
HR Media Entertainment.
“Wuiihhhh, kesambet apa si boss super sibuk tiba-tiba dateng?.” Goda Jordan seraya menatap jahil Victon yang tengah menyeruput kopinya.
“ Gue butuh nasehat dari orang yang lebih berpengalaman.” Ucap Victon dan di balas dengan Jordan yang terkekeh.
“Tentang apa dulu nih?” Tanya Jordan yang masih sibuk dengan tablet di tangannya. Pembicaraan belum terdengar menarik, tapi ia berusaha untuk mendengar keluh kesah sahabatnya itu.
Victon sudah mempersiapkan hatinya jika sampai nantinya ia akan di ejek habis-habisan sekalipun. Ia sangat tahu bagaimana watak asli Jordan yang super menyebalkan itu. Namun, dia yang kaku ini hanya memiliki satu teman seperjuangan selama masa perbujangannya. Tidak ada pilihan selain ia menceritakan semua akar permasalahan yang membuat ia gundah setengah hari ini.
Beberapa menit kemudian...
“Ooooooo…..jadi begitu rupanya.” Jordan mengangguk-angguk seraya mengusap janggut tipisnya. Namun, entah kenapa ekspresinya sudah membuat Victon merasa tidak enak. “Habis gue bilang begitu, gue jadi di cuekin.”
“Lo salah juga Vic.”
“Hah? salah di mana. Kan niat gue baik ngajak dia nikah?”
“Dasar kanebo kusut!! Lo nggak pernah memperjelas status kalian. Terus tiba-tiba lo ajak dia nikah tanpa lamaran dan persiapan lain, jelas aja dia bete. Lo bener-bener harus belajar dari pengalaman gue pas ngejar Rara, bro.” Jordan sejenak teringat dengan seramnya sang ayah mertua kala itu.
“Buat apa? Kan kita saling tahu perasaan masing-masing. Gue cinta dia, dia juga begitu.”
“Makan tuh cinta. Lo harusnya paham posisi dia sekarang. Pertama, lo nggak pernah nembak dia. Kedua, dia calon pengantin Kevin yang lo ajak kabur dan parahnya lo umpetin tanpa ijin dari bokapnya. Ketiga, lo ajak nikah tanpa peduli sama persetujuannya. Jangan egois begitu lah Vic.” Ucap Jordan dengan panjang lebar seperti peramal cinta saja.
Jordan mengakui jika kecerdasannya masih di bawah Victon. Namun, dalam hal percintaan Jordan menang besar, karena dia sempat mendapat julukan penakluk wanita pada jamannya. Nol besar, itu nilai Victon saat ini. Pria itu tidak bisa merebut sepenuhnya hati Valerie, apalagi keluarganya. Padahal sewaktu Jordan hendak melamar istrinya, Victon memberi nasihat yang sangat bijak. Entah kenapa urusannya sendiri Victon tidak sebijak itu.
“Terus gue harus gimana? Bokap-Nyokap gue balik tiga hari lagi.”
“What?!! Jangan bilang lo udah cerita ke mereka?” Jordan terkejut kali ini.
“Belum. Bokap ada urusan sama perusahaan, jadi harus balik kesini. Jadi ini gimana?” tanya Victon dengan wajah yang kini memelas. Melihat itu pun membuat Jordan benar-benar di posisi penting bagi sahabatnya itu.
“Lo tenang aja.” Ucap Jordan dengan ekspresi yang aneh menurut Victon.
__ADS_1
.
.
.
4 PM…
“Pak anda mau kemana? Jangan tinggalin saya.”
“Mau kencan dulu, ku percayakan padamu Al. Semangat!!” Begitulah Victon yang sudah ketularan tengilnya Jordan. Sambil melambaikan tangan, dia meninggalkan Aldi bersama dengan tumpukan berkas yang menumpuk di mejanya.
Biarlah, untuk kali ini Victon menomorduakan pekerjaan. Semua itu demi nasib percintaannya. Valerie!! jangan sampai dia kehilangan sosok itu lagi. Victon tidak ingin menunggu untuk waktu yang lebih lama karena ia tak akan sanggup membayangkannya saja.
Sebelumnya, Victon sudah memberitahu Valerie untuk segera bersiap-siap. Sehingga ketika tiba di rumah bisa lebih banyak menghemat waktu.
Tidak di temukannya keberadaan gadis itu saat Victon menelusuri ruang tamu. “Apa dia di kamar?” Ucap Victon menerka-nerka.
Apakah kau ingat gang yang sepi itu?
Aku masih ingat sampai saat ini
Hari-hari yang meresahkan ketika aku tidak bisa mengatakan,
Bahwa aku mencintaimu
Apa kau tahu hal itu?
…
Malam yang indah dari masa lalu,
ketika kita masih sama-sama egois
__ADS_1
Aku masih mencintaimu
Kamu sungguh egois
Kamu mengambil semua hal dariku
Kau orang yang tidak berperasaan
-My Old Story
Tak…tak….tak… Valerie pun berjalan santai menuruni tangga. “Maaf kalau lama.” Ucapnya kemudian, seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Penantian beberapa menit itu di patahkan oleh pesonanya begitu saja. Meski gaya tomboynya itu tidak sesuai dengan konsep kencan hari ini, tapi tidak bisa di pungkiri jika Victon masih di buat terpana akan paras indahnya yang amat menawan. “Kamu dandan?” tanya Victon seraya mengusap sekilas pipi Valerie.
“Sedikit.” Singkatnya.
Sampai di halaman rumah….
“Kenapa diam aja? Ayo, katanya mau pergi?” Ujar Valerie dengan sedikit meninggikan nadanya. Itu karena Victon yang melamun sejak tadi.
deg...deg...deg...
“Ah..i…iya.”
.
.
.
-To Be Continued-
__ADS_1