My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB SPESIAL 5


__ADS_3

2 bulan kemudian, pagi itu di kediaman Victon.


Ding....dong...


"Astaga!!" Aldi tersentak kala pintu terbuka kemudian menampakkan sosok yang mengerikan.


"Mau apa?! Jangan bawa kerjaan Al, aku masih cuti. Kau kan wakil direktur. Jadi, semua ku percayakan padamu sepenuhnya." Ucap Victon dengan nada tak bersemangat.


Aldi terkejut dengan penampilan baru calon kakak iparnya itu. Mata menghitam, jambang dan rambut tidak terawat, tak lupa juga baju dan celana kolor super lusuh benar-benar membuang citra boss besar seorang Victon.


Maklum, si papa baru kan sedang melakukan perannya dengan baik. Siap siaga di setiap saat istri dan anaknya membutuhkan bantuan. Namun ternyata tidak semudah yang Victon bayangkan.


Di tambah, kepulangan sang mama seminggu yang lalu membuatnya kwalahan mengurus Zyan. "Pak saya cuma mau......" Belum selesai Aldi berucap suara seseorang sudah mendahuluinya.


"Sayaaaaaannggg, ASI buat Zyan manaaaaaaa?!!!! Panasin sebentar aja, jangan lama-lama!!" Teriak Valerie entah di mana.


"Sebentar!!"


" Aku sibuk Al, nanti aja chat kalau nggak Vidcall......okay?" Ucap Victon yang secepat itu meninggalkan Aldi yang masih terpaku di depan pintu ruang tamu.


Aldi menggeleng-geleng. Sebab Victon yang memakai sandal berbeda jenis di sepasang kakinya. Lucu tapi juga kasihan sebenarnya.


"Emang bener.....IQ-nya udah merosot."

__ADS_1


.


.


.


.


Ceklek....


"Siapa? kok lama?" Valerie menatap nanar pria yang membawa sebotol susu premium di tangannya. Valerie penasaran karena samar-samar mendengar suaminya berbicara dengan seseorang.


Sempat cemas juga kalau-kalau tragedi mangkuk pecah atau minyak tumpah terjadi lagi di dapur seperti hari-hari sebelumnya. Syukurlah dugaan itu tidak benar.


Sama-sama lelah akibat begadang, semua itu nampak jelas di wajah keduanya. Apapun, itulah yang namanya nikmat tersendiri sebagai bentuk kewajiban orang tua.


Valerie pun kembali melirik suaminya yang tengah asyik bermain lembut dengan pipi Zyan. "Dia kok minum terus nggak udah-udah?" Ucap Victon tiba-tiba.


"Namanya juga bayi, kan belum bisa makan. Kamu mending mandi sana!! kebo sama kamu aja sebelas dua belas miripnya."


Bukan bermaksud mengejek. Valerie juga merasa bersalah melihat suaminya kurang perhatian. Sebab ia sendiri juga cukup sibuk dengan Zyan dan tugas akhir kuliahnya.


"Mandiin." Rengek Victon sambil mendusel-dusel di ceruk leher istrinya. Harapannya sih Valerie juga mau mengurusi bayi besarnya itu.

__ADS_1


"Zyan belum bobo. Sana!! aku udah nyalain air."


"Ayolah boy, buruan bobo-nya. Ayah juga mau di puk-puk sama bundamu." Seloroh Victon kemudian di ikuti tawa kecil dari Valerie.


Setelah mengucapkan beberapa kata konyol itu, akhirnya Victon pun menyerah. Tubuhnya mungkin tidak lah bau, tapi rasanya sudah lengket dan tak nyaman. Mandi adalah solusi terbaik saat ini.


Dengan langkah lesu, Victon meraih handuk kemudian melangkah masuk ke kamar mandi. Sesaat setelah bertemu dengan kaca, pria itu menyadari jika dirinya seperti gelandangan sawah. Wajar saja Aldi tadi kaget sekali melihatnya.


Di ambilnya pencukur jenggot dan mata Victon mengedar sejenak mencari keberadaan cream pelicin khusus miliknya. Namun, baru hendak menyemprotkan di rahang, seketika tangan seseorang merebut benda itu.


"Biar aku bantu. Tenang......Zyan udah tidur kok." Ucap istrinya.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Valerie menyemprotkan busa itu. Mengolesnya dengan rata di seluruh bagian yang di tumbuhi bulu halus tersebut. Kemudian, meraih alat pencukur di tangan Victon yang masih terpaku tanpa kata.


"Kamu suami dan juga ayah yang hebat. Makasih buat segalanya, karena nggak pernah mengeluh ataupun menyerah."


.


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2