
tak...tak...tak....
Ujung heels itu mengikuti setiap langkah Valerie seperti seorang putri di sebuah kerajaan. Gaunnya melambai-lambai, para tamu yang menatapnya dengan berbinar dan tepuk tangan mereka begitu meriah. Valerie tidak menyangka jika malam ini akan mendapat kejutan yang amat spesial dalam seumur hidupnya.
Perayaan pernikahan bak putri serta publikasi yang Valerie inginkan semua tercapai. Mereka yang di atas sana pun akan menjadi saksi bagaimana bahagianya Valerie malam ini.
Wajah tampan berbalut jas di ujung sana sudah menanti dengan mengulurkan tangan. Valerie ingin menggapainya, juga memeluknya atau menciumnya. Semua ingin ia lakukan sekarang juga, hingga tanpa sadar langkah kakinya sudah secepat itu sampai.
"Selamat malam istriku yang cantik." Ucap Victon dengan senyum lebar itu. Valerie membalas dengan senyuman amat manis kemudian menerima uluran tangan Victon.
"Hari ini saya akan membuat sebuah pengumuman penting. Hal yang selama ini membuat publik resah akan berbagai rumor yang beredar. Saya, Victon Ghaffari ingin mengklarifikasi jika wanita cantik jelita ini adalah istriku sah sekaligus pemilik hati saya seutuhnya. Mohon, bagi yang mengantre segera bubar karena saya sudah sold out. terimakasih." Ucap Victon dengan lantang membuat seisi gedung itu tergelak.
Di sudut lain.....
"Oh, sumpah! Victon bikin gue muntah hueekk.." Ejek Jordan yang sejak tadi menjadi saksi sahabatnya berikrar.
"Uncle papa." Ucap Cheryl menepuk-nepuk dada papanya.
"Iya sayang. Itu uncle Victon sama aunty Valerie." Rara mencubit pipi gembul putrinya. "Jangan begitu, kamu dulu lebih lebay tau!" Ucapnya lagi seraya menatap horor Jordan di sampingnya.
"Bukan lebay, tapi romantis sayang." Tanpa sadar Jordan mencuri kecupan di bibir indah istrinya dan tak peduli meski mereka di tempat ramai. "Kebiasaan!! itu di lihat anaknya nggak malu apa?!!"
__ADS_1
"Malu apa? tuh Cheryl malah ketawa, ya kan anak papa hm?"
"Hihihihi." Cheryl terkikik girang sekali.
Wooohooooooo.....
Riuh tepuk tangan semakin menjadi-jadi. Mulai dari, para tamu penting, rekan bisnis, rekan kerja Valerie dulu, sahabat dan juga para lebah genit yang sejak lama mengantre untuk menjadi kandidat istri Victon, semua hadir dan kini memenuhi acara tersebut.
"Semua akan baik-baik saja sayang. Oma yakin, Val wanita yang kuat. Berbahagialah, mereka yang di atas sana pasti ikut bahagia, okay?" Pelukan hangat dari sang Oma begitu menenangkan sekaligus menghilangkan rasa gugup yang sejak tadi melanda Valerie.
"Aku sayang Oma dan Opa." Valerie memeluk erat Oma dan Opanya bersamaan. Menahan air matanya yang sebentar lagi terbuang, tapi ia berusaha untuk tetap tegar.
Acara pun berlangsung cukup lama dan meriah. Semua makanan mewah tersaji serta hiburan dari penyanyi papan atas yang mengibur para tamu.
"Kenapa? mana yang sakit?" Victon menyentuh tangan sang istri yang terlihat meringis. Jika memang lelah Victon bisa segera menghentikan pesta ini, tapi Valerie menolak agar ia tidak melakukannya.
"Aku nggak papa, hari penting ini harus selesai dengan semestinya." Ucap Valerie pelan.
"Yakin? kalau lelah jangan di paksa, kita bisa istirahat lebih dulu."
nyuttttt....
__ADS_1
Valerie pun mencubit gemas pinggang suaminya. "Gara-gara siapa aku begini? Kan kamu yang paksa aku. Kalau tau bakal ada kejutan, seharusnya aku nggak mau di ajak begituan tadi." Bisik Valerie kemudian. Sungguh pinggangnya terasa seperti terlilit tali dan juga nyeri.
Victon pun berjongkok di depan Valerie yang tengah duduk seraya memasang wajah memelas. "Ya udah cukup duduk di sini, biar aku yang menyambut tamu." Victon jadi merasa bersalah. Ia memang berlebihan tadi, seharusnya ia lebih perhatian agar istrinya tidak sakit begini.
"Jangan lah..... masa iya aku malah duduk santai di sini."
" it's okay. Aku tinggal bilang kalau istriku lelah habis memenuhi kewajibannya." Ucap Victon dengan frontal. Sontak saja Valerie membekap mulutnya dan menatap dengan horor, namun pria itu malah terkekeh dan mengecup telapak tangannya.
"Valerie kau ingat aku?"
Suara bariton khas yang amat Valerie kenal. Bukan kenangan baik melainkan sesuatu yang buruk. Valerie membola akan kehadiran pria blasteran yang berdiri tegap di depannya. ia bergetar dan tiba-tiba merasa ketakutan lagi.
dia?
.
.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-