My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 13 Merasa Kehilangan


__ADS_3


9 AM, Café Sans.


“Terimakasih atas kerja samanya pak!!”


"Saya juga terimakasih banyak." Victon mengakhiri pertemuan itu dengan menyalami rekan bisnisnya. Tidak ada yang spesial, dia hanya terus menjalani hari-harinya seperti biasa yaitu bekerja dan bekerja.


Ssluuurrrrpppp…


Victon kembali menyeruput minuman kafeinnya dengan tenang dan nikmat seraya menyilangkan kaki dan sorot matanya begitu tenang memandangi suasana cafe pagi itu. Namun, itu justru membuat Aldi yang sejak tadi berada di sampingnya merasa cemas.


Kenapa? Karena jika begini Victon tidak bisa di prediksi sama sekali. Jika sebelumnya mereka tampak baik-baik saja, berbeda dengan hari ini. Victon dan Valerie kini seperti kutub magnet yang berlawanan.


Keduanya saling menolak untuk berinteraksi, bahkan hanya sekedar candaan ringan seperti biasanya saja tidak ada. Aldi bingung karena sejak tadi mereka sibuk sendiri. “Apa jadwalku selanjutnya Al?” tanya Victon yang masih setia menikmati kopinya.


“Tidak ada pak, karena perusahaan HK technology menunda pertemuannya siang ini.” jawab Aldi dengan cepat.


Byurrr….


Tanpa sengaja seorang wanita yang tengah berlari menyenggol lengan Victon. “Tolong hati-hati!!” Dengan sigap Valerie menghadang wanita itu. Kopi yang tadinya di atas meja jadi tumpah di jas Victon dan meninggalkan jejak peta di sana.

__ADS_1


“Maaf saya tidak sengaja, tuan.” Ucapnya dengan suara yang bergetar.


Benci, Victon sangat tidak menyukai kesalahan fatal seperti itu. Biasanya mulut tajamnya akan mengeluarkan kata-kata yang membuat orang menciut seketika. Sekali lagi, ia sangat berbeda hari ini. Bahkan pria itu bersikap manis dan baik hati meski wanita tadi berbuat salah hingga Aldi dan Valerie menjadi heran sendiri.


“Jangan kasar Val, lepasin tangannya!! Aku tidak apa-apa, lain kali hati-hati jangan asal seruduk seperti tadi.” Ucap Victon seraya membantu wanita yang tampak muda itu.


“Aku? Wow, dia cukup akrab sama orang yang baru pertama kali di temuinya.” Panggilan santai itu sesaat membuat batin Valerie bergemuruh.


Valerie terkejut dengan perubahan sikap itu, apalagi saat tangannya di tepis sedikit kasar. Entah kenapa ia jadi kesal sendiri. Padahal Valerie begitu karena Victon terlalu sensitif terhadap berbagai hal.


Tidak sungkan, Victon juga tersenyum tampan saat wanita itu hendak berlalu. “Lain kali jangan kasar sama wanita, paham!!” Ucap Victon kepada Valerie yang juga menatapnya


“Tapi anda bilang jika tidak suka dekat-dekat dengan wanita asing.” Jawaban Valerie malah membuat Victon menatapnya tajam. “Maaf pak, saya tidak akan mengulanginya.” Ucap Valerie lagi seraya membungkuk 90 derajat. Dialah yang salah dan Valerie paham jika harus segera membenahi diri.


"Ayo marah...ayo marah Val." Victon berharap jika Valerie akan protes, namun tebakannya salah. Gadis itu malah diam dan kini tengah merutuki kesalahannya.


Deg…


Tidak perlu di ingatkan, Valerie paham akan statusnya. Namun, kenapa tiba-tiba hatinya tercubit? padahal semua itu kan sesuai keinginannya. Valerie semakin tidak memahami dirinya sendiri. Victon sudah mengabulkan permintaannya dengan menjaga batasan dan membedakan urusan personal maupun pekerjaan, tidak ada yang salah sebenarnya.


Namun Valerie masih melampiaskan perasaan rumitnya dengan meremas baju sampingnya kala Victon melewati begitu saja. “Val, ingat statusmu. Lebih baik begini daripada harus menuruti kemauan papa.” Gumamnya lagi seraya mengekori dua pria itu.

__ADS_1


Sebuah fakta jika ia rela melepas statusnya sebagai pewaris tunggal dari Maybeklin Cosmetic Company, demi menghindari perjodohan itu. Siapa sangka jika ia harus terjebak dengan pria yang membuatnya sebal saat ini. Anehnya, Valerie lebih nyaman menghadapi pria sensitif itu daripada pulang ke rumah.


.


.


.


Jam makan siang…


“Hai Ra? Gimana kabar keponakanku?” tanya Valerie yang sedang melakukan panggilan video bersama sahabatnya itu.


“Hai ante, Cheryl dicini.” Rara menunjukan wajah teduh putrinya yang sedang terlelap. Cantik dan imut sekali membuat Valerie sejenak melupakan kegundahan hatinya.


Ya Tuhan, Valerie bahagia sekali menyaksikan kebahagiaan sahabatnya itu. Jika di ijinkan, ia juga mau di berikan kesempatan merasakan keluarga yang begitu harmonis dan bahagia sepertinya. Tapi, hal itu rasanya sulit bagi Valerie.


Entah mengapa Valerie pesimis jika menyangkut hal ini. Kegagalan dalam kisah asmaranya yang lalu mungkin masih membekas di dalam benaknya hingga membuatnya berpikir jika ia tak pantas untuk di miliki siapapun.


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2