My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 42 Sakit!!


__ADS_3

Drap…drap….drap…


Merasa tidak adil karena hidupnya seakan masih berada di bawah kendali semua orang di sisinya. Pendapat Valerie benar-benar tidak di anggap penting di sini, itu lah kenapa ia marah besar.


Apalagi Victon yang sangat Valerie andalkan, begitu mudahnya percaya dan menuruti keinginan papanya tanpa di pikir matang-matang. Jelas saja Valerie semakin merasa kecewa, padahal sejak awal pria itu sangat tahu bagaimana hubungan Valerie dengan sang papa.


“Semuanya menyebalkan.” Gerutu Valerie.


Berkat kemampuannya saat kabur-kaburan, kini Valerie berhasil keluar dari rumah dengan kedok ingin jogging pagi. Berdasarkan insting, Valerie pun membawa kakinya berlari menelusuri jalanan yang sama sekali tidak ia ketahui.


Wajar saja, ia juga baru pertama kali di lingkungan itu. Setidaknya tubuhnya masih memerlukan adaptasi terlebih dahulu. Sedikit berbeda dengan tanah kelahirannya, namun orangnya tak kalah ramah. Beberapa kali Valerie mendapatkan sapaan pagi.


“Good morning! Have a nice day.” Ucap Bapak-bapak si pemilik toko roti. Valerie pun menanggapinya dengan ramah pula.


Cuaca lebih dingin dari perkiraan dan sayangnya Valerie tidak mengenakan pakaian yang sesuai. “Awww, sakit.” Rintih Valerie seraya meremas perut bagian bawahnya seketika. Sesuatu seperti keluar dari dalam tubuhnya dan jika dugaannya benar, maka mungkin saja itu terjadi.


Beruntungnya, Valerie tidak lupa untuk membawa Handphone dan uang yang dia ambil dari dompet suaminya sebagai bekal persiapan di jalan.


Perut Valerie semakin melilit hingga sesuatu seperti meledak begitu saja. Dia yang sudah panik pun memutuskan untuk mencari supermarket terdekat guna mencari kebutuhannya.


“Ays, kenapa harus sekarang sih? aku kan nggak bawa ganti.” Gumam Valerie yang sudah berhasil menemukan sebuah supermarket.


Seusai membeli keperluannya, Valerie memutuskan untuk mencari toilet umum. Namun, tiba-tiba beberapa pria bertato menghadang jalannya. “Hallo hubsche!!” Ucap salah satu dari mereka seraya mengedipkan matanya. Entahlah, mungkin saja kelilipan.


(hubsche : cantik )

__ADS_1


“Hah? dia ngomong apa?” Belum tuntas rasa penasarannya, tangan Valerie tiba-tiba di tarik. Namun, dia segera menepisnya secepat mungkin.


Detik berikutnya, Valerie pun memilih untuk berlari karena kondisi tubuhnya sedang tidak nyaman untuk bergulat. Meski bisa pun, dia tidak akan melakukannya.


Hah…hahh…..


Rupanya Valerie yang salah melewati jalan. Kawasan tadi memang terkenal banyak premannya. Sejatinya ia memang pelari yang handal maka dengan mudah pula ia bisa mengelabuhi para pria berbadan gempal tadi.


“Heh, keberatan badan kalian!!” Ejek Valerie dan masih menambah kecepatan pada kakinya. Tanpa sadar Valerie terlalu sibuk berlari hingga tidak tau di mana dia sekarang.


Drrtttt….drttt…. Ponselnya berdering dan Valerie pun langsung mengangkatnya. “Kamu dimana?!!” Tanya Victon yang sudah sepanik apa.


“hah…hah..akuh nggak tauh!!” Ucap Valerie dengan napasnya yang terengah-engah. Ia memilih berhenti sejenak agar bisa berbicara lebih jelas lagi.


“Maaf. Aku cuma mau olahraga pagi. Mana tau kalau shhhhhh….awww.”


“Halo? Sayang, kamu kenapa?”


Kenapa sakit sekali rasanya. Valerie kembali merintih kala sakit itu muncul lagi. Sungguh nano-nano sekali hingga ia menggigit bibir dan tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Sudah tak sanggup berjalan lagi, akhirnya Valerie memutuskan untuk duduk sejenak di bawah pohon.


Sebenarnya banyak orang berlalu lalang, tapi tidak ada yang Valerie kenal dan ia malu untuk bertanya dulu. “Aku nggak papa. Bisa tolong jemput aku?” Valerie kembali berbicara pada benda pipihnya yang masih tersambung.


“Kirim lokasi!! Aku kesana sekarang.”


.

__ADS_1


.


.


.


Beberapa menit kemudian…


“Di sini ternyata.” Ucap Victon kemudian menghampiri Valerie yang sedang terduduk lesu. Ia pun berjongkok untuk menjajarkan posisinya.


“Ayo pulang.” Ajak Victon seraya mengusap pelan pipi Valerie.


“Boleh aku pinjam jaketmu?” Valerie membutuhkan sesuatu untuk menutupi bagian belakangnya. Tak malu pula, ia menunjukkan gambar pulau yang cukup besar di celananya sebagi bukti membuat Victon yang tak tau apa-apa menjadi panik sendiri melihat bercak merah itu.


“Berdarah? Kita ke rumah sakit sekarang!!” Victon mengerutkan alisnya dan secepat itu membopong tubuh Valerie tanpa permisi. Sudah terlanjur, ia beranggapan jika Valerie tengah sekarat saat ini dan harus cepat di beri pertolongan.


“Tunggu dulu!! ini cuma hal biasa, nggak perlu ke rumah sakit.” Tolak Valerie.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2