
Acara barbeque itu masih berlanjut sampai pada larut malam. Halaman rumah Brian yang luas, membuat mereka berkemah. Colin dan Zareena berada di satu tenda yang sama, sedangkan yang lain, masing-masing dengan pasangannya.
Zareena dapat mendengar suara khas dari sepasang kekasih di tenda sebelahnya, bahkan bayang-bayang dari gerakan mereka terlihat jelas.
Sementara Brian tetap bersenandung dengan membawakan lagu Beautiful In White. Sementara pasangan satunya, tengah asik menyatukan bibir, dan sebentar lagi akan masuk ke tenda mereka.
Lampu kerlap-kerlip sebagai hiasan, langit terang oleh bintang, menambah indahnya malam ini.
Sudah Zareena duga, jika sepasang kekasih itu juga masuk ke tenda mereka, menyusul pasangan lain yang tengah di mabuk asmara, dan sekarang tinggal mereka bertiga karena satu teman wanita Brian memilih untuk pulang.
"Kalian sering mengadakan acara ini?" Zareena memecah keheningan di antara mereka.
Brian berhenti bernyanyi. "Ya, ketika kami sama-sama punya waktu luang. Tempat bergantian, dan sekarang giliran rumahku. Aku senang kalian datang pas di hari ini."
"Sepertinya aku akan betah berada di sini. Rumah yang tenang dan teman yang hangat." Sesungguhnya Zareena mengatakan hal itu karena ia memang tengah lari dari kenyataan yang membelenggunya.
__ADS_1
"Aku mengantuk. Kita pergi tidur saja." Colin menyela obrolan.
"Kau duluan saja. Aku masih ingin di sini."
Colin mengangguk, memundurkan diri dari posisinya. Zareena menyempatkan diri menoleh ke belakang, memandangi Colin yang menarik selimut, memejamkan mata sampai pada kantuk menghampirinya.
"Kau bisa cerita masalahmu, Zaree."
Zareena terkesiap mendengarnya. Tiba-tiba saja Brian berkata demikian. "Tidak ada apa-apa, Brian."
Brian meletakan gitar di sampingnya. "Tidak apa-apa kalau tidak mau berbagi. Kalau kau butuh teman bicara, aku siap."
"Itu artinya dia mencintaimu."
Zareena menggeleng. "Dia mencintai kekasih lamanya. Dia bersamaku hanya untuk menemaninya di tempat tidur."
__ADS_1
"Bukannya ada sesuatu hal yang membuatnya begitu? Colin ingin menjalin hubungan tanpa ikatan apa pun karena ia pernah kecewa. Kurasa pria itu punya alasannya."
"Kau benar, Brian. Alasannya karena ia tidak bisa mencintai orang lain, tetapi membutuhkan kehangatan dari wanita lain. Dia mempermalukan diriku, juga keluargaku. Dia pria yang tidak ingin aku ingat lagi."
"Cepat atau lambat dia akan merasakan penyesalan. Aku yakin pria itu akan mengejar dirimu." Brian mengatakannya seolah ia bisa membaca masa depan Zareena. "Jika kalian sudah bersama, dan dia marah kau bertunangan dengan pria lain, kurasa dia mencintaimu, tetapi belum menyadarinya."
Zareena mengangkat bahu. "Entahlah, aku bahkan tidak bisa mengetahui apa mau Tristan sebenarnya."
"Ada bagusnya kau berada di sini. Kau tenang saja, aku akan selalu menghiburmu." Brian meraih gitarnya lagi. "Istirahatlah, Zaree. Aku akan menghiburmu."
Zareena mengangguk, ia masuk dengan menutup tenda. Kemudian merebahkan diri di samping Colin yang sudah terlelap.
Suara merdu Brian mulai mengalun lagi. Kali ini ia membawakan lagu When you say nothing at all. Zareena tersenyum mendengar lagu itu, juga merasa ketenangan setelah menceritakan masalahnya.
"Tidak perlu berlarut dalam kesedihan, Zareena. Dia tidak pantas untuk kau ratapi," gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Sementara Brian, betah berbaring di ayunan sembari memetik gitar dan memandangi ribuan bintang di langit.
Bersambung