My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 32 Jembatan Gantung


__ADS_3

Tidak bisa mengelak dari kenyataan, bahwa Victon memang menjebak Valerie dengan kedok merekrutnya menjadi pengawal pribadinya. Siapa sangka jika kini dia benar-benar jatuh dalam permainannya sendiri.


“Val, nggak perlu waspada. Kita lagi kencan, bukan sedang bertugas.” Ucap Victon pelan.


Risih saja karena Valerie berjalan mengiringnya di belakang dan begitu hanyut pada perannya. Sorot mata tajam, postur tubuh tegap dan berwibawa di ikuti tangannya yang bersedekap, Valerie benar-benar menjaga citranya dan senantiasa siap siaga.


Brugh…


“Kenapa?” Valerie terkejut kala tiba-tiba Victon menghentikan langkahnya membuat kepalanya tak sengaja menabrak punggung lebar itu. Dia pun mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu.


Biasanya penyusup selalu bersembunyi di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang, entah kenapa jiwa kesatrianya kembali menyala. Rupanya itu hanya rasa cemas yang berlebihan saja.


Valerie terhenyak kala sesuatu melilit di sela jemarinya kemudian menggenggam erat. “Ini hal yang wajib di lakukan bersama pasangan. Jangan jauh-jauh dariku.” Ucap Victon kemudian melanjutkan langkahnya dengan tangannya yang saling bertaut.


Valerie baru mengetahui jika ada makna lain dari bergandengan tangan seperti ini. Sensasinya sangat berbeda saat tangan besar dan kekar itu terasa dingin dalam genggaman Valerie. Namun, di sisi lain ia merasakan kehangatan yang tidak bisa di jelaskan dengan sepatah kata pun.


“Aku bukan pria selemah itu hingga membutuhkan wanita untuk melindungiku. Aku mampu melindungi diri sendiri termasuk kamu. Mulai saat ini, bergantunglah padaku.”


Kalimat itu terdengar begitu manis hingga Valerie kembali di buat berdebar. Mungkin Valerie sudah terbiasa begitu sehingga ia tidak sadar jika hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan baginya.


“Anu …pak…”

__ADS_1


“Kayaknya kita juga perlu menentukan panggilan yang berbeda. Aku nggak mau orang-orang menganggapku pedofil karena kamu terus memanggilku bapak!.” Kesal? Tentu saja iya. Victon gemas sendiri dengan kebiasaan Valerie. Sudah di katakan jika pekerjaan dan pribadi harus di bedakan, dan Valerie masih belum paham juga.


Apalagi perbedaan usia mereka yang cukup jauh, membuat kesenjangan itu amat terlihat. Victon bagaikan mendapat daun muda karena wajah Valerie yang tidak sesuai dengan usianya. Dia masih tampak seperti bayi dan begitu imut, di balik sikap kasarnya itu.


“Terus, a..aku harus gimana?”


“Sayang, Honey, Babe, atau mas kan bisa. Jangan sampai aku menghukummu karena terus memanggilku bapak.” Gerutu Victon seraya menatap tajam.


Valerie sejenak tertegun. Rumor mengatakan jika Victon selalu berhasil membuat lawan bicaranya membeku hanya dengan sorot matanya saja, dan itu memang benar adanya.


“A…aku.”


Tidak terasa, perdebatan itu berakhir saat kaki keduanya sampai di sebuah sarana penghubung jalan yang bergantung di atas sungai. Ini adalah daya tarik tersendiri yang sengaja di suguhkan bagi para pengunjung agar menikmati sensasi menegangkan kala jembatan itu bergoyang-goyang.



Tidak di awal maupun akhir. Posisi Valerie berada di tengah-tengah dan setega itu Victon mendahuluinya. “Euuuuhhhh…ini goyang-goyang. Aku takut.” Ucap Valerie dengan nada bergetar. Berkali-kali ia meneguk ludahnya dengan kasar seraya menatap nanar punggung Victon yang berjalan santai mendahuluinya.


Entah memang kebetulan atau apa, saat ini tidak ada seseorang yang melintasi jembatan itu. Bak hukum karma untuk Valerie. “Victoooonnn.” Suara itu keluar begitu pelan, padahal Valerie ingin berteriak sebenarnya. Pita suaranya seakan tidak mau menuruti kemauan dan niat hatinya.


Valerie pun mengeratkan pegangannya pada tali pinggiran jembatan itu tanpa berbuat apa-apa lagi. Saat ini harapannya hanya tertuju pada pria di depan sana. “Tolong berbaliklah. Aku takut.” gumamnya.

__ADS_1


Sementara itu, Victon yang masih bersungut-sungut belum menyadari jika sesuatu menghilang dari sisinya. “Ck, kok gue kekanak-kanakan gini sih? Valerie...…loh? mana dia?” Ucapnya seraya menyugar rambutnya ke belakang.


Detik selanjutnya, ia pun menoleh ke samping, namun tidak di temukannya gadis itu. Saat menoleh ke belakang, Victon pun di buat bingung dengan keadaan Valerie yang diam berdiri di tengah-tengah jembatan gantung itu.


“Cepat sini!!” Teriak Victon seraya melambaikan tangannya. Namun, gadis itu tidak menjawab dan masih setia di posisinya.


“Dia kenapa?” Victon bertanya-tanya seraya mengerutkan keningnya. Lumayan jauh jarak di antara mereka. Namun saat Victon menyadari keanehan pada gadis itu, nalurinya pun mengatakan jika ia harus menghampirinya.


Pria itu berjalan begitu cepat hingga menciptakan gempa lokal pada jembatan gantung itu. Semakin dekat, Victon mendapati Valerie tengah memejam seraya berguman tak jelas.


“Hei, kenapa berhenti di sin…..” Belum selesai berucap, Victon di kejutkan oleh Valerie yang tiba-tiba menghambur kemudian mengalungkan tangan di lehernya. Ia merasakan tubuh gadis itu bergetar dan bibirnya masih bergumam tidak jelas.


"Mama...mama..mama...."


“Val, kenapa?” tanya Victon lagi.


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2