My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 23 Mencuri Pengantin


__ADS_3

Brughh….


“Wow!!” Baru saja Victon hendak mengulurkan tangannya, Valerie malah sudah lompat duluan.


“Tenang bro, aku udah sering lompat dari sini.” Ucap Valerie seraya berekspresi sok cool dan Victon malah terpesona karenanya. Keahliannya dalam memanjat memang tak perlu di ragukan lagi, hal itu karena kebiasaannya yang sering kabur-kaburan dari rumah.


Beberapa pria berpakaian serba hitam masih ada di beberapa titik dan Victon harus memastikan jika jalannya untuk lolos harus semulus mungkin. Beruntungnya kemampuan Valerie dalam hal ini amat berguna sehingga mempermudah jalannya misi. Ya, misi mencuri pengantin wanita.


Victon pun menggenggam erat tangan Valerie seraya mengendap-endap menelusuri sekeliling dinding putih itu. Sementara Aldi memberi kode dari earpod yang terpasang di telinganya.


Krakkk….


Sial sekali, Valerie tidak sengaja menginjak batang ranting dan kini membuat para penjaga tersadar. Secepat mungkin Victon menarik Valerie dan membawanya berlari menjauh dari pandangan para penjaga itu.


“Ayo lari!!” Seru victon.


Di sini Valerie kembali di buat geram karena gaunnya sangat menghambat langkahnya. Meski begitu, tidak sedikitpun ia berniat untuk berhenti. Ia harus segera keluar sebelum papanya tahu.


“Jangan kesana!! Di sana lebih banyak!!.” Ucap Valerie mencegah Victon yang hendak berlari ke arah gudang. Valerie paham betul dimana letak para pengawal di rumahnya. Suasana semakin mencekam, namun keduanya bisa mengimbangi waktu yang sempit itu.


Langkah mereka pun berhenti di sebuah tumpukan batu batako. Memang tidak ada pilihan lain, akhirnya mereka masuk ke celah sempit yang cukup untuk sembunyi sementara waktu. Victon mendekap tubuh Valerie kian kuat, di kala napas keduanya pun masih terengah-engah.


Drap…drap….drap…

__ADS_1


“Di mana mereka?”


“Kesana mungkin.”


Tangannya meremas sedikit baju Victon karena luar biasa gugupnya. "i'ts okay." bisik Victon seraya memberi ketenangan dengan usapan tangannya di punggung gadis itu. Mendebarkan sekali, jantungnya di buat meronta-ronta saat Valerie menyandarkan kepalanya. Posisi mereka yang saling berhadapan membuat pikirannya kian melayang jauh.


Beberapa detik kemudian....


“Udah pergi?” tanya Valerie yang masih di posisi sama.


“Belum, mereka belum jauh.” Victon tersenyum penuh arti seraya mengeratkan tangannya. Memang tukang curi-curi kesempatan, Valerie juga tahu jika ini hanya akal bulus pria itu saja. “Ahh sakit, lukaku .” Valerie mengaduh pelan karena luka pada siku tangannya terasa di remat akibat Victon yang memeluknya begitu erat.


“Maaf, ayo!”


.


.


.


Sraakkkk….srakkkk…


Suasana di dalam mobil kembali menegang kala Valerie tiba-tiba merobek paksa gaun putih yang di kenakannya. Sontak saja Aldi dan Victon di buat menganga karenanya. “Matamu mau ku congkel Al? Lihat ke depan dan fokus nyetir!!.” Bentak Victon kala mendapati Aldi yang berani curi-curi pandang ke arah Valerie.

__ADS_1


“Val, kamu nggak menganggap kami ini pria? Hei, jangan lepas-lepas sembarangan!!” Victon mencekal tangan yang masih tidak bisa diam di sana. Ada dua pria normal di sini, apa sedikitpun gadis itu tidak takut jika di terkam? pikir Victon heran.


“Lepas apanya? Aku cuma mau benerin bentuknya, ini nggak nyaman.” Sergah Valerie.


Rupanya ucapan Victon tidak membuat Valerie berhenti juga. Valerie menyobek bagian bawahnya menjadi belahan, dan ia melakukan hal yang sama pada bagian lengannya. Katanya sih terlalu ketat, sedangkan Valerie lebih suka yang longgar-longgar.


“Berhenti di sana!! Nggak masalah kalau di depanku, tapi di sini ada manusia lain.”


“Boss saya punya nama.” Kesal Aldi seraya melirik sekilas wajah cemberut Victon dari balik kaca. Walaupun memang benar jika ia manusia, setidaknya Victon harus menggunakan bahasa yang lebih manusiawi.


“Diam!! Jangan lihat kesini!!” Sentak Victon lagi.


Victon kembali memandangi sosok yang saat ini membuatnya meneguk ludah berkali-kali. Demi keamanan jiwa, pria itu pun melepas sweater hoodie yang melekat pada tubuhnya kemudian menyuruh Valerie untuk memakainya.


“Ini pakai.”


Valerie diam. Namun, spontan saja tangannya meraih benda itu. Hanya hal kecil sebenarnya, dan Valerie benar-benar tersentuh dengan cara Victon memberikan perhatian itu.


"Makasih." Ucap Valerie seraya tersenyum manis.


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2