
Zareena bukan takut untuk bertemu Tristan, tetapi ia sungguh tidak ingin membuat masalah. Untuk itu, Zaree enggan keluar rumah. Sementara Chris tetap sibuk demi hari liburnya.
Lagi pula, Zareena harus tetap di rumah demi mempersiapkan semua. Kediaman Calmington sudah ramai pelayan yang membantu. Rumah mulai dibersihkan, terutama bagian taman belakang. Kolam renang juga sudah diganti airnya.
Wedding organizer yang disewa mulai mencicil untuk pekerjaan mereka. Bunga-bunga plastik ditata dan lampu kerlap-kerlip juga mulai dipasang.
Sementara Zareena masing bingung memutuskan untuk memakai gaun yang mana. Ada banyak pilihan yang malah membuatnya semakin pusing memilih.
Mary masuk begitu saja ke kamar putrinya. Saat ini, Zareena tengah mencoba make up yang akan ia kenakan pada malam besok. Ada juga sang menantu, Belva. Serta dua penata rias.
"Kau semakin cantik, Sayang. Mama yakin Chris akan jatuh cinta padamu." Mary memeluk putrinya yang duduk di depan meja rias.
"Apa make up flawless ini cocok?" Zareena membelai wajahnya yang telah dirias.
"Kau sangat cantik." Mary mengecup kening putrinya sebagai tanda sayang.
__ADS_1
"Kurasa make up bold cocok. Karena pestanya malam hari."
"Ini sudah pas. Jangan pakai lipstik matte, karena itu akan membuatmu terlihat tua. Warna gaunnya sudah gelap." Yang Mary tahu, Zareena memilih gaun warna merah maroon berpotongan sabrina.
"Bagaimana kalau warna putih saja?" Zareena menunjuk gaun panjang yang tergantung.
"Warna peach bagus, Zareena. Sangat cocok bila dipakai make up soft." Belva menyahut.
Zareena bingung memilih gaun untuk ia kenakan. "Rasanya warna peach membuatku seperti anak remaja."
"Pakai warna merah marron saja. Kau terlihat sempurna dalam balutan itu." Mary menimpali.
"Dia menyukai warna putih," jawab Zareena. "Aku tidak memakai warna itu karena saat menikah nanti, gaun putih tetap aku kenakan."
"Sudah, sudah." Mary menengahi. "Apa pun warna pakaiannya, kau tetap cantik, Sayang. Semua mata akan tertuju padamu besok malam."
__ADS_1
Zareena tersenyum mendengar ucapan ibunya. Tercetak jelas rona bahagia di wajah Mary, dan Zareena telah mewujudkan impian dari orang tuanya.
Namun, pikiran Zareena tiba-tiba mengarah pada Tristan. Sampai sekarang pria itu tidak bertindak apa pun, bila menginginkan pertunangan ini batal.
Zareena merutuk dirinya sendiri dalam hati. Mengapa juga ia percaya pada apa yang Tristan katakan. Tristan hanya pria pencundang yang banyak bicara. Sedari awal tidak ada rasa suka atau cinta di antara mereka.
Soal rambut kau ingin gaya apa?" tanya Belva.
"Menurut Mama bagaimana?" Zareena balik bertanya.
"Karena gaunnya model sabrina, disanggul sepertinya cantik. Lehermu akan terlihat jenjang, Sayang," jawab Mary.
"Kurasa begitu. Kita coba dulu tatanan rambut sanggul." Zareena menyuruh penata riasnya untuk menata rambut sesuai yang ia inginkan.
Di sisi lain, Tristan telah menyiapkan sebuah hadiah untuk Zareena. Ia tidak sabar untuk hadir pada besok malam. Untungnya kertas undangan itu tidak dibuang oleh OB di kantornya. Meski terlihat kusut, tetapi itu bisa ditunjukkan sebagai bukti kalau ia diundang untuk menghadiri pesta pada besok malam.
__ADS_1
"Kau menantangku Zareena. Kita lihat apa kau bisa menunjukkan wajah cantikmu itu di depan calon suamimu besok malam." Tristan meneguk minuman beralkohol langsung dari botolnya. "Lihat saja pertunjukkan yang akan aku lakukan."
Bersambung