
Malamnya, 10 PM
“Kalian terlalu berlebihan. Aku tidak membutuhkan sebanyak itu, cukup tinggalkan dia saja.”
Pip…
Do you think about me now?
Malam cukup cerah bagi Victon untuk menikmati taburan bintang dari balkon kamarnya. Asap itu mengepul dari nikotin yang kini ia hisap. Ia tengah melamun dan pikirannya sedang tak sehat karena ulah seorang gadis.
Setelah cinta monyetnya jaman sekolah dulu, Victon sempat menutup hati dengan kehadiran wanita dalam hidupnya. Berkali-kali orang tuanya menjebaknya dalam perjodohan, namun berujung dengan kegagalan. Mungkin jika perlu, akan di adakan sayembara agar Victon segera melepas masa lajangnya, memang sekhawatir itu kedua orang tuanya.
“Haahhh…” Entah sudah berapa kali pria itu menghela napas. “Cepatlah pagi, udah nggak sabar.” Ucapnya seraya menghisap kembali batang rokok yang terselip di jarinya. Senyumnya melengkung pasti menghiasi wajah tampan itu.
Di sisi lain…
Huuuuaaaaaaccchhhuuuuuuu!!
“Duh, siapa yang ngomongin aku?.” Ucap Valerie seraya menggosok hidungnya.
Sepotong martabak yang ia kunyah bahkan menyembur keluar semua. Sayang sekali, padahal suapan itu penuh extra topping coklat, keju dan kacang. “issshhhh mubazir.” Geram gadis itu seraya membersihkan bekas semburannya yang berceceran di lantai.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya, Valerie berangkat pagi-pagi sekali dan memecah keramaian jalan dengan si Coco kesayangannya. Sampai di parkiran ia pun segera menempatkan kuda besinya dengan aman. ia tidak tahu kala sepasang mata tengah memperhatikannya dari jarak yang tak jauh.
greb...brughh...
Langsung saja ia memutar tubuhnya secepat kilat dan berniat untuk menekan balik lawannya. Sayang sekali, serangan itu malah berbalik dan kini malah Valerie yang terpojok.
“Sssstttt!! Kenapa kamu gampang banget mukulin orang?” Ucap Victon dengan jarak wajahnya yang amat dekat. Valerie di buat tertegun dengan suara bariton itu di telinganya. Sungguh, ia tidak berharap mengawali paginya dengan hal-hal seperti ini.
“Lepas!! Pak, jangan begini.”
Detik berikutnya, Victon kembali mengikis jarak membuat Valerie ingin mundur. Namun posisi sudah terpojok, jadi tidak ada yang bisa di lakukannya. “Mau apa?” tanya Valerie dengan sorot mata tajamnya.
Bukannya menjawab, Victon malah tersenyum. Napasnya semakin terasa dan sontak saja Valerie melipat bibirnya ke dalam. Bukan, itu hanyalah bentuk antisipasi. Stigmanya terhadap pria tetaplah sama, yaitu cabul .
"Jangan ge er. Aku mau lepasin ini."
Ternyata helm. Ya ampun, Valerie lupa untuk melepasnya tadi. Meski tahu jika itu hanya akal-akalan Victon saja, nyatanya wajah malu Valerie tak bisa di tutupi.
__ADS_1
Greb...
"Maaf sebentar aja." Tanpa aba-aba Victon kembali menarik Valerie ke dalam pelukannya. Sebenarnya apa yang di inginkan pria ini, Valerie selalu tak mengerti. Dia selalu bebas sekali seolah-olah pemilik tubuh itu tak memiliki hak.
Padahal hanya pelukan dan Valerie sudah panik sekali. Meski akhirnya ia pun menyerah karena kekuatannya masih tidak sebanding dengan pria kekar seperti Victon.
Tidak apa, Victon tak masalah. Asalkan tidak di pukul atau di tendang seperti biasanya, itu sudah cukup. Rasanya kapal Victon yang karam, kembali berlabuh karena di pertemukan oleh wanita seperti Valerie.
Valerie amat berbeda dari kebanyakan wanita yang ia kenal. Ada yang merayu hanya demi sebuah kesepakatan kerja, atau mengatasnamakan cinta namun palsu. Semua hanya melihat cover seorang Victon yang tampan, kaya dan mapan.
Cinta atau sebatas suka? Entahlah, yang jelas Victon tidak membenci gadis di pelukannya ini. Dia kasar tapi Victon suka.
" Val? bisa berhenti menghindari ku?"
"Apa nggak ada pembahasan lain?." tanya Valerie sekenanya.
"Okay kalau gitu. Boleh aku menciummu?" Di kasih hati, minta ginjal. Valerie bertanya-tanya, apa di kepala Victon hanya ada hal-hal mesum. Wajar jika ia berpikir demikian, Victon sudah berkali-kali berbuat seenak hati tanpa melihat risihnya Valerie di perlakukan begitu.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-