapi tiba di kediaman Calmington, rasanya keberanian itu lenyap begitu saja.
Tekadnya ciut, padahal malam itu, ia begitu berani mengungkapkan hubungannya bersama Zareena. Sekarang, giliran meminta maaf, Tristan malah ingin waktu terulang pada tempo kemarin. Berputar pada saat hari pertunangan. Sungguh jika sampai itu terjadi, Tristan tidak akan bertindak nekat.
Ia baru menyesal, bahwa tidak sepatutnya ia melakukan itu. Memang apa yang diperbuat jika tidak dipertimbangkan, maka dampaknya akan menyesal di kemudian.
Tristan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Ia menyakinkan diri apa pun yang orang tua Zareena katakan nantinya, ia terima. Rasa bersalah itu terus menghantui, dan kerinduannya pada Zareena sendiri begitu membuncah dalam hati.
Tristan keluar dari mobil. Langkah tegap menghadap penjaga gerbang, memberitahu maksud kedatangannya hari ini. Biasanya Tristan akan masuk saja, tetapi kali ini, ia ingin Henry dan Mary menerimanya untuk bicara.
"Kau disuruh pulang. Mereka tidak ingin bertemu denganmu," kata penjaga ketika menerima jawaban dari nyonya rumah lewat pesawat telepon.
"Izinkan aku masuk saja. Ini penting," desak Tristan. Ia tidak ingin menunda lagi sampai besok. Zareena tidak bisa dihubungi, dan Tristan tidak tahu bagaimana kabar wanita itu.
Kepala penjaga menjorok keluar dari balik jendela pos-nya. "Kau diizinkan masuk, Tuan." Penjaga lalu menekan tombol agar pagar membuka.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucapan yang dibarengi sebuah senyuman.
Langkah Tristan terasa berat. Rumah Zareena terasa jauh dalam penglihatannya. Ingin pulang, tetapi ia sudah terlanjur tiba di kediamanan itu.
Karena kedatangan Tristan telah diketahui, pelayan menyambutnya. Mempersilakannya masuk dan duduk, sementara menunggu tuan rumah menemuinya.
Tristan bangun dari sofa saat melihat kedatangan Henry dan Mary. Wajah masam Mary menandakan betapa bencinya wanita itu padanya. Tristan harap maklum karena dirinya dua keluarga menjadi malu.
"Kau cukup berani untuk datang setelah apa yang kau lakukan pada kami." Mary membuka suaranya.
"Aku akui itu kesalahanku. Zareena tidak mengatakan apa pun. Jika aku tahu dia dijodohkan, maka aku tidak akan membiarkannya menerima Chris," sahut Tristan.
"Aku menyesal. Aku minta maaf atas kejadian ini."
"Kau pikir bisa mengembalikan semuanya? Tamu yang hadir tengah memperolok kami saat ini. Reputasi keluargaku telah hancur dan ini semua karena kau!" Mary meluapkan segala unek-uneknya atas perbuatan Tristan.
__ADS_1
"Aku akan buat permintaan maaf di media jika itu membuatmu puas. Aku sungguh menyesal atas kejadian ini." Tristan mengucapkannya tulus, dan dari nada suaranya, ia begitu menyesal.
"Tidak perlu, Tristan." Henry menyela.
Mary melotot mendengar ucapan suaminya. Seharusnya biarkan saja Tristan melakukan hal itu agar reputasi keluarga terselamatkan.
"Kau tidak perlu melakukan apa pun. Aku hanya minta kau menjauh dari keluarga kami. Itu saja," tutur Henry.
"Itu tidak mungkin." Tristan menolak cepat, lalu berkata, " aku menyadari perasaanku. Aku mencintai Zareena. Kumohon, izinkan aku menemuinya."
Henry menggeleng. "Percuma, Tristan."
"Kumohon Tuan Henry Calmington."
Henry menghela. "Aku sendiri tidak tahu di mana Zareena. Ia pergi sejak kemarin dan belum pulang. Putriku tidak menelepon, juga memberitahu di mana ia tinggal sekarang. Apartemennya kosong, dan ia tidak membawa mobilnya."
__ADS_1
"Ini semua karena kau, Tristan! Sekarang, aku minta kau bawa putriku kembali," titah Mary.
Bersambung