
"Aku takut....hiks..."
Valerie terbata-bata mengucapkan kata-kata itu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana ledakan bom itu terjadi. Terlambat sedikit saja ia melarikan diri, mungkin tubuhnya sudah hancur berkeping-keping bersamaan dengan runtuhnya gedung tersebut.
"Aku disini."
Victon ingin mengingatkan jika Valerie tak perlu takut lagi karena ia akan melindunginya. Rasa sesak yang tadinya menyerang kini terasa plong dengan adanya gadis itu yang kini berada dalam jangkauannya.
Sedikit pun Victon tidak pernah menjauhkan hatinya dan mengenai sikap dinginnya tempo hari hanya untuk menguji perasaan Valerie saja sebenarnya.
"Kamu berhasil. Makasih udah kembali dengan selamat."
Victon pun melonggarkan pelukannya, kemudian tangannya terulur menarik tengkuk leher Valerie agar lebih dekat. Tidak bermaksud lancang, namun nalurinya datang dengan sendirinya. Victon tidak bisa mencegah kala bibirnya sudah menyentuh milik Valerie dan melum**at-nya pelan.
Cup...
Kali ini tidak ada penolakan. Seharusnya bukan begini urutannya, namun Victon sudah menyerah dengan jiwa lelakinya yang kini mendominasi. Perlahan ia menyesap dan merasakan rasa manis dari bibir ranum itu. Ia kini ketagihan, sedangkan Valerie masih diam terpaku tanpa bisa membalas.
Murni sebagai ungkapan kasih dan sayang, Victon tidak berniat untuk menyelipkan nafsu di balik pagutannya itu. Tentu saja Valerie gugup. Bukan tanpa alasan, Sentuhan fisik seperti ini sangat Valerie hindari karena respon tubuhnya amat mengganggu.
deg...deg...
Detak jantung Valerie semakin cepat dan matanya membola seraya menatap wajah tampan Victon yang memejam menikmati kegiatannya itu.
"Tenanglah." Ucap Victon mencoba untuk menghibur. Ia sangat tahu penolakan itu masih ada dan terlihat jelas dari reaksi tubuhnya. Paham sejak awal, sesungguhnya tidak sulit memahami jika itu adalah sebuah trauma. Mengenal watak Valerie cukup lama, ia tahu jika gadis itu tidak selemah ini.
__ADS_1
Gerakan mulut, tangan dan matanya saja tidak sinkron. Victon tetap menekannya guna membantu agar Valerie bisa melepaskan diri, Alih-alih terus terbelenggu dalam ingatan kelam itu.
Kini, Valerie merasakan deru napas Victon yang menyapu tiap inci kulit wajahnya. "Dia pria yang baik." Pujian yang jarang sekali di utarakan, sudah tentu karena selama ini Valerie belum menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri pria di hadapannya ini.
Valerie kembali menangis kala keningnya menyatu dengan milik Victon. Sama-sama merasakan hal yang sama, dan Valerie seakan hanyut pesona Victon saat itu juga.
Cup...
Kecupan terakhir di bibirnya. Victon harus segera menyudahi karena aroma gelenyir itu amat semakin mengganggunya. Takut jika semakin lama malah infeksi nantinya. "Maaf, seharusnya aku bisa menahan diri."Sesal Victon kemudian membopong tubuh Valerie dan membawanya pergi.
Sakit, Valerie masih merasakan perihnya di beberapa bagian alat geraknya. "Sa...kit ....ssshhh." keluh Valerie seraya mendesis pelan. Ia hanya pasrah bersandar di dada bidang itu dan menurut kala tubuhnya di bawa entah kemana.
"Pak anda baik-baik saj....loh Valerie?"
" Maaf pak."
" Cepat, kita harus ke rumah sakit!"
.
.
.
Sampai di rumah sakit....
__ADS_1
pip...pip...pip...
"Tolong jangan terluka lagi." Victon pun memejam seraya mengecup cukup lama kening Valerie yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ia menelisik wajah sendu yang tak sadarkan diri itu. Seharusnya, Valerie tidak terlibat dalam masalahnya. Jika tidak, pasti hasilnya akan berbeda.
"Kamu bisa bergantung dan menggunakanku. Aku juga bisa menopangmu kalau kamu nggak sanggup berdiri, jangan memaksakan diri Val." Ucap Victon lirih.
Tangannya mengusap pelan pipi dan luka yang terbalut perban di wajah cantik itu. Victon melemah melihat gadis yang amat di sukainya terbaring lemah seperti ini. Demi apapun ia tak akan membiarkan bedeb**h sinting itu berhasil melepaskan diri. Victon bersumpah jika akan membalas perbuatannya.
tok..tok...tok...
" Pak, saya dapat informasinya."
"Berikan padaku!" Jawab Victon dengan nada dinginnya seraya menerima laporan penting dari tangan Aldi.
.
.
.
-To Be Continued-
Visual : VICTON GHAFFARI
__ADS_1