
Brian meringis pelan ketika Zareena menyentuh luka di wajahnya. Sialan benar Tristan yang memukul dirinya di tengah kenikmatan yang membelit. Setidaknya pria itu menunggu dulu sampai ia dan Zareena selesai menyatukan bibir. Sekarang, Brian tidak dapat lagi mengulangi moment seperti tadi. Sudah pasti Zareena akan memukulnya kalau ia minta lagi.
"Tahan sedikit. Memar begini saja bukan apa-apa." Zareena kembali menekan kapas pada memar di bibir Brian.
"Dia memukulku dengan keras tadi." Brian kembali meringis sakit saat kapas kecil itu menyentuh wajahnya.
"Kenapa kau meladeninya?"
"Dia memukulku, dan aku harus membalasnya. Aku tidak mau rugi," gerutu Brian. "Mata harus dibayar mata. Gigi harus dibayar gigi. Begitulah pepatah yang sering kudengar."
Zareena menjauhkan tangannya. Membereskan kotak obat, lalu membuang kapas bekas pakai dalam kantung plastik. "Aku sudah selesai. Sebaiknya kita lekas pulang."
"Kita belum makan apa pun. Perutku lapar. Bisakah malam ini aku makan di tempatmu?"
Zareena menatap Brian. Benar-benar seperti anak kucing yang meminta makan pada induknya. Wajah Brian tampak memelas agar Zareena dapat mengizinkannya.
"Baiklah, tapi hanya makanan seadanya."
__ADS_1
Brian mengangguk cepat. "Asal bersamamu, makan apa saja aku mau."
Lagi-lagi Brian mengatakan kalimat gombalan. Brian lucu, tetapi dia bukan tipe pria yang Zareena suka. Brian lebih cocok menjadi seorang teman dibanding kekasih.
Sampai di kediaman Smith, Zareena dan Brian langsung naik ke lantai atas. Untuk kedua kalinya Brian bertamu ke kamar ini. Kalau Zareena mengizinkan, ia ingin tidur di sini.
"Kau duduklah, aku siapkan makan." Zareena langsung berjalan menuju dapur sederhananya. Mencuci tangan dulu, memakai celemek, lalu mulai mengolah makanan.
Meski ruangan itu kecil, tetapi Tuan Smith menyediakan peralatan lengkap. Ada kulkas mini serta oven pemangang. Zareena bisa menghangatkan makanan beku di dalam, seperti saat ini.
"Jadi, dia pria itu?"
"Dia ada di sini. Itu Artinya, dia memang datang untukmu."
"Aku tidak tahu bagaimana bisa dia di sini. Aku tidak lagi menghubungi keluargaku dan sudah mengganti nomor telepon juga."
Brian menyahut, "Kurasa dia mencarimu, Zaree. Sekarang bagaimana? Tidak butuh waktu lama untuk Tristan mencapai kemari."
__ADS_1
"Aku tidak pernah lari darinya, Brian.
"Kau melarikan diri, Zaree. Jika kau terus menghindar, maka ia terus mengejarmu."
"Maksudmu, aku harus menghadapinya?"
Brian mengangguk. "Begitulah. Tanya saja apa yang ia inginkan."
"Sudahlah, sekarang kita makan saja. Jangan lagi membahas Tristan."
Zareena mengeluarkan pasta dari oven yang tadi ia hangatkan. Ditambah daging cincang, maka itu cukup untuk menu mereka malam ini.
Selesai makan malam bersama, Brian langsung pulang ke rumah. Tinggal Zareena sendiri yang membereskan wadah makan yang telah dipakai.
Ia ingat pada omongan Brian. Tristan sudah di sini, berarti kemungkinan besok, pris itu bisa saja berada di depan pintu kamarnya.
"Sebenarnya dia mau apa, sih? Dia bilang punya perasaan yang sama denganku?" Zareena menggeleng. "Tristan pasti ingin balas dendam karena aku berhasil menghancurkan kenangan Lily waktu itu. Dia tidak mungkin tiba-tiba menyukaiku."
__ADS_1
Jika Tristan menemuinya lagi, Zareena akan menghadapinya. Menanyakan apa niat dari pria itu itu sebenarnya. Zareena tidak akan terjebak atas pesona Tristan untuk kedua kalinya. Tidak akan!
Bersambung