My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 53 Saturnus


__ADS_3


Face to face. Di bawah penerangan lampu kamar itu, perbincangan terjadi antara Victon dan Valerie. "Kamu tau, kenapa aku pilih Saturnus yang jadi pelita kamar kita?" Tanya Victon yang sejak tadi kepalanya amat nyaman bersandar di tubuh bagian depan istrinya.


"Nggak tau."


"Karena dia paling indah di antara planet yang lain, sama sepertimu." Ucap Victon pelan. Ia semakin nyaman kala jemari lentik Valerie memainkan rambutnya.


"Kamu nyamain aku sama planet?!!"


"Maksudku, kamu yang terindah di hatiku sayang." Victon gemas sendiri dengan pertanyaan asal Valerie. Sejak tadi ia sangat tahu jika Valerie tidak mau membahas hal lain di luar keinginannya. Jelas saja Victon sengaja mengulur waktu agar sang istri lupa tujuan awal musyawarah ini.


Tumben kata-katanya benar, pikir Valerie. Sebuah pujian karena ini pertama kalinya Victon pandai merangkai kata-kata, meski harus menggunakan objek lain. Eits, jangan di kira Valerie lupa. Dia tidak akan di bodohi untuk kali ini.


Janji tetaplah janji, karena baru beberapa saat lalu kata itu terucap dan saat ini Valerie ingin menagihnya. "Jangan berbelit. Jelasin ke aku, apa maksud dari foto dan kertas itu. Awalnya, ku pikir kamu selingkuh." Valerie sedikit menarik rambut suaminya hingga mendongak.


"Dia gigih rupanya. harus mulai dari mana nih?" Nampak gurat kebingungan dari wajah Victon dan itu jelas terlihat di mata Valerie. Tatapan mereka saling bertemu dalam keheningan kamar siang menjelang sore.


"Apa imbalannya?"


Valerie menautkan alisnya seraya menghela napas pelan. "Ck, jangan harap bisa menyentuhku kedepannya!!" Ancam Valerie yang kemudian menyingkirkan kepala Victon dari dadanya.


"No!! oke aku cerita sekarang!!"


Baru hendak beranjak, Victon sudah terperangkap lagi. Valerie pun tersenyum tipis, ternyata semudah itu mengancam boss garang yang suka mendominasi itu.

__ADS_1


Detik berganti menit, Valerie memperhatikan dengan serius setiap gerakan mulut Victon. Di iringi debaran jantungnya yang tak menentu, Valerie berusaha tetap tenang meski nyatanya tidak bisa.


Sulit di percaya akan semua fakta tersebut. Valerie sangat tahu seberapa besar kekuasaan keluarganya, namun masih sulit di percaya jika hal itu membawa malapetaka.


"Jadi, ada kehancuran di balik kehancuran. Begitu maksud kamu?" tanya Valerie seraya membenahi duduknya.


"Yup, kita masih belum tahu karena orang itu berada di antara keluargamu. Ada semacam dendam besar dan aku juga bingung kenapa keluargaku di bawa-bawa juga." Jelas Victon.


"Udah ku duga, kematian mama juga aneh banget. Mama nggak mungkin selemah itu sampai harus bunuh diri. a..aku..." Valerie lemah jika berkaitan dengan sang mama. Ia tak sanggup mengulik pengalaman pahit itu lagi dan kini ia hanya bisa pasrah bersandar di tubuh suaminya.


hiks...


"Sssttt i'm here." Sebagai seorang suami, Victon hanya bisa menjadi penopang bagi sang istri. Terlahir di dalam keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang, jelas saja ia tidak pernah mengalami masa-masa pilu seperti Valerie.


Gadis malang yang menjadi tumbal dalam permusuhan masa lampau keluarganya. Valerie tidak bersalah di sini. Namun, sebagai ahli waris satu-satunya tentu saja membuat hidupnya selalu berada di ujung tebing.


deg...


Victon tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba saja sudah beralih topik hingga tubuhnya merinding saat mendengar pertanyaan dari mulut sang istri.


Ya, Victon juga mengakui dan tidak bisa mengelak . Dia bersalah dalam hal ini karena rencana konyol demi membuat Valerie berada dalam genggaman tangannya. Setidaknya semua itu berhasil, iya kan?.


"I love you, my Sweety wife."


cup...

__ADS_1


" Aku nggak butuh jawaban itu." Kesal sekali dengan tindakan bebas Victon terhadap bibirnya. Valerie sedang tidak dalam suasana hati ingin beromantis ria, tapi Victon selalu berhasil curi-curi.


"Kamu aman bersamaku karena aku akan selalu melindungi harta berhargaku ini." Ucap Victon dengan tangannya yang menarik dagu istrinya. "Cukup percaya sama kemampuan suamimu, okay?" Ucapnya lagi dan kini menggesekkan hidung bangirnya dengan hidung Valerie.


Napas keduanya amat terasa menyapu kulit wajah tegas itu. Valerie membisu, sementara Victon memandangi wajah cantik istrinya semakin lekat dan dalam.


Kini, tangannya bertindak penuh kelembutan mengusap dan menelusuri area wajah hingga leher mulus istrinya Semakin turun ke bawah dengan sapuan halus jemari kekarnya..


Valerie meremang. Posisi mereka hampir tak berjarak hingga dia bisa mencium aroma tubuh khas milik Vocton. Cup...saat tiba-tiba penyatuan bibir itu terjadi, Valerie hanya memejam seraya menikmati. Jauh merasuk ke dalam tubuhnya seperti sengatan listrik.


Namun, getaran itu semakin menjadi kala sesuatu bergerak menelusup ke dalam celananya. Sontak saja, Valerie membuka matanya.


plak....


"Jangan usil!! pinggangku encok dan itu-nya masih sakit gara-gara kamu!!." Gerutu Valerie seraya memukul pelan tangan nackal suaminya.


"Maaf. Coba liat mana yang sakit? Kata sohibku, semakin baik kalo sering di coba."


"Coba aja kalau mau ku smackdown!!" Ancam Valerie dengan menodongkan bogem mentahnya yang malah membuat Victon terkekeh lucu.


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2