
"Ayah."
"Hm?" Victon menoleh sekilas ke arah suara imut itu. "Kenapa sayang?" Suara beratnya keluar bersamaan dengan senyum khasnya.
Zyan yang biasanya tak banyak bicara, kini menjadi cerewet. Pengaruhnya bisa saja karena bertemu dengan teman sehati. Sebab sejak tadi yang di bahas semua tentang Cheryl dan Cheryl lagi.
"Ayah kenapa lebih sayang sama Cheryl? Dari tadi sama dia mulu.... terus kita nggak pulang ke rumah lagi yah? Enak sama oma-opa aja, nggak usah pulang ke Jerman ya yah....." Ucap Zyan tanpa henti.
Celotehan itu membuat Valerie dan Victon terkekeh bersama. Jarang bicara, namun sekalinya membuka mulut Zyan berubah menjadi reporter seketika. Inilah kenapa Victon dan Valerie sepakat untuk melihat sendiri tumbuh kembang putranya, tanpa melibatkan pengasuh dan yang lainnya.
"Mana ada ayah begitu?" Ucap Victon dengan lembut tanpa menghilangkan fokusnya saat menyetir.
"Ada! Cheryl juga curang.
masa mamanya nggak boleh aku pinjem. Tapi dia ambil ayah suka-suka....... aku sama bunda aja ah, males sama ayah." Zyan berpaling. ia memilih untuk menelusup dalam dekapan hangat Valerie seolah-olah memang tengah merajuk dengan ayahnya.
Seharusnya perebutan hati itu dengan Valerie bukan dengan Cheryl yang jelas-jelas jarang sekali bertemu. Namun, Victon sendiri tidak bisa pilih kasih sebab sebelum Zyan ada, ia memang sudah dekat dengan kecilnya Cheryl.
"Cieeee ngambek nih? masa iya jagoan ngambekan begitu heh?" Victon menoel-noel pipi gembul Zyan guna memancing huru-hara.
Benar saja, belum beberapa detik baju depan Valerie terasa hangat dan basah. Rupanya menangis dalam diam sudah menjadi kebiasaan Zyan yang kerap kali membuat Valerie sering tak paham.
__ADS_1
"Sayang, Zyan nangis nih........kamu ih!!" Melihat Victon tak berhenti menggoda Zyan justru membuat Valerie ikut-ikutan kesal.
"Nangis apa? nggak ada suaranya gitu kok......" Victon tak percaya dengan perkataan itu jika saja Valerie tidak memaksa Zyan untuk menunjukkan wajahnya.
"ini..."
Mata memerah dan ingus meluber kemana-mana. Hebatnya Zyan bisa menahan suara dan sesenggukannya hingga Victon sendiri tak percaya.
ciiitttt..... Victon pun menepikan mobil di tempat aman kemudian beralih pada Zyan tentunya. "Ya Allah......sini-sini, gendong ayah mau?" Zyan menunduk dan menggigit jari sebelum akhirnya menjawab dengan anggukan. Demi apapun imut sekali. Victon tak kuasa menahan gemas putranya itu.
Ceklek.....
"Jajan dulu bentar, ayo ikut sekalian."
Di mana-mana, anak kecil memang mudah di bujuk dengan iming-iming jajan. Terlebih malu-malu tapi mau adalah tabiat asli Zyan sejak dini.
Awalnya terus menerus menyembunyikan wajah di dada ayahnya. Namun, Victon punya cara jitu bagaimana membujuk Zyan kecil. " Yakin nggak mau? it's delicious...... liat ayah nih. heeeemmmmmm enyak....enyak...enyak." telur gulung legendaris yang menjadi jajanan khas jalanan kini menjadi senjata pamungkas bagi Victon.
cup...cup...
Victon mendaratkan kecupan di pipi Zyan yang masih cemberut dan sesekali menyeka air mata. "Udah dong ngambeknya. Nanti ayah turutin semua yang Zyan mau, gimana?" Ucap Victon.
__ADS_1
"Pesen yang original ya pak." Valerie pun membeli satu porsi telur gulung yang cocok untuk lidah putranya. Tidak terlalu suka pedas dan asin, rasa hambar yang kembali mengingatkan Valerie akan sesuatu.
"Mau itu yah...." Tunjuk Zyan pada penjual lato-lato di ujung jalan.
"Siap!!..... satu apa banyak?" Goda Victon lagi kala Zyan sudah terlihat lebih baik.
"satu."
Tek....etek.....tek....etekk.... Begitulah bunyi khas dari pantulan dua buah bola plastik itu. Bersahutan dan membentuk sebuah instrumen musik, menyenangkan rupanya hingga Victon pun turut ikut bergabung.
"Emang bisa mainnya?" Tanya Valerie seraya menyuapi telur gulung itu dan Zyan tidak peduli karena asyik dengan mainan barunya.
Tak harus selalu mewah hanya untuk sebuah senyuman. Sebuah ungkapan 'i love you' atau 'aku mencintai kalian selamanya' pun tidak harus selalu di ucapkan, sebab kasih sayang bisa di tunjukkan dengan tindakan dan juga kebersamaan.
...-SELESAI-...
- Mizyan Afzal Abbasy
yang abis ngambek🌚🌝
__ADS_1