
Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Akhirnya, setelah menunggu 1 jam lebih, nasi kuning itu benar-benar jadi. Untung saja, yang memasak adalah koki lokal yang entah kebetulan atau apa Victon sudah mempersiapkan semuanya.
"Ini nyonya."
"Waaahhhhhh, terimakasih."
Sepiring nasi kuning berserta lauk-pauknya yang lengkap begitu menggugah selera. Tidak sungkan lagi, Valerie langsung menyantap makanan itu seperti orang tidak makan selama seminggu.
"Pelan-pelan aja, nggak ada yang minta." Victon pun turut serta menemani Valerie dengan duduk di sampingnya.
uhuk...uhuk..!!
"Tuh kan! udah di bilang pelan-pelan."
"Air....tolong dong air uhuk.." Ini semua ulah Victon. Kenapa lagi? Tentu saja karena pria itu sangat usil. Valerie jadi tersedak sambal yang pedasnya maknyusss luar biasa.
"Ck, tangannya nggak bisa diem ih!"
"Apa? dari tadi di sini kok, ya kan tangan?" Victon pikir wanita dewasa seperti Valerie bisa di bodohi. Jelas-jelas Valerie melihat dengan mata kepalanya bagaimana tangan suaminya bermain nakal di area pahanya.
"Wuuihhhhh.... nasi kuning nih. masih ada nggak kak?" Tanya Zoeya setelah memberikan segelas air untuk kakak iparnya.
"Ada banyak di dapur." Ucap Valerie kemudian melahap 1 paha ayam utuh dalam sekali gigit.
"Ya ampun kak Val! lapar apa kelaparan?."
__ADS_1
Zoeya menggelengkan kepala dan memilih untuk ke dapur segera. Kebetulan setelah mengerjakan tugas ia lapar dan butuh amunisi.
Puluhan detik kemudian.....
"ooooooeeeeeekkkkk!! perut kenyang, hati pun senang. Sekarang udah bisa tidur kan anak bunda, hm?"
"Dia beneran istri gue kan?" batin Victon mengerutkan keningnya kala melihat istrinya begitu santai bersendawa dengan mulut yang menganga lebar.
Tak hanya itu, cara duduknya yang mengangkang lebar itu seolah-olah tempat ini miliknya seorang. "Val duduknya, ya ampuuuuunn!!. Ntar kalau anak kita tiba-tiba keluar gimana?" Ucap Victon seraya menarik pelan kaki Valerie.
Bukannya membenahi diri, Valerie malah semakin menjadi. Kini, dengan tidak malunya ia mengangkat baju sebatas perut kemudian menggaruk sisi-sisinya. Katanya sih gatal karena perutnya terasa di tarik dan melar.
"Sayang, hei.......tutupin."
"Kenapa sih bawel banget! Ini gatel, lagian udah pada tidur semuanya."
"Aduh!"
Sontak saja pria itu ikut terkejut "Kenapa? Apa masih gatel?" Tanya Victon cemas.
"Nggak. Tadi sakit, tapi udah nggak lagi."
Pria itu terpaku di tempat seraya menatap wajah tengil istrinya. Rasanya ingin sekali di gigit-gigit, karena dua buah pipi itu semakin gembul seperti bakpau.
Tak seperti kebanyakan ibu hamil, Valerie jarang sekali mengeluh tentang tubuhnya yang semakin melebar dan Victon pun bersyukur akan hal itu. Kadang kala, sifat cuek istrinya sangat menguntungkan di beberapa keadaan.
__ADS_1
"Basah..."
"Hah? apanya?" Victon bingung. Tingkah istrinya amat ambigu ketika melebarkan kedua kakinya. Sengaja atau bagaimana? Victon di buat ketar-ketir sekarang.
Jujur saja, tubuh sang istri semakin seksi setelah usia kandungannya bertambah. Ingin bersikap biasa saja, tapi Victon hanyalah pria normal dengan segala pemikiran mesumnya.
"Itunya pecah!!"
"Yang jelas kalau ngomong!! Itu kamu mana bisa pecah?"
(itu apa sih bang? 😅)
Sebenarnya yang ambigu itu siapa? Valerie kini menatap tajam suaminya karena pria itu sangat Lola di saat yang tidak semestinya.
"Perut aku sakit!! itu........apa namanya......ssshhhhhhh." Valerie mengusap perutnya yang sangat amazing rasa nyerinya. Datang dan pergi seperti doi, tapi mustahil untuk di gapai. Lah?
"Ketuban!! air ketubannya udah pecah, cepet bawa ke rumah sakit kak!! Kok malah diem aja sih?!!" Kesal sekali Zoeya dengan kakaknya itu. Victon malah masih diam membisu di saat wajah istrinya sudah semerah jambu karena menahan sakit yang menyerang.
"Cepaattt!!" Teriak Zoeya dan langsung saja Victon gelagapan.
"i...iya...iya..."
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-