
ciittttt...
“Bujuk di cinta ulam pun tiba.” Ucap syukur Jordan seraya mengusap dadanya. Setelah 1 jam lebih di buat mencekoki ludah sendiri akibat ugal-ugalannya si Victon, kini mereka tiba dengan selamat. Selamat jasmani, namun tidak dengan rohaninya.
Bukan sekedar merinding karena mobil itu seakan di giring ke dunia antah berantah yang hanya di kelilingi batang-batang pohon menjulang tinggi. Melainkan nyawanya seperti hilang dari raganya saat itu juga.
Krikkk…krikk…
Jam menunjukkan pukul 12 malam dan menurut cerita yang Jordan percayai dari leluhurnya, di waktu itu bukan masanya untuk berkelana. Apalagi, mengelilingi hutan rimbun seperti itu. Ini semua ulah Victon sebenarnya. Sehingga Jordan tak habis-habisnya menyalahkan pria itu karena telah melibatkannya dalam kasus ini.
“Bro, seumur hidup gue jadi makhluk buas. Tapi, gue lebih suka dunianya manusia normal.” Ucap Jordan dengan nada yang bergetar. Entah memang begitu suaranya, atau sedang kurang cairan mineral Victon tidak paham. Covernya saja seorang pemimpin pasukan T.Fly, tapi nyatanya nyali Jordan masih sekecil itu.
Gleg….
Dua pria itu saling menatap kala tanpa sengaja saling meneguk ludah bersamaan. “Seharusnya gue ajak Valerie aja. Mungkin rasa takut gue berkurang.” Ucap Victon.
“Cih, dasar cemen lo. Bukan pria sejati namanya.” Sindir Jordan tanpa tahu jika Victon tengah tersenyum miring. Tepat saat Jordan menoleh, Victon memasang wajah seramnya seraya menaruh lampu senter di bawah dagunya.
“HAAHH!!! Are you fu*king kidding me?!!” Jordan terhenyak hingga ponsel di tangannya terpental.
“Wohohohoho….hihihihihi.” Gelak tawa ringan namun horror itu keluar dari ekspresi wajah Victon yang sulit untuk di artikan.
“Cemen!! Gitu aja takut, heh!!” Seringai Victon kemudian keluar dari mobil. Mobilnya sudah mati begitu mereka tiba di halaman rumah itu. Memang keduanya tidak langsung keluar karena harus menyiapkan nyali terlebih dahulu.
“Pret, tungguin gue sia*an!!. Ck, ini kenapa kudu nyangkut segala sih.” Sabuk pengaman kini jadi pelampiasan Jordan yang sudah ketar-ketir karena di tinggal oleh Victon. Memang benar jika seorang Jordan masih jauh dari kata pria sejati.
Dua pria itu mengendap-endap kemudian tiba tepat di samping jendela rumah tadi. Puk…puk…. Jordan menepuk pundak Victon sebagai isyarat. “Lo yakin mobilnya udah aman? Jangan sampe kita ketauan Vic.” tanya Jordan dan di jawab Victon dengan tanda ‘oke’ di tangannya.
.
__ADS_1
.
Hanya berpenerangan lampu minyak di dalam sana. Hal yang tidak memungkinkan jika ada listrik di tengah hutan dan itu semakin membuat jiwa penasaran mereka menggelora.
Di intipnya dari celah-celah tembok yang berbahan kayu tersebut. Victon memperhatikan apa yang di lihatnya dengan seksama. Dia sangat yakin jika tidak salah membuntuti orang, namun anehnya di dalam tidak ada siapa-siapa.
Bahkan untuk di bilang sebagai markas, rumah kecil itu sangat kosong. Tidak teronggok benda-benda mengerikan, atau semacam senjata pamungkas. Atau mungkin sekumpulan orang-orang misterius, ini benar-benar aneh.
“Kita terlalu gegabah Jo.”
“What? Kenapa emang?” Jordan bingung kali ini.
Sringgg….
Victon menepuk pundak Jordan seraya berjalan tergesa-gesa. Firasatnya sudah tidak baik dan sebaiknya mereka meninggalkan tempat itu segera. Jordan yang masih bingung pun tetap mengekori langkah Victon di belakangnya. “Bisa kasih tau gue? Ada apa sebenernya?” Bisik Jordan.
“Nanti gue ceritain di jalan. Cepet ke mobil, kita pergi sekarang.”
Dengan keahlian menyetirnya, Victon kembali menerobos jalan sepi itu. Tidak ada yang bisa menghalanginya kala ia semakin mempercepat laju mobil itu seperti orang kesurupan. Sesekali ia melirik kaca spion untuk memastikan jika jalannya aman.
.
.
.
-FLASHBACK-
“Dia pamanku!! Aku yakin nggak salah liat.” Ucap Valerie yang masih berbaring di ranjang rumah sakit.
Perlahan dan meski takut untuk membahasnya, ia harus bisa menguak informasi penting yang di butuhkan Victon.
__ADS_1
Tidak bermaksud untuk memaksa, namun Victon harus tahu wajah di balik tragedi ledakan bom di perusahaannya. Masalahnya, saat itu hanya Valerie lah satu-satunya saksi yang beruntungnya masih bisa selamat.
“Pelan-pelan. Aku nggak akan maksa kalau kamu takut.” Victon mencoba menenangkan gadis yang berusaha menahan getaran hebat di tubuhnya itu. Memang ia butuh itu, tapi tetap saja tidak tega untuk memaksa.
“Aku harus ngomong…harus. Eeemmm, sebentar.” Valerie terlihat menarik napas dalam-dalam sebelum kembali memulai.
“Ini tentang pembantaian keluarga Giovanni. Waktu itu cuma papa yang tersisa dan satu-satunya anggota keluarga yang masih hidup hingga kini. Itu juga sebelum papa membangun keluarga lalu akhirnya memilikiku. Aku tahu wajah paman dari sebuah poto yang pernah mama tunjukin, tapiii..."
“Tapi apa?” Tanya Victon semakin penasaran.
“Ingat poin pentingnya. Papaku adalah yang terakhir, sementara yang ku lihat waktu itu wajah pamanku. Aku…” jelas Valerie dengan napas semakin tersengal.
“Apa aku salah lihat atau mungkin….hah.”
“Ssssshhhh stop Val, udah stop!” Akhirnya Victon pun memeluk Valerie demi memberi ketenangan untuknya. Sungguh, dia tidak bermaksud untuk mengulik masalah keluarga Valerie. Mana dia tahu jika masalah ini bersangkut paut? Victon hanya butuh waktu lagi untuk mengungkapnya.
Vic…
Oyy
Victon!!
.
.
-To Be Continued-
Pusing kepala Victon ...🤕
__ADS_1