
"Udah lama?"
Valerie terhenyak sesaat. Oh my God!! Penampilannya sangat berbeda saat bertemu terakhir kali. Valerie tidak ingin mengakui yang sebenarnya jika ia sempat terpesona akan penampilan fisik sang mantan.
"a.....Ray?"
Lihat saja, bahkan Valerie tergagap-gagap. Tak bisa di pungkiri bahwa Valerie benar-benar di untungkan berada di circle para pria tampan. "Nggak. Victon paling tampan!! sadar Val!" gumam Valerie seraya memalingkan wajah dan menepuk pelan pipinya.
"Dira, kenapa?" Ray menyentuh pelan pundak Valerie sebelum menempatkan bokongnya di atas kursi.
"Jangan memanggilku begitu." ketus Valerie.
"Itu panggilan khusus dariku. Dari dulu kan emang begitu."
"Tetap aja nggak nyaman ak..."
"Aaaaaa.......jangan bilang panggilanku paling beda, heh? Bagus dong, berarti kan aku satu-satunya." Cibir Ray dan sejenak membuat Valerie tertohok.
"Dia emang bajing**an dari dulu. Tapi baru tau kalo ni orang nyebelin banget." Valerie membatin seraya meremas ujung bajunya. Perkataan Ray membuat Valerie teringat dengan Victon yang terbilang tak seromantis itu. Selain sayang dan Valerie, tidak ada lagi panggilan khusus untuk dia dari Victon.
"Kalau cuma mau bahas hal nggak penting, mending aku pergi aja."
Sikapnya itu, Ray tidak terbiasa sekali. Setahu Ray, gadis di depannya ini tipe yang lemah lembut dan kalem. Itulah kenapa Ray sempat menghianatinya dulu.
"Di sini kamu yang butuhin aku Dira. Kecuali....mau pergi dengan tangan kosong, silahkan aja."
Licik. Satu kata itu sangat cocok untuk Ray saat ini. Tapi tidak ada salahnya juga karena Valerie rela menunjukkan muka lagi setelah sekian lama selalu menghindar.
"Ceritain apa yang kamu tau." Ucap Valerie sedikit menantang seraya kembali duduk lagi.
"Nggak ada yang gratis di dunia ini. Buang air aja harus bayar, apalagi informasi. Jadi......apa imbalan untukku?"
"Apapun. Selagi masih di batas wajar." Jawab Valerie dengan dingin.
"Termasuk kamu jadi milikku?"
__ADS_1
Pria ini!! 🤬
Valerie sudah menduga tentang itu. Sangat tidak mungkin seorang Ray bermurah hati memberi dengan cuma-cuma.
"Aku udah menikah."
"Aku tau."
"Yang lain Ray!!"
"I can't. Aku cuma mau itu."
"Kamu tau siapa suamiku? ak..."
"i know. Boss dari perusahaan tempatku bekerja, pak Victon Ghaffari. Tapi, nggak ada berita kalo beliau udah menikah. Jadi.... kamu ini istri simpanan atau apa?"Ucap Ray seraya menopang dagunya di sertai tatapan yang semakin menjengkelkan.
Istri simpanan katanya? enak saja. Valerie tahu alasan pernikahan mereka tidak di publikasikan, tapi bukan berarti statusnya sebagai simpanan. Lagipula, Victon yang mengejarnya dahulu, jadi Valerie bukan wanita semurah yang di tuduhkan Ray.
"Aku istri sahnya!! Jaga mulutmu kalau bicara!!" Valerie kian memanas dan akhirnya memilih untuk pergi saja.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku Dira!!" pekik Ray tanpa di hiraukan Valerie sama sekali.
.
.
.
.
.
"Di mana pak Victon?!" tanya Valerie pada resepsionis.
"Maaf, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" jawab wanita muda itu dengan ramah.
__ADS_1
"Aku istr......"
Beliau tidak mempublikasikan....
tidak mempublikasikan....
kamu istri simpanan?
istri simpanan?
simpanan.....
😡
"Ays, kalo aku bilang istrinya yang ada langsung di usir. Ck!" batin Valerie bingung. Valerie hanya terbawa emosi sesaat, tapi dia tidak menyangka jika kedua kakinya malah belok ke perusahaan VCO Technology.
Tatapan wanita di depannya membuat Valerie kian resah hingga menggigit bibir bawahnya. Salah bicara bisa hancur semua. "Emmm, saya pengawal pribadinya." Ucap Valerie asal.
Penampilan kasual itu tidak mencerminkan jika Valerie seorang Bodyguard. Jadi, wajar saja jika mereka tambah bingung. "Saya baru saja menjalankan misi khusus. Tolong sampaikan saja jika Valerie Anindira ingin bertemu pak Victon."
"Baik, sebentar." Ucap wanita itu yang nampak ingin menghubungi seseorang.
Beberapa detik Valerie menunggu. Tiba-tiba saja wajah sang resepsionis itu berubah murung dan hal itu membuat Valerie berseru yes dalam hatinya.
"Maaf nona, Pak Victon sedang rapat. Jadi, silahkan menunggu di kantornya terlebih dahulu."
"Terimakasih." jawab Valerie dengan ramah kemudian melenggang masuk.
"Huh ...hampir aja masa depanku hancur." Gumam wanita tadi yang kini menatap nanar kepergian Valerie.
.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-