My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 10 Merayu Boss


__ADS_3

“Apa yang……” Victon membelalak begitu pula dengan beberapa orang di sana. Semua bisa melihat dengan jelas saat peluru menembus dinding kaca tersebut . Di sertai rasa khawatirnya, secepat mungkin Victon menghampiri Valerie yang sudah bersimpuh di lantai.


“Valerie!!”


...🌸🌸🌸...


“Please!! Don’t leave me….”


“Pak, saya tidak apa-apa.” Jujur saja Valerie risih melihat Victon yang berlebihan seperti ini. Seharusnya ia terharu, tapi nyatanya tidak. Padahal peluru tadi hanya menyerempet dan tidak benar-benar menembus lengannya. Victon mengira jika Valerie akan segera mati karena luka tembak itu.


“Apanya yang tidak apa-apa, ini berdarah gini.”


“Iya berdarah, tapi lukanya tidak parah. Itu pelurunya nancap di sana.” Valerie menunjuk kaki sofa yang bolong akibat peluru yang melesat tadi. Tebakannya memang tidak meleset, ia yakin jika penembak jitu itu masih amatir atau mungkin hanya abal-abal saja. Valerie juga tidak sebodoh itu sampai menghindar pun tidak bisa. Namun, Victon masih mengira jika ia berbohong.


“Terus, kenapa ambruk di lantai begini? kukira kamu pingsan tadi.”


“….semutan.” gumam Valerie tidak jelas.


“Apa?”


“Kesemutan!! Kaki saya kebas kelamaan berdiri!!.” Ucap Valerie dengan lantang. Hal itu tentu saja mengundang gelak tawa di ruangan itu. Baru kali ini melihat seorang wanita yang begitu santai saat kena luka tembak, dan itulah Valerie. Luka di hati saja ia sudah pernah merasakan, baginya ini tidak seberapa.


Sayang sekali ucapannya tidak di indahkan. Sudah berkali-kali jika ini hanya luka kecil, namun Victon menganggapnya seolah nyawanya akan melayang. Terpaksa lah Valerie menuruti kemauan Victon untuk menerima perawatan di rumah sakit


Sampai di rumah sakit, Valerie segera mendapat pertolongan. Namun Victon belum selesai berulah, Ia ingin Valerie di rawat inap, sedangkan dokter mengatakan jika tidak perlu. Luka kecil itu sudah di sterilkan dan terbalut perban jadi tidak perlu mendapat perawatan intensif.


“Apa kalian tidak bisa melihat jika dia sangat kesakitan? Aku bisa membeli rumah sakit ini jika perlu, pokoknya berikan perawatan terbaik untuk gadis ini!!”

__ADS_1


Victon benar-benar membuat Valerie mengurut pelipis kepalanya. Sejak tadi pria itu berteriak dan membuat telinganya berdenging. Sangat kesakitan katanya? Mungkin Valerie perlu mengangkat barbel demi membuktikan jika ia sangatlah baik-baik saja.


“Pak, sudah. Jangan ganggu dokternya. Saya sungguh baik-baik saja…lihat ini!!”


Tuing…tuing…


Valerie melompat-lompat dan squat jump di tempat demi membuat Victon percaya. Aneh sih, yang terluka tangan bukan bagian kaki. Wajar saja Victon memasang wajah sangarnya membuat Valerie bergidik ngeri seketika. “Oh ayolah, gimana cara merayu pria ini?” batin Valerie seraya menggigit jari. Ia tidak mau di rawat hanya karena sebuah goresan di tangan.


Ting…💡💡


Tiba-tiba muncul lah ide ajaib yang Valerie yakini akan berhasil. “Bismillah…” Alangkah baiknya ia berdoa dahulu sebelum melakukan ide gila ini.


Satu…


Dua…


“euuuunggggg…..kakak..!! atu udah cembyuhh. Hayuk pulang aja, atu nggak mau di cini lama-lama, eung!!.” Dengan nada di buat-buat dan keimutan di wajahnya, Valerie memeluk Victon yang kini melongo. Bukan hanya Victon, dokter dan para perawat pun menganga lebar.


Blusshhhh…


“Mamp*s!! aku berlebihan kayaknya, ini gara-gara idenya si Rara nih.” Gerutu Valerie yang wajahnya kini sudah semerah cabai keriting. Rara sering meracuninya dengan berbagai drama yang di tontonnya. Dan anehnya, salah satu adegannya Valerie gunakan untuk meluluhkan hati pria keras kepala ini.


Bagaimana caranya bersembunyi? Valerie tidak mampu jika harus menunjukkan wajahnya lagi. Hilang sudah image coolnya itu dan kini menyesal telah berani berperan menjadi wanita manjahh yang sama sekali bukan dirinya.


“Pffttt..kamu mau menggodaku, hmm?” Victon mengembungkan pipinya dan susah payah menahan tawa.


“Nggak!!” Sergah Valerie dan dengan cepat melepaskan pelukannya.

__ADS_1


.


.


.


Di dalam mobil…


“Kakak atu nggak mau di cini lama-lama eung!! Mau liat lagi dong, coba acting begitu lagi.” Menjengkelkan. Valerie kini di olok habis-habisan oleh Victon dan tentu saja ia sangat malu. Rasanya ingin melompat dari mobil itu sekarang juga.


“Ck.”


Valerie berdecak sebal kala Victon mengacak rambutnya seraya tertawa renyah. Jangan di tanya sesebal apa Valerie saat ini hingga kacang beserta kulitnya ia kunyah begitu saja. Renyah dan gurih bercampur menjadi satu sama seperti renyahnya pria itu tergelak.


hahahaha...


Manis, baru kali ini ia melihat bossnya tertawa selepas itu. Tanpa paksaan dan benar-benar murni. Valerie merasakan debaran jantungnya kini kian menjadi-jadi kala matanya melirik senyum lebar itu.


“Sadar val…sadar!!” Valerie menggelengkan kepalanya seraya merutuki diri sendiri karena sempat tergoda dengan gigi putih yang nampak saat Victon tertawa.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2