My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 73 I am Here With You


__ADS_3

Jika saja hidup boleh memilih, Valerie ingin kembali di masa sang papa sering memarahinya. Atau setidaknya beberapa hari lalu, nyawa yang tidak berdosa masih berada di dalam perutnya. Kali ini ia merasa seperti manusia yang tidak berguna di mata kedua orang tuanya, juga untuk suaminya sendiri.


“Aku nggak pantas ada di dunia ini. Kenapa mereka semua meninggalkanku?”


Sejak siuman tidak ada yang mau bicara jujur kepada Valerie. Jika saja ia tak sengaja mendengar percakapan mertua dan suaminya, mungkin semua orang akan terus menutupi fakta jika sang papa telah benar-benar pergi. Begitu pula hal menyakitkan yang mengatakan bahwa ia kehilangan calon buah hatinya yang selama ini selalu ia inginkan.


Wushhhhhh….


Angin malam menjadi saksi betapa hancurnya Valerie malam ini. Ia berdiri menatap langit sendirian dan juga masih berbalut baju pasien sembari memegangi perutnya. “Nak, maafin mama hiks….hiks. Sejak awal aku bukan ibu yang baik, mama nggak bisa menjaga kamu sayang….” Valerie sudah tak sadar apa yang tubuhnya perbuat.


Pikiran dan tubuhnya sudah tak sejalan kala kedua kakinya melangkah melewati pembatas. Angin menerpa begitu kuat menyibakkan semua yang melekat pada tubuhnya. Dingin atau apapun itu sudah tidak bisa Valerie rasakan seolah-olah ia kini mati rasa.


“Maafin aku.”


Valerie merentangkan kedua tangannya bersiap untuk terjun bebas dari ketinggian berapa ratus kaki itu. Cukup menyeramkan bagi orang normal, namun tidak bagi Valerie yang sedikit lebih tidak waras pikirannya. Gedung rumah sakit ini mungkin menjadi saksi terakhir bagaimana ia mengakhiri hidup.


“Kamu yakin mau meninggalkannya? Victon…..dia sangat mencintaimu”


“Aku nggak tahu.”


“Dia akan sangat sedih kalau kamu egois begini. Bertahanlah, Tuhan mengambil mereka kembali karena Tuhan mencintai mereka. Jangan bodoh!!”


“Tapi, aku penyebab mereka semua pergi. Aku seharusnya nggak pernah ada di dunia ini.”

__ADS_1


“Siapa bilang? Kamu kira mereka pergi demi kamu? Nggak. Itu karena tugas mereka udah selesai, sekarang tinggal giliranmu.”


“Apa?” Valerie kembali terisak dan kembali sesak kembali memegang kuat penopang besi itu.


Kreettt….


“Tunjukkan jika perjuangan mereka nggak sia-sia bodoh!! Berbahagialah!!”


Semua menyuruh Valerie berbahagia, sedangkan dia terasa hidup di cangkang kosong di mana isinya sudah hilang semua. Bahkan sisi lain dari dirinya juga menyuruh Valerie untuk bahagia. Sebenarnya bahagia yang bagaimana yang mereka mau? Valerie tak mampu lagi.


Drap….drap…drap….


Greb!


Pria itu segera menarik tubuh istrinya dan memeluknya sangat erat. Setakut itu sampai tubuhnya bergetar hebat. “Kita hadapi bersama-sama. Tolong jangan begini, jangan coba-coba pergi dari hidupku.” Wajah pucat pasi Valerie membuat Victon tak karuan. Sungguh, ia tidak menyangka jika istrinya sedangkal itu. Ia memahami jika kesedihan itu melanda Valerie seperti badai beruntun. Tapi tindakannya sama sekali tidak benar.


“Maaf…..”


Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir pucat Valerie. Ia menyesal tapi sedikit gila beberapa saat lalu. Sedikit pun ia tidak memikirkan bagaimana Victon yang selalu ada untuknya.


Tak ada pembicaraan lagi. Victon pun memakaikan jaketnya dan segera membopong Valerie kembali ke kamarnya.


.

__ADS_1


.


.


ceklek...


“Jangan pikirin apapun dulu, ya?”


Valerie hanya mengangguk-angguk saja di saat tubuhnya mengikuti bagaimana tangan suaminya meletakkannya di atas ranjang pasien. 


“Aku nggak memperhatikannya, dia juga sakit dan menderita. Maaf…” Valerie menatap sendu wajah Victon yang juga membalas tatapannya di ikuti tangannya yang mengusap pelan rahang tegas itu.


Keduanya tidak ada yang memecah keheningan karena berperang dalam pikiran masing-masing. Cup….. kecupan di kening Valerie sebagai tanda untuk mengakhiri hari ini. “Tidur ya. sini aku peluk.” Ucap Victon melemah dan segera berbaring di samping sang istri.


Ditariknya tubuh ringan itu agar merapat, kemudian memberikan usapan-usapan dan kata-kata penenang agar Valerie cepat terlelap. Berharap jika esok hari menjadi lebih baik dari hari ini.


“You are not alone, because I’m here with you. Forever.”


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2