My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 45 Rahasiaku Adalah Kamu


__ADS_3

Sore itu...


“Tenangnya cuma pas tidur.”


Victon mengamati wajah cantik Valerie yang tengah terlelap. Begitu tenang hingga sesaat ia lupa akan kerusuhan yang terjadi beberapa saat lalu. Cup… “Tidur yang nyenyak, aku pergi sebentar.” Setelah mendaratkan kecupan di kening istrinya, Victon pun beranjak dan hendak mengganti busana sebelum pergi.


Resah kembali Victon rasakan kala langkah kakinya menuntun untuk meninggalkan kamar itu. Bukan tentang dirinya, melainkan semua hal yang terkait dengan Valerie. Rasa bersalah itu semakin hari semakin menggerogoti tubuh Victon perlahan. Namun semua ini dia lakukan demi menjaga kepercayaan yang susah payah ia dapatkan dari Valerie.


“Maaf.”


Ceklek…


.


.


.


.


Klatak…klatak…klatak…


Hiyak…hiyak!!


“Di sini pak. Sejak dia memilih pensiun, beginilah kehidupannya.” Jelas Aldi.


Seorang pria tengah menunggangi kuda putih memutari pinggir lapangan. Semangat dan wajah ceria terlihat jelas di wajah pria bernama Carl Eginhardt. Dialah pemilik lapangan pacuan kuda sekaligus orang penting yang sulit sekali Victon temui akhir-akhir ini.


“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah satu pria berbadan besar. Otot tangannya yang berurat nampak jelas membuat Aldi dan Victon mundur seketika.


“Carl. Aku ingin bertemu dengannya.” Ucap Victon berusaha tetap berwibawa.


“Boss? Sebentar…..”

__ADS_1


Gleg… Meski sama-sama berperawakan besar dan kekar, entah kenapa Victon merasa ngeri dengan pria berkepala botak tadi.


Beberapa saat kemudian, Victon berhasil menemuinya “Carl, kau ingat aku?” Tanya Victon pada Carl yang sedang turun dari kudanya.


Pria itu menoleh, “Kau? What the….Victon?!!” Ucap pria bernama Carl dengan bersemangat.


Mereka pun saling berpelukan layaknya teman yang tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Berbasa-basi ria menceritakan masa lalu secara singkat. Beberapa menit kemudian, pembicaraan basa-basi itu berubah ke topik yang lebih serius.


“Kau tidak mungkin hanya menanyakan kabarku saja kan? katakan, apa tujuanmu.” Seringai tipis itu muncul di ujung bibir Carl. Sejak dulu dia tahu bagaimana Victon karena hubungan mereka bukan sekedar teman lama saja.


Victon pun menoleh kemudian bersandar di pagar kayu seraya menghela napasnya pelan. “Aku butuh bantuanmu.” Ucap Victon.


“Aku tidak akan kembali Vic. Kau kira aku tidak tau kalau cecunguk itu orangmu hah?” Ucap Carl seraya melirik Aldi yang memalingkan wajahnya.


Sejak beberapa hari yang lalu, Aldi menemuinya dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal, sebelum akhirnya Carl menyadari jika ini semua ulah Victon.


“Aku ingin menjalani hidup yang normal, menjauh dari gerombolan orang-orang berkuasa sepertimu.”


Ucapan itu sedikit menyayat hati Victon. “Common bro. Aku seorang pebisnis, bukan penjahat. Ini ku lakukan demi istriku.” Tidak ada yang salah. Meski tidak sepenuhnya, tujuan utama Victon memang demi keselamatan Valerie.


“Berbahagialah dengan istrimu. Menyerahlah sebelum semua hal menjadi semakin rumit. Sorry bro, aku tidak bisa membantumu.” Carl menepuk pundak Victon sebelum melanjutkan langkahnya.


“Seseorang menginginkan nyawa istriku, dan kau ingin aku menyerah?.” Victon sedikit meninggikan nada bicaranya satu oktaf, berharap jika Carl mau mendengarnya dan itu berhasil.


“Aku tidak bisa kehilangannya lagi.”


Biarlah jika terdengar menyedihkan sekalipun. Victon hanya ingin Carl mengerti keadaannya. Tidak ada rekayasa, Victon memang berucap sejujurnya.


Carl pun berbalik lengkap dengan wajah seriusnya menatap Aldi dan Victon bergantian. “Harapanmu terlalu besar Vic. Aku sudah lama berhenti dan hidupku jauh dari dunia luar sana, jadi….”


" Aku yakin kau masih memilikinya.” Ucap Victon meyakinkan.


“ Ini kasus lama.” Victon menatap lekat netra Carl bersamaan dengan langkahnya yang mendekat. “Ku tekankan, aku seorang pebisnis. Kita bisa bicarakan tentang keuntungannya nanti, okay?” Bisik Victon di telinga Carl seraya tersenyum miring.

__ADS_1


.


.


.


Sementara itu…


Dor …


Bidikan itu tepat mengenai titik pusat papan target jauh di depan sana. Sebagai kegiatan sekaligus melatih skill, Valerie sengaja meminta Victon untuk menyiapkan ruang latihan khusus untuknya. “Apa tujuannya? Dia berkali-kali membahas kasus itu.”


Valerie kembali memicingkan matanya di balik kacamata khusus itu seraya menguatkan sudut pas tangannya yang hendak membidik lagi.


Dor…


Tembakan kedua sedikit meleset. “Apa dia mencurigaiku?”


Dor…


Dorr…


Dor….


Hatinya sedikit memanas karena berbagai pemikiran itu hingga bidikan yang terakhir melesat jauh mengenai dinding. “Sial! Huh!!”


“Tolong bereskan ini!!” titah Valerie pada seorang penjaga yang sejak tadi tak jauh darinya.


“Baik nyonya.”


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2