My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB SPESIAL 6


__ADS_3

Tangan Valerie masih teratur membersihkan bulu-bulu rapat di rahang tegas itu. Tetap hati-hati tanpa meninggalkan goresan. Melihat Victon diam saja, Valerie pun menatap sekilas mata lelah itu sebelum kembali lagi dengan pekerjaannya.


Detik demi detik berlalu dalam kesunyian hingga selesai sudah cukur-mencukur itu "Tampan." Puji Valerie seraya mengusap lembut area itu dengan handuk kecil.


Victon di buat meleleh dan kembali tersenyum hangat. Meski bukan yang pertama kali, nyatanya hal kecil itu membuat hatinya selalu berdebar-debar.


"Itu juga tugasku sayang" ucap Victon . Tanpa naninu lagi, Victon secepat mungkin memajukan wajahnya kemudian meraup sejenak bibir candu istrinya.


Hal itu tentu saja di sambut dengan baik karena mereka jarang bermesraan akhir-akhir ini. "hidupku udah lengkap karena kalian di sisiku." Lanjutnya lagi seraya mengusap benda kenyal yang sedikit basah itu.


Nyatanya, ciuman tadi belum berakhir. Kebetulan si baby boy sedang pulas, pasutri itu pun memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


Valerie juga merespon kembali. Terbakar gairah hingga berakhir kala saling membelit lidah satu sama lain. Rasanya tidak pernah berubah dan selalu sama seperti pertama kali mereka melakukannya dulu.


Tak ingin kalah pula, Victon menarik tengkuk leher Valerie agar ciuman itu semakin dalam sedalam-dalamnya. "Maaf, masih belum bisa." Ucap Valerie setelah menarik pagutan itu kala merasakan kejahilan tangan suaminya.


"Yang ini juga nggak boleh?" Dengan wajah cemberut , Victon menunjuk area dada Valerie.


"Belum waktunya sayang." Bujuk Valerie sembari mengusap pelan rahang Victon.


"oeeeekkkkk.........ooooekkkkk."


"Tuh kan.....Zyan bangun lagi. Minggir dulu, mandi sana!!


Gagal lagi, gagal lagi. Nampaknya memang Zyan akan menjadi saingan berat bagi Victon. Siapa cepat dia dapat, mungkin saja itu tidak berlaku lagi. Karena pasti Zyan lah pemenangnya.

__ADS_1


.


.


.


.


Di sisi lain.....


" Babe, i'm coming." Dengan beberapa tas belanja di tangan, Zoeya berjalan dengan melompat-lompat kecil menghampiri Aldi yang masih bersibuk ria.


Semangatnya bahkan melebihi pasukan perjuangan kemerdekaan kala wajah tampan nan serius itu berada tak jauh di depan mata.


"Maaf, kerjaanku banyak banget karena kak Victon cuti beberapa hari."


"Ck, dari dulu juga kakak selalu ngerepotin kamu terus. Kapan kita nge-datenya?" Ucap Zoeya lagi.


Aldi pun meletakkan pulpen dan mousenya pelan-pelan, Kemudian beralih pada wanitanya. "Tanpa kak Victon, kamu nggak bakal lihat Aldi yang sekarang ini. Aku juga harus bekerja keras biar kita cepet kawin."


nyutttt...


" Awwwhhh." Cubitan itu mendarat di dada Aldi dan menyisakan rasa panas yang kian menjalar.


"Nikah bukan kawin."

__ADS_1


"Sama aja, baby." Goda Aldi seraya mencubit gemas pipi Zoeya. Tatapan keduanya terkunci beberapa saat. Semakin dekat dan dekat lagi. Hingga sedikit lagi menyatukan bibir mereka, namun tiba-tiba ponsel Aldi berbunyi. "*****." umpat Aldi.


drrttt.....drttt..


"Tolong beliin popok. Size-nya S ya ...cepat!!!"


"Penting sekali kah, wahai yang mulia Victon Ghaffari?!! Kak....... pembantumu sebanyak itu buat apa? Kenapa harus aku?" Geram Aldi.


Sial sekali memang. Tidak hanya merusak suasana, Victon juga membuat Aldi mengurut dada berkali-kali. "Cuma kamu Al yang kerjaannya selalu bener. Ck, dulu juga selalu beliin celana dalemku kan? 10 menit. Kalau nggak kesini, ku talak kau jadi kandidat adik ipar!! CEPAT!!!" Seenak jidat memerintah, namun Aldi juga tidak bisa menolak keinginan pria tengil itu.


Pip.....


Seraya mengeraskan rahang, Aldi menatap malas Zoeya yang sedang tertawa lepas. "Hahaha, serius? Jadi, kamu dulu sering di suruh beli begituan? hahahahaha !!" Ucap Zoeya tersendat-sendat dan sesekali menutup mulutnya.


"Lucu?" Aldi malah semakin meremang kala Zoeya masih belum berhenti.


"Ck, kakak-adik nggak ada bedanya. Awas sana! aku mau beli popok dulu."


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2