
Keesokan paginya...
Ting.....
Ada acara makan malam bersama keluarga Kevin. Papa tidak mau alasan apapun, pulang malam ini!!
brakk...
Terlampau kesal dengan isi pesan teks itu, Valerie jadi melampiaskannya pada moci (handphone-nya). Dengan sedikit kasar, ia meletakkan benda pipih itu di atas meja kecil yang tak jauh darinya. Papanya selalu berhasil membuat moodnya naik-turun seperti binglala.
Baik bagi sang papa, tapi tidak untuk Valerie. Kali ini Valerie benar-benar harus memikirkan cara agar bisa lolos dari jerat tali yang selama ini membuatnya tercekik. Valerie buntu sekali , berkali-kali berpikir pun tak menemukan solusi yang tepat.
Ceklek...
"Loh bapak tidak kerja?" tanya Valerie pada Victon yang baru saja muncul dari balik pintu. Pakaian santainya membuat Valerie bingung, karena tidak seharusnya pria itu santai sekali di jam-jam ini.
"Udah ku bilang, aku bukan bapakmu!! berhenti memanggilku begitu." gerutu Victon.
"Maunya di panggil apa?" batin Valerie menatap kesal kearah pria itu. "Jangan memakiku. Sarapan dulu, aku udah beliin bubur ayam nih." Tidak, entah kenapa Valerie tidak bisa menolak. Bahkan saat Victon menyuapinya, Valerie tunduk dan patuh begitu saja.
__ADS_1
"C...cukup, saya bisa sendiri."
"Aku yang ingin, jadi jangan menolak.....aaaaaaaa." Yang Mulia bertitah seolah keinginannya pantang di abaikan. Victon pun terus menyuapi tanpa peduli jika Valerie berkali-kali mengatakan bisa melakukannya sendiri. Tidak terasa, tangannya terus menyuapi hingga mangkuk bubur itu bersih tanpa jejak.
Sebenarnya , bubur ayam adalah menu favorit Valerie, jadi jangan salah jika perutnya itu bisa menampung lebih banyak dari ini. "Maaf dan makasih." Ucap Valerie dengan ragu-ragu.
"Sama-sama. Untuk apa?" Tanya Victon seraya mengusap pelan bibir Valerie kemudian meletakkan mangkuk itu. Tentu saja hal itu membuat Jantung Valerie melompat-lompat.
"Semuanya."
"Aku lebih penasaran alasan di balik kata maaf itu. Kamu merasa bersalah padaku? karena apa?" Rentetan pertanyaan dari Victon membuat Valerie menggigit bibir bawahnya dan gugup seketika.
Terdengar sederhana, tapi tidak mudah bagi Valerie untuk mengungkapkannya. Pada kenyataannya, ia merasa bersalah karena berkali-kali menyakiti pria itu tanpa alasan yang logis. Anehnya, di saat kesulitan justru Victon yang sering mengulurkan tangan dan berlapang dada meski selalu habis manis sepah di buang.
Cup....
Lagi dan lagi Victon berhasil mencuri celah. Kali ini di pipi dan sontak saja Valerie pun mengamuk. Baru saja ingin mencubit, namun Victon sudah secepat kilat menangkap tangannya.
"Apa kamu nggak merasa kalau tubuhmu udah terbiasa dengan sentuhanku? Ingat baik-baik saat pertama kali aku menciummu, bahkan kamu sampai pingsan waktu itu." Victon masih menahan tangan Valerie yang kaku karena menahan emosinya.
__ADS_1
Benar juga katanya, Valerie baru menyadari akan perubahan itu. Biasanya respon tubuhnya jadi berlebihan saat bersentuhan fisik dengan pria. Tapi jika dengan Victon, semua berbeda.
"iya juga ya?" Valerie tampak berpikir keras, sedangkan Victon hanya terkekeh. Satu masalah sudah terpecahkan, dan Victon lah solusinya.
"Baru sadar? Sepertinya kita harus sering begitu biar kamu makin terbiasa denganku."
"Buat apa? kenapa aku harus terbiasa?" tanya Valerie seraya mendelik tajam.
hahhhh......
Lelah sekali Victon beradu mulut dengan gadis ini, "Apa sesulit itu mengakui kalau kamu juga mencintaiku? Val, aku serius. Lihat aku! Apa aku berbohong?!!" Ucap Victon seraya menarik dagu Valerie. Ia kembali menghela napas kala gadis itu malah diam membisu.
"Okay, aku berhenti di sini. Panggil aku kalau kamu membutuhkanku." Victon pun melepas tangannya dan segera berbalik. Baru hendak melangkah, tiba-tiba sesuatu menahannya. Victon pun tidak bisa menahan ujung bibirnya yang terangkat sebab hatinya yang mendadak bahagia.
"Maaf, a...aku nggak bermaksud begitu. Aku takut untuk memulai karena seseorang pernah menghancurkan hati dan kepercayaanku." Ucap Valerie seraya menarik baju Victon agar tidak pergi. Jika benar ini waktu yang tepat, maka Valerie ingin mencoba untuk membuka lembar baru dan ingin membuang jauh masa lalunya itu.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-