My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 44 Enak kan?


__ADS_3

" ......ssshhhhh."


"Aku mau hakku sekarang, jadi jangan menolak!.”


Hak apa? Valerie tengah merintih kesakitan begini, bisa-bisanya pria itu membicarakan tentang hak. Sudah Valerie duga jika akan berakhir begini, salah strategi kini malah dia sendiri terkena imbasnya.


“hei…hei….aku lagi datang bulan!! Perutku sakit banget….sshhhhh.”


Siang-siang bolong meminta hak, memang dasar Victon sinting. “Salah sendiri nggak di ambil malam itu, malah akunya di bikin pingsan.” Perkataan Valerie membuat Victon menciut seketika, jleb sekali rasanya.


“Terus ini gimana?” Rengek Victon seraya menunjuk bagian bawah perutnya. Ingin lanjut tapi tidak bisa, karena kondisi Valerie yang tidak memungkinkan.


“Ya udah puasa.”


Plak…


Dengan teganya Valerie menampar senjata pamungkas milik Victon hingga benda itu loyo seketika. Bisa-bisanya wajah Valerie setenang itu setelah berani menggoda, membuat Victon pasrah bersandar di pundak Valerie. Keduanya sama-sama dewasa dan sangat paham jika itu kebutuhan, namun apa boleh buat jika sudah begini adanya.


“Aku sakit, bisakah kamu perhatian sedikit?” Keluh Valerie seraya menggesekkan kepalanya di dada Victon.


Langsung saja Victon berdiri dengan mengangkat Valerie yang seperti koala. Di bawanya tubuh itu ke pembaringan kemudian merebahkannya pelan. “Apa perlu sesuatu? Biar di buatkan sama bibi.” Tanya Victon.


“Susu hangat dan air hangat di botol buat kompres.”


“Sebentar.” Singkat Victon kemudian meninggalkan kamar. Beberapa saat kemudian, Victon kembali dengan nampan di tangannya dan saat itu pula Valerie di buat terpana untuk kesekian kalinya. Wibawa dan wajah tampan bossy itu kini benar-benar nyata menjadi sosok yang begitu lembut di depan Valerie.


Valerie bisa menikmati perhatian itu lagi. Kehangatan ini amat ia rindukan membuat Valerie kembali berpikir jika jodoh yang di siapkan oleh Tuhan benar-benar yang terbaik dan telah menggantikan cinta masa lalunya yang buruk itu.


“Ini buat apa?”

__ADS_1


“Kompres. Taruh di perut begini biar nyerinya berkurang.”


Valerie meraih botol berisi air hangat itu seraya memberi contoh cara menggunakannya. Melihat niat Victon yang ingin membantu membuat Valerie terkekeh lucu. Sisi baru yang Valerie tahu dari sosok Victon. Berbeda dari biasanya yang selalu kaku seperti kanebo kering, kini Victon menjadi selembut kapas.


“Sini aja, rebahan di sampingku. Kita ngobrol-ngobrol.” Ajak Valerie seraya menepuk sisi sebelahnya. Memang waktu yang paling pas untuk bersantai karena perubahan cuaca yang menjadi dingin.


“Sini biar ku pijit-pijit.” Ucap Victon seraya mencari posisi kemudian menelusupkan tangannya untuk memberi pijitan.


Rasanya nyaman sekali hingga tanpa sadar Valerie semakin ingin merapat. Valerie menjadikan lengan Victon yang satu untuk bantalan seraya menikmati usapan-usapan pelan di perutnya.


“Sayang, umur kamu berapa?” tanya Valerie.


“Tiba-tiba?” Beo Victon dan masih pada kegiatannya.


“Cuma mau tau.”


“Berarti selisih kita 10 tahun? Wow.” Valerie cukup terkejut, meski ia sudah sempat mengira begitu. Pria matang seperti Victon tidak mungkin masih berondong, tapi kalau berondong tua ia percaya.


“Kenapa? apa aku terlalu tua?”


“ Iya.”


Jleb...


“Nggak papa. Yang penting baik, kaya dan tampan.” Valerie sempat lupa jika manusia ini memiliki tingkat percaya diri di level yang berbeda. Sudah tak heran lagi, hanya saja menyebalkan.


Victon terkekeh sejenak kala melihat raut wajah datar istrinya. “Sekarang aku. Berapa banyak mantanmu?”


“Cuma satu.” Ujar Valerie.

__ADS_1


“Cuma? Kamu nggak berniat untuk punya lagi kan?”


“Nggak ada. Kan kamu yang terakhir.” Jawaban itu sederhana, namun maknanya sangat dalam bagi Victon. Bisa-bisanya Victon merasa terharu akibat ucapan Valerie yang memang apa adanya.


“Emangnya kamu mau jadi mantan suami?”


Dueng…


Victon sudah salah mengira jika Valerie benar-benar romantis, nyatanya itu hanya tipu belaka. Darimana terbesit pemikiran seperti itu? Victon tidak berharap sama sekali. Kesal rasanya, hingga Victon pun tanpa sengaja menarik tangannya yang menjadi bantal kepala sang istri dengan cepat.


Tidak tahu jika tindakan tanpa aba-aba itu membuat Valerie tidak ada persiapan. Brughhh… Posisi Valerie yang memang berada di pinggir kini jatuh menggelundung ke bawah akibat ulah Victon yang tanpa teori itu. Selau saja begini, pembicaraan ringan yang awalnya baik-baik saja pasti berujung dengan pergulatan.


Sejatinya, emosi Valerie saat ini sedang mudah tersulut hingga mereka pun berakhir dengan perang bantal dan guling. “Kamu tega!! Badanku jadi sakit semua kena lantai keras begini, iiiiiihhh!!” Valerie tak henti-hentinya memberi serangan guling pada Victon yang tengah berlindung di balik selimut.


Bugh….bugh…


“Awwww….sakit sayang!!”


“Enak kan?”


Begitulah keharmonisan rumah tangga Victon dan Valerie yang baru saja di bangun kurang lebih satu hari yang lalu.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2