My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 78 Hari Untuk Kita


__ADS_3

Malamnya.....


Cipak...cipak...


Padahal mama Nindi sudah mengingatkan keduanya jika ada acara makan bersama keluarga malam ini, nampaknya hal itu sedikit di abaikan.


Air di dalam bathtub sudah meluber kemana-mana. Katanya sih 15 menit cukup. Pada kenyataannya secepat itu berubah seperti bunglon. Biasalah, acara mandi bersama dengan maksud tertentu itu sudah pasti lain ceritanya.


"Aww......jangan di cubit." Pekik Valerie. Perutnya terasa panas akibat cubitan tangan Victon yang bukan main.


"Jangan sedih terus. Aku nggak tega lihatnya." Ucapannya apa, bibirnya kemana. Valerie sejak tadi menahan suara agar tak keluar karena pucuk buah apelnya di sesap oleh bibir nackal itu.


"euuhhh....i.. itu.....mama bilang kita harus cepat. Berhenti !! please, aku nggak mau lagi. Lelah, lesu, lunglai, lapar juga aaaaaahhhh." Belum selesai dengan ucapannya, Victon kembali bermain liar.


Valerie berhasrat hanya karena sentuhan. Ia memejam dan kembali melipat bibirnya. Sungguh, ini pengalaman pertama di ajak bermain di kamar mandi. Entah karena apa, Victon seperti orang kerasukan jin tomang.


Sesuatu seperti ingin meledak dari dalam tubuh Valerie sebab ulah jari suaminya di bawah sana. "it's okay honey." Victon mencucup jari telunjuknya yang kaya akan rasa sesuatu milik istrinya.


"Jangan!! itu kotor." Cegah Valerie seraya menahan tangan Victon.


"Nggak ada yang kotor kalau itu milikmu."


Ucapan itu membuat Valerie kembali berdegup kencang tak karuan. Air keran masih mengalir dan semakin meluap terbuang. Apa ini? Valerie terkejut kala Victon mendesaknya lagi hingga tangannya meremas pinggiran bathtub itu.


"j....jangan lagi please!!"


Valerie memohon, sedangkan suaminya meracau kemana-mana tak menghiraukan apapun seakan pria itu sudah menutup telinga. "Kita harus berusaha setiap hari sayang. Aku mau Victon dan Valerie junior, sekarang aku udah siap buat memilikinya."


"Kamu serius? aah."


Valerie terkejut kala tubuhnya di balik dan kini saling berhadapan. Bak mandi itu cukup lebar, tapi sempit jika untuk melakukan berbagai gerakan foreplay.


cup....


"Seribu rius." Victon kembali menyerang dengan rakus bibir Valerie dan tidak menghentikan kegiatan pinggulnya. Benda keras dan menantang itu tak henti-hentinya mendesak memenuhi ruang sempit milik Valerie.

__ADS_1


Menghujam tanpa ampun, hingga meluluhlantakkan pertahanan yang Valerie punya. Valerie bersandar pasrah di dada bidang suaminya kala tangan kekar itu menekan lebih kuat gundukan padat bagian belakangnya hingga sesuatu terdesak semakin dalam.


Jika ingin jujur, sesungguhnya benar-benar nikmat. ini sangat amat gila. Pijatan di kedua buah apel serta hujaman di bawah sana membuat Valerie tak kuasa menahan lebih lama lagi. Hingga akhirnya, keluarlah desa*an dan lengu**n itu saling bersahutan karena hampir sampai pada puncak kenikmatan yang tak terbantahkan.


"eeeungggghhhh.......s....sayang jangan kasar." Rintih Valerie. Lucunya, Victon langsung menuruti permintaan itu dan memelankan tempo gerakannya.


"Sekarang gimana? eerrrrrrrhhhh." Victon ikut mengerang lagi dan lagi. Ia tersenyum kala melihat mulut Valerie menganga lebar, mungkin sensasi itu terasa berbeda dari sebelumnya.


Penyatuan dengan perpaduan sempurna. Belum puas lagi, Victon pun membopong tubuh sang istri kemudian mendudukkannya di atas wastafel tanpa melepas penyatuan itu.


Siapa bilang selesai? Nyatanya Victon kembali melanjutkan aksinya. Pelan, namun senjata pamungkasnya begitu angkuh dan tidak mau tunduk.


"Lagi? sayang jangan bercanda, kita bisa telat nanti." Valerie terkejut ketika tubuh suaminya kembali bergerak dalam posisi yang rumit untuk di jelaskan.


"Aku udah chat mama biar mereka duluan. Nanti kita nyusul. ah....ini something, i want more babe." racau Victon.


"Kita bisa menjaganya kali ini, aku janji Val." Victon menangkup wajah lelah istrinya kemudian mengecup keningnya cukup lama. Dia serius, dan tidak akan membiarkan yang sudah-sudah terulang kembali.


"Bisa udahan? Aku capek." Valerie merasakan sesuatu yang hangat telah memenuhi ruang itu. Ia tak bertenaga lagi untuk membahas hal lain karena tubuhnya seakan remuk.


Namun, ungkapan tulus itu membuat Valerie tersenyum hangat. Bahagia dalam makna yang sederhana. Valerie beruntung memiliki Victon sebagai pendamping hidup, sekaligus pemimpin masa depannya hingga nanti.


"Bersihin diri dulu. Janji deh nggak minta lagi, serius mandi doang." Victon berucap mantap kala mendapat tatapan maut super tajam dari istrinya. ia paham bentuk penolakan istrinya yang sudah tampak lelah sekali.


Di ruang tamu.....


"Udah 1 jam lebih, mereka ngapain aja sih?" Ucap Elard sedikit kesal.


"Pa, kita di suruh duluan. Katanya nanti mereka nyusul, toh kita harus menyambut para tamu dulu kan?" jawab mama Nindi sesaat setelah menerima pesan tak terduga dari putranya.


"Ya sudah ayo. Zoeya, ayo berangkat." ajak Elard.


"iya pa."


Beberapa menit kemudian.....

__ADS_1


8 PM, Ruang rias.


"Kenapa aku harus di rias begini?" tanya Valerie bingung. Gaun putih cantik nan berkilau itu sangat indah. Pas sekali dengan lekuk tubuh Valerie sehingga menambah kesan ayu itu berkali lipat.


"Nyonya, semua sudah menunggu. Mari saya antar."


Valerie hanya menurut dengan perkataan pelayan wanita tadi. Mereka begitu hati-hati menuntun Valerie.


Sebuah lagu langsung berputar kala Valerie melangkahkan kakinya di atas karpet panjang yang di ujungnya seorang pria tampan sedang menunggunya.


Heart beats fast


Colors and promises


How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall?


But watching you stand alone


All of my doubt suddenly goes away somehow


One step closer


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more



-To Be Continued-

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2