
Keesokan harinya....
hoooeekkk....
Morning sickness yang di alami Victon masih berlanjut. Niat hati ingin cuti dan bermanja-manja dengan istrinya di rumah, sayangnya tanggung jawab itu lebih besar.
Hoooekkkk.....
"Euhhhh..... ya ampun nak jangan siksa papa begini." Lirih Victon seraya menatap pantulan tubuhnya di depan cermin. Tangannya mengusap perut seolah-olah anaknya ada di dalam sana.
"Mau libur aja? jangan di paksa. "
"Nggak bisa, sayang. Perusahaan meluncurkan produk baru, aku harus hadir di sana." Ucap Victon.
Pelukan pagi itu pun sangat bermakna bersamaan dengan munculnya keinginan Valerie tiba-tiba. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah Valerie anggap remeh di masa lalu.
"Sayang, aku mau sesuatu." Ucap Valerie di saat keduanya masih bertahan dalam posisi itu di dalam kamar mandi.
"Hm?"
"Aku ingin lanjut kuliah lagi."
Victon pun membuka mata kemudian perlahan melonggarkan pelukannya. Sorot matanya penuh dengan tanda tanya dan Valerie paham akan hal itu.
"Aku nggak masalah. Apapun yang kamu mau." Sebenarnya, Victon sudah antisipasi jika suatu hari tiba-tiba Valerie mengutarakan hal tersebut. Menikah tidak akan membuat Victon membatasi keinginan Valerie. Selagi masih hal wajar, ia bisa menuruti apapun.
"Kamu kasih ijin?"
Victon tersenyum seraya menyelipkan rambut Valerie. "Kenapa nggak? Bagus dong. Masa depanmu nggak cuma sama aku aja, capai apapun yang kamu mau dan aku akan selalu ada di belakangmu." Ujar Victon.
Sudah cukup rasanya. Valerie bersyukur akan banyak hal, termasuk di pertemukan kemudian per istri oleh pria bernama Victon ini. Dia begitu perhatian dan pengertian.
.
.
Tiga bulan kemudian....
__ADS_1
Berlin, Jerman.
brugh...... Valerie menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk itu kemudian melempar asal tasnya. Melepaskan semua beban dan penat yang ia rasakan setengah hari ini. Rupanya belajar memang tidak mudah, itulah kenapa Valerie membenci hal itu sejak dulu.
"Siang sayang. Gimana hari ini?" Ucap Victon tiba-tiba mendaratkan kecupannya di pipi sang istri.
"Begitulah. Kamu kok udah pulang?" Ucap Valerie heran.
"ini kan jam pulang istriku tercinta. Jadi aku harus ada di rumah." Alasan macam apa itu? Sesuka hati dan seenaknya sendiri. Mentang-mentang boss. Valerie tahu betul siapa yang di repotkan suaminya jika sedang berulah seperti ini.
"Kasihan Aldi sayang. Kamu jahat banget."
"Biarin. Itung-itung buat modal nikah dia sama Zoeya nanti." Ucap Victon asal.
Pria itu tak peduli dan kini menempelkan telinganya di perut menonjol sang istri. "Hai, anak ayah gimana di dalam sana?" Ucapnya kemudian mengusap-usap pelan area tersebut.
"Ayah?"
" emmm..... gimana kalau kita ubah panggilannya? Ayah-Bunda, itu lebih manis menurutku." Valerie tak masalah dengan usulan Victon. Dia hanya sedikit belum terbiasa, sebab hari-hari sebelumnya pria itu selalu menggunakan kata papa-mama.
"Sure." Angguk Valerie.
cup......
"Cepat lahir nak. Ayah nggak sabar mau main bareng."
"Kalau perempuan, ayah bisa kok di ajak main masak-masak sama boneka." Seloroh Victon.
"Emmmm kalau laki-laki, siap-siap aja tanding bola sama ayah ya."
Valerie hanya sebagai pengamat dan pendengar. Sudah biasa baginya mendengar berbagai perkataan random suaminya setiap hari. Katanya, lebih bagus jika di ajak bicara sejak di dalam kandungan sebagai bentuk ikatan batin antara anak dan orang tua.
"Apa kamu punya rencana setelah lulus?" tanya Victon dan masih setia dengan kesibukannya.
"Sebenarnya, aku cuma mau jadi istrimu di rumah. Mengurus suami dan anak-anak kita. Tapi, opa minta ke aku buat ambil alih perusahaan papa. Menurut kamu gimana?" Valerie menatap lembut wajah tampan itu seraya bermain dengan rambutnya.
"Mengurus perusahaan itu bukan hal yang mudah. Aku nggak mau egois, tapi alangkah baiknya kalau mencari orang kepercayaan. Aku nggak kamu nanti terlalu sibuk."
__ADS_1
Sebenarnya yang di katakan Victon ada benarnya. Valerie juga tidak berniat untuk menjadi wanita karir karena tanggung jawab itu pasti bukan main sulitnya. "Aku juga nggak yakin dengan kemampuanku." Ucapnya lirih.
" Aku bukan meremehkan kemampuanmu sayang. Cuma, aku nggak mau kalau kita berdua sama-sama sibuk. Nanti anak kita gimana?" Ujar Victon melemah.
Cup....
Valerie pun tersenyum setelah berhasil mengecup bibir suaminya. "Aku juga berpikir begitu. Makanya aku bilang kan?" Tak salah Valerie merundingkan masalah ini, jadi ia tidak mengambil keputusan dengan gegabah.
"Tapi, kalau kamu mau punya pengalaman boleh kok masuk di perusahaan VCO lagi."
"Jadi apa aku di sana?"beo Valerie.
"Jadi istri presdir haha."
"Btw, kita udah lama nggak melakukan itu." Dengan tatapan nakal, kini Victon sudah menyingkap baju Valerie dan kembali menciumi perut menonjol itu lagi dan lagi.
"Emang boleh?"
"Boleh lah. Kandunganmu kan udah kuat...." Ucap Victon seraya menaik-naikkan alisnya genit.
"Tapi........aaaaaaaahhhhhh geli ....geli...hahahaha."
Apa yang di tanam, maka itulah yang di petik. Sempat tidak percaya jika kebahagiaan itu bisa di capai oleh Valerie. Namun, lagi-lagi ekspektasi tidak sesuai dengan realita.
Kenyataan berkata lain dan ini lah kehidupan yang Valerie impikan selama ini. Sebuah keluarga yang lengkap dan juga harmonis.
...-TAMAT-...
Hai-hai para readers. Sekali lagi othor mau ucapin banyak-banyak terimakasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir.
Tadinya mau othor panjangin, takutnya malah kemana-mana jalannya . Jadi, ya udah sampai di sinilah cerita perjalanan hidup V2 yang bahagia dengan berbagai lika-likunya heheππ...
Boleh, yang punya kritik dan sarannya silahkan tulis di kolom komentar ya. Othor selalu menerima masukan apapun itu, karena bagaimanapun semua ini jauh dari kata sempurna.
Terimakasih semuanya!
Thank you all!
__ADS_1
luv u π
Btw, othor kasih bab spesial kalau ada yang request yaππππ see ya ....