
Di kamar mandi...
"Val, jangan menyiksaku lebih dari ini." Ujar Victon memelas.
Valerie tak tega, tapi mengerjai Victon rupanya seru sekali. Sengaja dia mengulur waktu setelah makan malam itu dengan alasan mau sikat gigi atau buang air besar dulu.
cup....cup....
Alhasil, Victon pun menyusul ke kamar mandi. " Sebentar, aku lagi sikat gigi biar nggak bau napasnya." Ucap Valerie seraya terkekeh kala mendapat beberapa kecupan di leher jenjangnya.
Victon tak peduli. Meski di kamar mandi sekalipun, dia tidak berniat melepaskan lagi mangsanya. Baru selesai Valerie kumur-kumur dan mengelap mulutnya, Victon kembali menghantamnya lagi.
hah...hah....
"Sayang, apa kamu nggak mau punya seperti Cheryl? dia lucu ya." tanya Valerie pelan.
Victon terhenyak sejenak mendengar ucapan Valerie, sebelum kembali dengan kegiatannya. Sementara Valerie hanya bisa diam dan menikmati kala Victon mengulum aset kembar miliknya.
"Aku nggak yakin. Aku nggak berpikir untuk memilikinya dalam waktu dekat." Ucap Victon.
deg..
__ADS_1
Valerie terhenyak hingga bagian tubuhnya sakit seketika. Rasanya seperti di hantam ribuan batu atau mungkin lebih dari itu. "Kenapa?" Valerie berusaha tenang dan harus mengetahui alasannya.
Valerie sangat menginginkan sebuah keluarga yang lengkap seperti Rara sahabatnya. "Mungkin aku juga belum siap menjadi ibu, tapi semua berubah seiring berjalannya waktu." Valerie sedikit bergetar saat mengutarakan isi hatinya.
Melihat bagaimana keluarganya yang kacau Valerie ingin membalasnya dengan memiliki keluarga baru yang bahagia. Akan lebih lengkap jika hadir si kecil di antara mereka berdua.
Victon pun menangkup Wajah sendu istrinya. "Dengerin aku sayang. Bukan aku nggak mau, di umurku ini aku nggak menolak kalau Tuhan memberi kita anugerah itu. Tapi, situasinya nggak tepat. Di tengah bahaya seperti ini aku takut hal buruk itu terjadi...."
" Aku yakin kita bisa menjaganya." Ucap Valerie menyela.
"Val...." Victon semakin gusar karena Valerie yang teguh akan permintaannya. Sebenarnya Victon bersyukur jika Valerie tidak keberatan tanpa dia meminta dulu, tapi semua hal pasti ada resikonya. Apalagi, problematika itu belum terpecahkan.
Valerie mendudukkan diri di dekat wastafel kemudian menarik baju Victon hingga mereka tak berjarak. Sejak tadi penampilan Valerie sudah seperti macan tutul akibat ulah Victon, namun pria itu masih belum melakukannya.
Valerie sudah lebih agresif dengan menjelajahi area rahang dan leher Victon. Bekerja lebih keras agar pria itu terangsang dan mengabulkan permintaannya. Padahal saat sesi makan malam tadi Victon terus mengeluh karena tidak bisa menahan diri lebih lama, tapi kenapa dia jadi ragu seperti ini? Valerie geram sendiri.
"Lagipula nggak mungkin sekali langsung jadi Val, kita.."
"Iya, kita kan bisa coba berkali-kali, ya?"
cup ...
__ADS_1
Victon mengecup sepasang mata indah itu. "Jangan membuatku takut." Ucap Victon seraya mengerutkan alisnya.
"Aku siap!!" Seyakin itu, Valerie kini merentangkan tangannya dan terpampang lah tubuh yang polos nan menggoda itu. Sial sekali memang, Victon yang sejenak ragu kini kembali bangun.
Tidak peduli di mana tempatnya, yang penting mereka saling menginginkannya. Kamar mandi itu kini menjadi saksi bisu di antara dua insan yang tengah bergulat panas.
Berbagai gaya baru terlah di coba. Mulai dari kungkang nemplok pohon, katak melompat, bahkan jaranan sudah mereka jelajahi. Valerie pun hanya pasrah kala di bolak-balik seperti tempe goreng oleh suami tampannya.
Hingga babak terakhir, mereka pindah ke arena tempur yang sesungguhnya. Victon mengerang kala lahar panas itu menyembur dan menyirami lahan subur milik sang istri. Sementara Valerie sudah pasti tak bisa diam saat tangannya menciptakan bekas cakaran di punggung Victon tanda jika permainan itu benar-benar gila.
"I love you so much." Victon menghadiahi kecupan dan kalimat manis itu kemudian merengkuh erat tubuh Valerie yang terlelap.
Melelahkan ..
(Nggak tau lagi, othor nyerah deh 🤐🤐)
.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-