My Hot Baby

My Hot Baby
Puas


__ADS_3

Tubuh Zareena bergetar hebat saat Tristan tiba-tiba memeluknya dari belakang, kemudian mengecup daun telingannya.


"Kau melamun."


Keduanya telah sampai di kamar hotel, dan sama-sama sudah membersihkan diri dari acara makan malam bersama.


Tristan menyibak rambut panjang istrinya ke sisi lainnya. Mendaratkan kecupan pada pundak yang lembab itu. Perlahan tangannya naik ke atas, lalu melepas handuk yang masih melindungi tubuh Zareena.


"Sayang ...." Tristan menegur lagi, tetapi diselingi dengan kecupan di bawah telinga.


Zareena bergumam lirih. Hasratnya bangkit karena sentuhan itu. "Aku hanya membayangkan ekspresi orang tua dan kakakku saja. Kau sudah membuat kekacauan saat itu."


"Tapi itu juga karena dirimu tidak jujur."


Tristan mengusap pada bagian padat. Menarik ujungnya, mencubit yang membuat Zareena tidak tahan untuk membenamkan bibirnya pada sang suami.


"Karena kau bilang tidak ingin menikah." Zareena memprotes karena disalahkan.


"Aku menyesalinya." Tristan membalik tubuh istrinya.


Keduanya saling menghadap. Tristan kembali mengecup bibir lembut itu, sementara Zareena, dengan nakal melepas handuk yang masih melilit pinggang Tristan.


Mengusap area yang mulai menegang. Masih terasa dingin saat Zareena mengelus di sepanjang ketegangan itu. Namun Tristan, merasakan kehangatan.


"Saat dia merasakan tanganmu, dia mulai tegang sempurna, kan?"

__ADS_1


Zareena menampar pelan benda jahil itu. Tristan bersuara yang mengundang bangkitnya gairah. Zareena menamparnya beberapa kali, dan area itu semakin tegang saja.


"Bersama wanita lain dia juga tegang."


"Jangan sebut wanita lain, Sayang. Ini antara kita berdua. Kau dan aku." Tristan mengecup sekilas bibir istrinya, kemudian perlahan membuat Zareena turun berlutut. "Dia belum merasakan bibirmu."


Zareena menggigit ujung bulatannya. "Kau akan kupuaskan malam ini."


Tristan terkekeh mendengarnya. Lalu suaranya berubah menjadi berat ketika merasakan hangatnya bibir dalam Zareena.


Seperti menikmati es krim cokelat yang nikmat. Zareena menyusuri sepanjang ketegangan itu dengan lidahnya. Membelit, mencucupnya, lalu memperlakukannya seperti ia tengah mengguncang sebuah botol sampanye, kemudian meneguknya.


Tristan mengumpulkan rambut Zareena menjadi satu, membelai pipi istrinya, lalu menggerakan pinggulnya. Milik Tristan tidak bisa sepenuhnya masuk karena ukuran itu akan merobek mulut Zareena. Setengah saja istrinya sudah kewalahan.


"Kenapa dia begitu angkuh? Dia seperti raja saja yang tidak ingin ditaklukkan."


"Karena dia hanya bisa takluk pada ratunya. Kau rasakan bagaimana dia masuk."


Tristan menyandarkan Zareena di dinding. Mendesak dengan kekuatan yang sedemikian rupa. Zareena melipat bibir. Ini sama saja ia kalah jika sudah merasakan guncangan dalam tubuhnya.


"Bagaimana?" Tristan menyempatkan diri untuk bertanya.


"Masih perlu dijelaskan?"


Tristan mengangguk. "Jelas saja rasanya enak."

__ADS_1


"Kau bisa mengatakan kepadaku kalau kau menginginkan gaya yang berbeda."


"Kau tidak keberatan?"


"Tentu saja tidak. Aku ingin kita sama-sama merasakan kepuasan." Kembali Tristan mengecup bibir itu.


"Luar biasa kalau kau menghadiahkan lidahmu di sela guncangan ini."


"Kau akan mendapatkannya, Sayang."


Tristan merebahkan tubuh Zareena ke atas tempat tidur. Ia menghadiahkan sapuan lembut pada kelopak bunga yang tengah merekah itu.


"Sial! Kenapa ini terasa sangat nikmat." Zareena menjerit lirih.


Tristan menarik kepalanya, lalu mendesak kembali. Zareena menarik apa saja agar bisa bertahan terhadap guncangan yang suaminya berikan.


"Kau suka?"


Zareena mengangguk. "Ya, sangat suka. Lagi, Sayang. Lebih keras lagi."


Tristan tertawa ketika deruan bunyi dari dua tubuh mereka terdengar. "Kau sudah keluar. Lihat ini, dia menjadi licin."


"Karena kau terlalu pandai bermain."


"Berbalik, biar aku tuntaskan ini."

__ADS_1


Zareena membalik dirinya. Tristan mendesak lagi dari belakang. Mengguncang lebih keras dan cepat sampai puncak kepuasan itu ia dapatkan.


Bersambung


__ADS_2