
"Badannya panas. Sayang kamu sakit?" tanya Valerie sekali lagi seraya menyentuh kedua pipi dan kening suaminya.
Victon pun membuka mata. "emm? oh udah pulang, gimana jalan-jalannya?"
"Ini panas loh. Ayo pindah ke kasur, biar aku panggilan dokter. Atau kita ke rumah sakit aja?" Valerie jadi panik sendiri. Ia kembali menyentuh kening Victon dan benar adanya jika suhunya lebih panas dari biasanya.
"Aku nggak papa kok."
Victon tak bisa berkata banyak. Jujur saja kepalanya terasa amat pusing dan tubuhnya juga lemas tak seperti biasanya. Mungkin karena kerjaan akhir-akhir ini menumpuk dan ia terlalu memaksakan diri. Beginilah jadinya.
Pada akhirnya, pria itu hanya bisa menurut bagaimana kehendak sang istri. "Kamu ngapain? Nggak kuat lah, jangan aneh-aneh!!." Tapi bukan begini juga. Victon tidak mengerti jalan pikiran istrinya yang terlampau percaya diri ingin membopong tubuhnya ala bridal style.
"Heuuuuuuuppphhhh.. ... hah ....kamu berat banget sih!"
Percobaan pertama dan kedua tidak ada hasil. Yang ada Valerie malah membuang gas alamnya karena terlalu kuat mengejan. duuuuuuuutttt!!
"Hih, jorok!"
Victon pun mengalungkan tangannya di leher sang istri seraya terkekeh lucu. Meskipun ia tahu jika tubuh mungil itu tidak akan berhasil, Victon tetap menghargai bagaimana usahanya.
"Berat ih!! kamu kayak gentong air." Ucap Valerie asal dan juga kesal sebab usahanya tidak ada kemajuan.
"Enak aja, ideal begini di bilang gentong. Lagian siapa yang suruh angkat?." Tidak ada rasa kesal sedikitpun meski di kata gentong air. Victon malah terhibur sebenarnya.
Beberapa waktu pun berlalu....
Nikmatnya menjadi orang sakit. Itu hanya perkataan konyol bagi sebagian orang. Yang jelas, mana ada orang sakit itu enak.
Tapi Victon merasakan bagaimana istrinya lebih perhatian dua kali lipat dari sebelumnya. Mandi, makan dan semua kebutuhan, Valerie pastikan suaminya tidak kekurangan sedikitpun.
"Udah?"
"emm.....aku kenyang." Suapan bubur terakhir pun selesai dan hanya menyisakan mangkuk yang bersih tak bersisa. Tidak seperti kebanyakan orang. Faktanya, sejak dulu Victon masih memiliki nafsu makan meski ia sedang sakit.
__ADS_1
"Istirahat ya." Ucap Valerie seraya mendaratkan kecupan malam di kening Victon. Tak lupa memastikan suaminya tetap hangat dengan membungkus tubuh itu dengan selimut tebal..
"Jangan pergi!! aku mau di elus-elus kepalanya, ini masih pusing."
"iya."
Malam pun semakin larut dan Victon sudah terlelap dalam pangkuan istrinya setelah menikmati usapan demi usapan itu. Sedangkan Valerie masih terjaga dan terus-menerus memastikan kondisi tubuh suaminya.
Wajah tampan itu terlihat pucat dan mengeluarkan keringat hingga tak henti-hentinya tangan Valerie menyekanya. "Cepat sembuh sayang, aku nggak tega."
...☘️☘️☘️☘️...
Keesokan harinya.......
Valerie terbangun lebih dulu karena harus menyiapkan sendiri menu sarapan suaminya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah nampan di tangannya.
"Sayang sarapan dul...."
hoeekkk....
Sebenarnya, sudah 2 hari Victon begini setiap pagi. Namun, Valerie mengira jika keadaannya tidak seserius itu.
"Jangan kesini, ini mengerikan."
Tanpa mengindahkan peringatan itu, Valerie tetap menghampiri kemudian memijat tengkuk leher Victon perlahan. "Yakin nggak mau ke rumah sakit? Aku khawatir kalau kamu begini." Ucap Valerie.
"i'm okay. Nanti juga sembuh."
Saat Victon menghambur ke tubuh istrinya, tiba-tiba perutnya bergejolak lagi. "Val, kamu pakai parfum apa?" tanyanya hati-hati.
"Yang biasa aku pakai lah. Kenapa?"
"Ganti ya. Parfum kamu bikin aku mual, aku ....hoeeekk!"
__ADS_1
Valerie mengkerut seketika. Suaranya seakan di buat-buat atau memang begitu. Valerie merasa jika itu di lebih-lebihkan.
"Sampo kamu juga, pakai punyaku aja."
Valerie mendengus kesal meski tubuh mereka tengah berpelukan mesra. "Maaf, jangan tersinggung. Atau kamu bisa tetap pakai, tapi kita harus jaga jarak. Aku nggak tau kenapa tubuhku begini sayang, maaf." Tidak! Valerie menolak usulan Victon yang ingin menjaga jarak.
Valerie tidak mampu jika hal itu harus ia lakukan. Mau tak mau, akhirnya dia lah yang mengalah. "Ck, kamu nyebelin." Ucap Valerie dengan bersungut-sungut.
Tidak sampai sana saja. Keanehan Victon semakin hari semakin menjadi-jadi. Beberapa hari hingga seminggu kemudian, pria itu masih saja rewel.
Saat di kantor....
"Al, kau bau sekali! Apa tadi nggak mandi? jangan dekat-dekat denganku, jaga jarak 5 meter."
"Enak aja. Saya mandi pak, pakai kembang tujuh rupa malah. Masa wangi begini di kata bau?" Seloroh Aldi.
Tak hanya itu, sampai di rumah pun.....
"Zoe!! Bau kakimu menyebar kemana-mana. Punya sepatu di cuci dong, baunya kayak bangkai begitu." Ucap Victon saat mendapati adiknya baru pulang dengan keadaan tubuhnya bercucuran keringat.
Plak....Ucapan itu membuat sebuah sepatu melayang dan hampir mengenai Victon.
Akhirnya, demi keamanan dan ketentraman hati orang-orang di sekitar Victon, Valerie pun memilih untuk membawa suaminya ke rumah sakit. Takut sekali jika ada gangguan mental atau bahkan lebih parah, Valerie cemas.
" Sayang aku nggak papa, serius!" Ucap Victon saat di paksa untuk berbaring di ranjang pasien.
.
.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-