My Hot Baby

My Hot Baby
Tahu Diri


__ADS_3

Zareena kembali lagi ke rumah yang memberinya pengalaman tidak terlupakan. Tristan menyuruh pelayan mengangkat koper serta membawa adik sahabatnya ke kamar yang dulu wanita itu tempati.


Hubungan mereka tidak baik dan saat ini Zareena juga mengkhawatirkan keadaan kedua orang tuanya. Valdo mengirim pesan singkat jika dirinya dan Belva akan segera berangkat ke Amerika.


Zareena meneleponnya, tetapi Valdo tidak mengangkat. Bahkan Zareena menghubungi kedua orang tuanya saja tidak bisa. Sebenarnya apa yang terjadi? Zareen sangat penasaran dan ingin sekali menyusul ke Amerika. Namun, ia tidak punya kelengkapan dokumen dan tidak mudah mendapatkan izin ke Amerika sana.


Pusing sendiri akhirnya, Zareena tertidur pulas. Pintu kamarnya dibuka. Tristan melangkah perlahan menghampiri wanita yang telah mengisi hatinya itu.


Tristan membungkuk, mendaratkan satu kecupan di kening kemudian ia lekas pergi dari sana. Wanita yang begitu ia rindukan berada di dekatnya. Ia tersiksa ketika tidak dapat mendengar suara dari perempuan itu. Namun, ia juga enggan untuk mengalah atau mengemis pada Zareena.


Makan malam tiba, Zareena diundang ke ruang makan. Di sana juga sudah menunggu Tristan. Atas perintah dari pria itu, makanan dihidangkan. Suasana menjadi canggung. Zareena jadi susah menelan daging yang masuk ke mulutnya.


"Kau akan aman di sini," ucap Tristan.


Zareena meliriknya. "Terima kasih telah menampungku. Aku bisa menjaga diri."


"Aku hanya memenuhi permintaan kakakmu."


"Jadi, kau tidak akan membantu jika itu bukan kakakku yang meminta?" tanya Zareena.


"Bersikaplah sebagai tamu. Jaga perangai dan bicara. Tuan rumah bisa saja mengusir orang itu bila ia tidak senang," ucap Tristan.

__ADS_1


"Tamu itu bahkan ingin pergi sekarang juga. Siapa yang tahu jika peneror itu ada di sini."


Tristan menyunggingkan bibirnya. "Perlu kuingatkan bahwa tidak ada yang datang ke rumah ini selain dirimu. Bahkan Valdo hanya pernah menginjakkan kakinya di teras depan saja."


"Jadi, ini pilihan aman yang kakakku pilih?"


"Sebaiknya kau harus bersabar. Untuk beberapa saat kau akan tinggal di sini sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kau tidak boleh keluar tanpa izin dariku," kata Tristan.


Zareena menatap lekat Tristan. "Kau ingin mengurungku?"


"Bukan aku, tetapi kakakmu akan membuat perhitungan jika sampai lengah mengawasimu."


"Aku bukan anak kecil!" kata Zareena


"Kau ingin aku menjadi pelayan?"


"Sudah kubilang dari awal, sadar diri jika kau menumpang. Di rumah siapa pun itu, kau juga akan diperlakukan seperti ini. Tahu diri sedikit itu penting," ucap Tristan, lalu beranjak dari duduknya.


Zareena terperangah sembari menatap Tristan yang melangkah keluar dari ruang makan. Ya, saat ini Zareena memang menumpang dan ia harus tahu diri.


"Apa Nona sudah selesai?" tanya pelayan.

__ADS_1


"Iya, biar aku bantu," kata Zareena.


"Tidak perlu, Nona. Ini tugas saya."


"Tidak, aku juga turut menumpang di sini," ucap Zareena.


"Nona Zareena," tegur pelayan wanita satu lagi.


"Ya, ada apa?"


"Tuan Tristan ingin dibuatkan minuman cokelat panas."


"Dia menyuruhku?" Zareena menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, Nona. Nanti diantarkan saja ke kamar beliau."


Zareena memasang senyum manis. "Baik, aku akan segera mengantar minuman itu. Oh, apa majikanmu perlu cemilan juga?"


"Biskuit asin bagus untuk pelengkap."


"Bawa aku ke dapur kalian," kata Zareena.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2