
1 PM, Indonesia
“Kau tahu gimana susahnya aku masuk ke keluarga ini? Itu bukan salahku juga, mereka pergi tadi malam.”
“……”
“Aku sudah mencoba. Jika saja anak itu mudah di lenyapkan, kita sudah berhasil sejak lama bodoh!! Aku…”
“Sayang? Aku mencarimu dari tadi.” Ucap Candra pada istrinya. Bukan main terkejut, Aurora sampai menjatuhkan ponselnya. “K…kamu sejak kapan di sana??” tanya Aurora semakin gugup.
“Apa dia dengar semua?”
“Baru saja. Kenapa kok kaget gitu? Kita harus berangkat sekarang.” Ajak Candra lagi seraya memegang pundak istrinya. Ia memperhatikan tingkah Aurora yang sedikit aneh, setakut itukah pembicaraannya di dengar?.
Langsung saja Aurora meraih ponselnya yang tergeletak di lantai kemudian merangkul lengan suaminya.
“i…iya ayo.”
Sementara itu….
“Kamu malu-maluin!!”
Hanya itu yang bisa Valerie katakan sebagai bentuk rasa malunya akibat ulah Victon yang menggemparkan seisi rumah sakit. Sikapnya yang kerap sesuka hati bahkan berani memaki-maki dokter di sana. Mungkin saja Victon tidak akan berhenti jika Valerie tidak menengahinya tadi.
“Lain kali, apa-apa tuh tanya dulu, jangan main ambil kesimpulan sendiri. Jangan sok tau kayak lebih pinter dari dokternya aja!!” Terlanjur kesal sekali. Valerie hanya peduli dengan langkahnya ke depan meninggalkan Victon yang kini tengah menggaruk-garuk kepala.
“Yank, aku mana tau kalau itu PMS. Aku kan lelaki, bukan wanita.” Masih saja berkilah, Victon sungguh menguji kesabaran Valerie sejak tadi.
“Tau ah gelap!!” Ketus Valerie mengabaikan ucapan konyol suaminya dan segera berjalan dengan langkah kesalnya. Terserah, saat ini ia hanya ingin pulang kerumah secepat mungkin.
Cekrekk….
__ADS_1
Cekrekkk…
Drap….drap……drap…
“Berhenti!!” Pekik Victon kemudian mengejar orang asing yang tertangkap tengah mengambil gambarnya. Karena sempat bertemu pandang, Victon merasa aneh dengan sorot mata sosok bertopi itu. Ini sudah yang kedua kali. Sewaktu di restoran Victon juga sadar jika ada yang memotretnya diam-diam.
“Sial!!”
Victon berusaha berlari dengan cepat, namun tetap saja kehilangan jejaknya. Sudah beberapa kamar pasien pula dia singgahi, sayangnya tidak menemukan satu petunjuk pun. Agaknya, kali ini Victon memang kalah gesit.
Greb..
“Hah?!!”
Sesuatu melilit di pergelangan tangan Victon membuat terhenyak dan otomatis membalikkan badan. “Ada yang bisa saya bantu?” Ucap seorang dokter pria yang tampak lebih muda.
“Ah, tidak. Maaf, saya permisi.”
Dengan terburu-buru Victon pun meninggalkan rumah sakit itu. Sesaat kepergian Victon, dokter itu tersenyum dengan sudut matanya melirik sekilas.
Sampai di rumah…
Valerie sudah menyelesaikan ritualnya di kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan tubuhnya yang berbalut handuk kimono dengan wangi khasnya menyeruak keluar. Hendak berganti baju, namun perhatian Valerie teralihkan oleh Victon yang kini tengah sibuk dengan laptopnya dan duduk di sofa tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Kerja lagi? dasar nggak peka. Istri lagi ngambek, tapi dia lebih peduli sama pekerjaannya terus. Liat aja!!” Gerutu Valerie kemudian segera mengganti busananya yang lebih santai. Setelah selesai, Valerie pun segera menghampiri Victon yang masih bersibuk ria dengan pertemuan virtualnya.
Muncul lah ide jahil di sertai seringai licik di wajah Valerie begitu saja. Ia berniat untuk membuat Victon malu di hadapan rekan-rekannya itu. Di ambilnya lipstick berwarna merah, kemudian di oleskan ke seluruh permukaan bibir seksoy-nya. Dengan penuh keyakinan, Valerie percaya jika rencana ini akan berhasil.
“Hehehe.”
Setelah mendekat, langsung saja Valerie menelusup di pangkuan Victon dengan posisi seperti koala. “Ngapain? Aku lagi zoom meeting, sayang.” Victon bingung dengan penampilan aneh Valerie saat ini. Serangan tiba-tiba pun Victon dapatkan di seluruh permukaan wajahnya.
__ADS_1
Cup…cup…cup…cup…
Muaaaacchhhhhh…
Begitulah kecupan terakhir yang meninggalkan jejak-jejak merah di sana. Bentuk kissmark yang begitu jelas dengan warna merah khas dari lipstick yang Valerie pakai tadi. Sesaat Victon seperti korban pencabulan hingga menimbulkan gelak tawa dari laptop di depannya.
“Bwahahahaha.”
“Baru tau gue si cewek tomboy seagresif ini. Udah Vic, ajakin main kuda-kudaan sana!!” Seloroh Jordan di seberang sana.
“Boss, jangan bercanda. Pembahasan kita lagi serius ini.” Celetuk Aldi yang tak mau kalah.
“Biarin aja Al, namanya juga pengantin baru.”
Deg…
“ Mamp*ss!! Aku salah waktu dan tempat.” Batin Valerie yang gugup seketika. Sudah tertangkap basah, apalagi yang bisa di lakukan selain melarikan diri. Dengan cepat Valerie pun beranjak sebelum rasa malunya menjadi lebih parah.
“Mau kemana? Berani berbuat, harus tanggung jawab dong.” Bisik Victon seraya menahan Valerie agar tidak pergi. Tanpa aba-aba dia meraup ganas bibir sang istri yang sudah melambai-lambai meminta di cicipi. Biarkan saja, ia tidak peduli meski laptopnya sedang menyala.
“Woi…woi….woi….matiin dulu kek. Sial*n gue jadi pengen.”
”Sorry bro, ini lebih penting.” Ucap Victon kemudian mematikan panggilannya segera. Ia kembali menatap wajah Valerie yang sudah memerah bak udang rebus itu.
“Kenapa, hmm?” Victon berucap seraya menciumi pundak Valerie. Tanpa ia sadari pula, tangannya sudah menelusup ke dalam kaus kemudian melepaskan pengait bra* yang ada di sana.
“Aaaa…..shhhhhhh.”
-To Be Continued-
😳😳😳😳😳
__ADS_1