
“Masih ada 10 menit lagi. Boleh aku tanya sesuatu?”
“hmmm. Tanya aja.” Jawab Valerie seraya mengangguk. Keduanya masih bertahan di posisi yang sama, namun tak salah satu pun dari mereka ingin menyudahi karena sejatinya sama-sama lengket seperti lakban.
“Di dalam circle mu, apa mungkin tahu ancaman di balik musibah ini?”
“Circle katanya?” Berbobot sekali. Valerie terhenyak akan ucapan Victon hingga matanya otomatis terbuka. Bukan seolah-olah tidak memasang telinga atau membuka matanya dengan lebar. Hanya saja, memang otaknya tidak lah sepandai itu dalam menyerap informasi.
“Kami tahu secara garis besar aja sebagai bekal menjalankan tugas. Setiap orang memiliki tugas sama tapi fungsi yang berbeda. Kamu pasti udah tau kalau salah satu dari kami adalah agen rahasia. Yang pasti, aku bukan .” Jawab Valerie apa adanya.
Valerie mengemban tugas ini karena di percayai akan ketangkasannya bukan kecerdasannya. Otaknya yang hanya beberapa mili itu tidak mungkin bisa memahami hal yang rumit dan berbelit-belit.
“Benarkah? Ku kira kamu itu seorang mata-mata.” Victon menyisir anak rambut Valerie dengan jemarinya. Dia berusaha menciptakan moment romantis yang singkat itu, meski pembahasannya entah kemana.
Valerie memejam lagi seraya menikmati usapan-usapan itu. Nyaman sekali, hingga ia benar-benar terlena. “Banyak yang salah paham. Aku nggak sepandai itu. Kuliahku aja berantakan dan akhirnya pekerjaan ini jadi satu-satunya cara buat aku lari dari papa.”
“Kuliah?” Beo Victon.
“Eeemmm, Jujur aja aku nggak suka belajar dan papa selalu maksa aku mempelajari bisnis. Jadi, aku berhenti deh.”
Valerie mungkin salah satu wanita unik di planet ini. Di kasus berbeda, hidup bergelimang harta menjadi suatu anugerah terindah. Bahkan beberapa rela mempertahankannya, meski di bawah tekanan sekalipun.Teruntuk Valerie itu tidak berlaku.
Padahal menjadi bodyguard termasuk pekerjaan berat. Tetapi gadis itu tetap teguh pada prinsip hidupnya yang ingin bebas.
Victon kini terkekeh kemudian mencubit pipi Valerie saking gemasnya dia. “Papa tau kalau kamu berhenti?” tanya Victon lagi dan di jawab Valerie dengan gelengan kepalanya. Atau lebih tepatnya dia yang tidak tahu. Valerie paham betul bagaimana sang papa yang selalu mengawasinya.
__ADS_1
“Papa pasti begitu supaya masa depanmu tertata dengan rapi. Jadi….”
“Ck, jangan bahas itu lah. Males aku dengernya.” Suasana hati Valerie sedang buruk karena bertemu mantan dan mendengar ucapan Victon malah semakin memperparah saja. Rasanya dia ingin pergi sekarang juga.
“iya…iya .. nggak bahas lagi. Jangan pergi dulu!! masih ada 5 menit lagi.” Memang salah sekali mulutnya, Victon tidak berniat untuk menyulut api. Namun, ia tidak tahu jika pembicaraan itu menjadi sensitif kala membawa nama sang papa.
“Kalau begitu aku tanya yang lain. Apa kamu udah tinggal di Indonesia sejak kecil?” Tanya Victon seraya menarik gadis pemarah itu kembali duduk di pangkuannya.
“Kok aku kayak di interogasi begini? Jujur, kamu mau informasi apa dariku? Walaupun aku nggak pintar, tapi juga nggak sebodoh itu.” Valerie berkata dengan nadanya yang tegas seraya memicingkan matanya.
Ketahuan deh! Memang Victon berusaha mencari informasi. Sialnya lagi, semua petunjuk mengarah pada keluarga Giovanni, sedangkan data yang dia peroleh sangat sedikit atau mungkin juga di tutup rapat. Tidak ada hal yang menarik selain hari, tanggal dan tahun peristiwa pembantaian 32 tahun silam.
Victon sempat berprasangka buruk akan keterlibatan keluarganya dengan Giovanni. Namun demi menjaga hati sang kekasih, ia harus menyaring dan memilih kata yang tepat agar tidak membuat perkara jadi tambah sulit.
Sungguh, Victon tidak ingin menuduh atau bagaimana. Namun salah paham tiba-tiba terjadi kala Valerie sudah meninggikan suaranya.
“Hei…hei, ini cuma asumsiku aja. Aku juga belum yakin.” Victon menggenggam tangan Valerie yang sudah mengepal itu. “Kan kamu duluan yang kasih tau aku tentang pamanmu itu. Iya kan?” Ucap Victon selembut mungkin.
Yang membuat Valerie marah adalah karena Victon seolah-olah ingin menyudutkan dan membuatnya terlihat seperti dalang di balik ini semua. Padahal sudah Victon jelaskan jika maksudnya tidak begitu.
“Kok dia sensitif banget sih?” Batin Victon bingung seketika. Bingung hendak bagaimana , karena Valerie tipe wanita yang keras kepala. Jika terus berdebat bisa-bisa mereka bertengkar setelahnya. ia tidak mau hal itu terjadi.
.
.
__ADS_1
.
.
2 jam kemudian, di ruang meeting.
Semua orang bubar kecuali seorang perwakilan dari rekan bisnis Victon. Kini, tersisa lah 3 orang di dalam ruang meeting itu karena Aldi memilih berlalu dengan kesibukannya.
“Boleh saya bertanya?” Tanya wanita bernama Sonya.
"Dia mau apa?" Valerie sudah mengamati gerak-gerik wanita itu sejak tadi. Aneh tapi nyata. “Ehemmm. Silahkan.” Victon pun sama ragunya.
Nampak sekali di sengaja saat Sonya membusungkan dada seakan menunjukan belahannya yang menarik. Salah sangka saja dia. Victon bahkan tidak bergairah sedikitpun.
Kendati begitu, tindakan wanita itu sudah melewati batas. Tangannya sudah merayap di lengan Victon dengan gaya sensualnya, kemudian dia duduk menyamping di atas meja besar itu tepat di hadapan Victon yang masih berwajah datar.
“Apa anda sudah menikah?.” Tanya Sonya lagi dengan ekspresi yang membuat Valerie ingin muntah.
Greb…
.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-