
Zareena keluar dari gerbang rumah, berlari menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari kediamannya. Tristan memang pintar, ia tidak menunggu di tempat yang terjangkau kamera CCTV agar dirinya tidak terlihat dari orang rumah Zareena.
Tristan membuka pintu mobil bagian penumpang. "Masuklah."
Zareena menatapnya. "Hanya satu kali ini."
"Kita akan tahu setelah bicara."
Zareena masuk, lalu Tristan menutup dengan sedikit keras. Zareena bahkan harus memundurkan tubuhnya. Ia tahu kalau Tristan dalam keadaan marah saat ini. Tapi, apa alasannya? Zareena akan melawan jika Tristan sampai perbuat yang tidak-tidak.
Kendaraan roda empat itu segera dijalankan ketika Tristan telah berada di depan setir kemudi. Hening tanpa satu pun yang bicara. Zareena tidak tahu ke mana Tristan akan membawanya, tetapi ia akan ikut ke mana saja, hanya untuk satu hari ini.
Jalan yang begitu familiar, Zareena tahu ke mana mobil ini akan berhenti. Kediaman Tristan yang sudah dua kali ia kunjungi. Kendaraan sedan silver metalik itu masuk ke halaman rumah setelah penjaga membuka gerbangnya melalui sebuah tombol otomatis.
"Turun!" Tristan mengucapkannya dalam penekanan.
Zareena membuka sabuk pengamannya, lalu keluar dari mobil. Ia masih menunggu akan berbuat apa Tristan padanya saat ini. Pria itu keluar, memandang Zareena yang masih mematung di depannya.
"Mau sampai kapan kau akan berdiri di situ?"
"Kita bicara di sini saja."
Tristan menahan kekesalannya. "Kau ingin membiarkan mereka mendengar kita bicara?" sembari menunjuk penjaga rumah.
__ADS_1
"Lebih baik begitu."
Tristan tertawa meremehkan. "Kau takut aku melakukan sesuatu?" Tristan menggeleng. "Baiklah kalau itu maumu."
Tristan berjalan mendekat, ia meletakkan dua tangannya di bahu Zareena. Mencengkeramannya, membuat wanita kesulitan melepaskan diri.
"Lepaskan!"
"Tanganmu tidak bisa menggapaiku. Kau tidak bisa membantingku, Zareena."
"Tapi aku bisa mengunakan kakiku."
Zareena menendang tulang kering Tristan, membuat pria itu meringis sakit, lalu melayangkan tinjuannya, tetapi dapat ditahan Tristan.
Zareena meronta minta dilepaskan, tetapi Tristan telah menguncinya. "Kau sialan!"
"Kenapa kau tidak bicara padaku?"
"Apa yang harus aku bicarakan?"
"Kau membohongiku, Zaree. Kau berbohong padaku!"
"Lepaskan aku, Tristan!" Zareena berteriak.
__ADS_1
Tristan melepas tangannya, ia mundur selangkah. Zareena membalik diri, lalu melayangkan dua tamparan keras.
"Tidak ada yang harus kuberitahu padamu. Kau pasti sudah mendapatkan undangan pertunangan dari Valdo, kan?"
Tristan mengusap ujung bibirnya yang terluka karena tamparan keras itu. "Sebelum kita liburan, kau telah menyetujui perjodohan itu." Tristan menatap Zareena tajam. "Kau tahu, bahwa kau adalah milikku."
"Aku bukan milik siapa pun!" Zareena berkata lantang. "Aku tanya padamu, apa kita punya hubungan? Apa statusku? Aku bukan kekasihmu, aku hanya teman kencan."
"Jadi, kau menganggap kebersamaan kita ini hanya sebuah kencan?" Tristan protes bila Zareena menganggapnya seperti itu.
"Memang itu kenyataannya, kan? Kita hanya teman."
"Tapi aku tidak menganggapnya begitu!" Tristan membela diri. "Aku ingin kita bersama."
"Sebagai apa?" tanya Zareena seraya memandang Tristan lekat.
Satu pertanyaan yang membuat Tristan tidak bisa menjawabnya. Sebagai apa? Apa status hubungan mereka sebenarnya? Tristan tidak menganggap Zareena sebagai kekasih atau pacarnya.
"Chris berniat menikahiku, dan aku menerimanya. Di mana letak salahnya? Kami sama-sama tidak punya pasangan."
"Ini semua karena perjodohan konyol yang keluargamu atur, dan kau malah menerimanya," ucap Tristan.
"Jangan mencoba menghina keluargaku. Mereka memberi pilihan, dan aku menerima pilihan itu."
__ADS_1
Bersambung