
Pagi itu....
Kediaman utama Ghaffari....
Di kebun binatang belakang rumah ...
Hari pun berganti. Semua nampak seperti biasa pada awalnya. Namun, yang namanya manusia pasti bisa berubah. Tidak banyak, tapi pasti ada.
"Aku takut. Gimana kalau kakak nggak merestui hubungan kita?" Ucap Zoeya dengan ponselnya. Sedangkan jemarinya bermain dengan Leo.
"Kamu lebih khawatir sama kakakmu?"
"Iya. Kalau mama-papa mah gampang. Tapi kak Victon tuh keras kepala, kalau dia udah membuat keputusan orang tua aku aja nggak bisa apa-apa."
"Matilah aku......gimana aku yang ketemu dia setiap hari, by."
"Pokoknya cari cara! kita harus yakinin kak Victon, kamu nggak nyerah gitu aja kan?"
" Ya nggak lah."
" Okay kalo gitu nanti lagi ya, love you by mmuuuaaaachh." Zoeya memonyongkan bibirnya.
"Ehem..... waaaahhh, Zoeya punya pacar nih?"
Zoeya terhenyak kemudian segera mamatikan ponselnya dan menyembunyikan benda itu di belakang. "Hehe kak Val? Dari kapan di situ?" Zoeya salah tingkah sendiri, beruntung sekali bukan Victon yang memergokinya.
"Dari, kak Victon tuh keras kepala bla...bla..." jawab Valerie santai. Ciki di tangannya sudah berkurang setengah karena mulut Valerie tak berhenti mengunyah.
Ya, apa lagi kegiatannya. Selain mengurus kebutuhan suami, semua di lakukan oleh pengurus rumah. Bagitulah kehidupan bak tuan putri seperti Valerie kini.
Apalagi semenjak keguguran, semua orang di keluarga itu tidak membiarkan Valerie melakukan pekerjaan apapun. Bahkan untuk kegiatan olahraga favoritnya, Valerie tidak di perbolehkan. Katanya, nanti tubuhnya kelelahan dan macam-macam lainnya.
"Berarti sama aja dengar dari awal dong?" pikir Zoeya resah. "Kak, jangan kasih tau siapapun ya please. Apalagi kak Victon."
"Kenapa?"
" Dia bawel banget. Aku nggak mau hubunganku hancur."
__ADS_1
"Seorang kakak nggak mungkin begitu, Zoe. Masa iya dia tega bikin adiknya terluka." Valerie memang tidak tahu menahu seberapa dekat hubungan Victon dan adiknya itu. Tapi yang jelas, Victon sangat menyayangi sang adik meski caranya terkadang sedikit luar biasa.
"Susah di jelasin. Intinya jangan sampai, atau nggak aku aduin rahasia kakak sama kak Victon."
"Oh, jadi ngancem nih?" Valerie menyeringai dengan ekspresi menantang. Dia suka tantangan maupun di tantang, ini adalah hal menarik. "Aku nggak punya rahasia apa-apa tuh." Sergahnya lagi.
"Ada. ....itu." tunjuk Zoeya pada makanan ringan di tangan Valerie.
"Ini? emang kenapa?"
"haha jangan pura-pura nggak tau kak. Aku tau kalo kakak makan itu ngumpet-ngumpet. Kak Victon kan nggak ijinin Kak Val makan sembarangan, apalagi ciki-cikian begitu." Ucap Zoeya percaya diri.
Tidak salah sih, tujuan Valerie berada di halaman belakang ini karena menghindari hal yang di katakan si adik ipar.
"Nggak tuh." Ucap Valerie lagi mengelak.
"oke. Aku buktiin ya.....KAK VICTOOONNNN !!! KAK VAL MAKAN CIKI JAGUNG BAK.....emmpppp."
Secepat kilat Valerie membekap mulut bak TOA itu "Sssssstttt!! dasar ember bocor. Minta di vacum tuh mulut, oke....oke...kakak janji nggak bilang-bilang!!."
"iya."
"janji?"
"iy...."
"Janji apa?" Belum selesai Valerie bicara, seseorang mendahuluinya. Gawat!! suara bariton itu, Valerie sangat tahu siapa pemiliknya.
Perlahan ia menoleh dengan lirikan mata yang menarik hati. Menyadari Victon tak jauh di sana, langsung saja Valerie melempar bungkus cikinya pada Zoeya.
srakk....
"Kak Val ih!! "
"Dia, bukan aku. Aku nggak makan apa-apa." Valerie menunjuk Zoeya yang kini terpaku tengah memegang bungkus Snack jagung tadi. Bohong tentu saja. Mana mungkin Valerie jujur, yang ada tamat riwayatnya nanti.
Victon hanya tersenyum. Siapapun yang melihat pasti tahu jika mulut Valerie tengah berbelok. Sisa bubuk terlihat jelas di sudut bibir nya, tapi Valerie masih bisa berkilah dan menuduh Zoeya.
__ADS_1
"Zoe? apa iya?" Victon bertanya tanpa menatap Zoeya. ia sibuk menyeka sisa bubuk itu di bibir istrinya tanpa peduli apapun jawaban adiknya. Lucunya, Valerie sempat menjilat ujung bibirnya seolah-olah tidak ingin menyia-nyiakan barang sedikit saja.
"i...iya kak." Zoe terpaksa berkata iya karena tatapan tajam Valerie sangat menyeramkan.
"Bukankah berbohong itu dosa, iya kan sayang?" Victon mengikis jarak kemudian meraih pinggang istrinya.
"jangan tinggalin aku, Zoe!" Bisik Valerie sedikit kuat. Memang adik laknat, dia lempar batu sembunyi tangan setelah membuat Valerie terjebak.
"Bye...bye. semangat kak Val." Zoeya melambaikan tangan dan tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan hawa di sekitar Valerie semakin dingin saja.
"Kamu tau kenapa aku melarang makan itu?" tanya Victon dingin tanpa melepaskan tangannya.
"i ..iya tau."
" Nggak sehat sayang. Kita kan lagi program, atau kamu emang nggak mau, hm?" Tiba-tiba saja Victon merubah nada bicaranya amat lembut. Siapa yang tidak luluh jika begini? Tapi Valerie tak bisa menahannya karena makanan sehat yang di tentukan suaminya terasa hambar.
"Aku mau!! Tapi, aku juga mau itu." Yang di ajak bicara siapa, tapi yang di tatap kemana. Valerie lebih tertarik dengan bungkus snack yang kini tergeletak di tanah karena Victon membuangnya begitu saja.
Tak hanya itu, Valerie menjilat lagi bibirnya seolah Snack itu lebih menggiurkan daripada suami tampannya itu.
"Boleh ya? 1 aja..." Jurus andalan puppy eyes pun di keluarkan hingga akhirnya Victon menghela napas.
"1 bungkus aja, titik." Tegas Victon.
" Nggak!! 1 pack!"
"Apa?"
.
.
.
.
-To Be Continued-
__ADS_1