
Waktu pun terus berjalan hingga tak terasa jika perut Valerie semakin membesar membuat ruang geraknya sangat terbatas. Mulai dari hal yang paling lumrah, ia sering meminta bantuan suaminya untuk sekedar memakai celana atau bangun dari duduknya saja.
Pillow talk malam itu......
"Hmmmm.....biar mamp*s dia. Gue bisa aja hancurin perusahaan sekaligus semua yang dia punya dalam satu waktu. Manusia kayak Marc seharusnya nggak ada di bumi ini.."
"What the, jadi di berita itu bener? Keren Lo Vic, gue nggak nyangka kekuatan lo sebesar itu........"
krieeeetttt......
Tiba-tiba, seseorang pun ikut bergabung"Siapa?" Tanya Valerie. Sambil tersenyum, Victon pun merentangkan tangan yang satunya agar sang istri mendekap dalam pelukannya.
"Jordan." Bisik Victon.
"Dia hampir kayak gembel, Lo nggak nanggung-nanggung kalo balas dendam."
"Bukan dendam man! Gue cuma mewakili yang di atas buat kasih dia hukuman. Dia pantas dapetin itu karena udah buat istri gue menderita."
Valerie yang tengah bersandar di tubuh Victon pun langsung mendongak. Namun, ia tak berani berucap sebelum obrolan suaminya usai.
Beberapa detik kemudian, Valerie pun sudah tidak tahan lagi dan akhirnya membuka mulut. "Kapan selesai?" Tanya Valerie seraya membuat pola lingkaran di dada bidang itu.
"5 menit lagi......cup." Tak lupa mendaratkan kecupan di bibir ranum itu, Victon kembali sibuk bergosip ria. Bahkan ranah pembahasannya saja sudah tidak benar. Semula bercerita tentang pekerjaan, namun berakhir dengan tokek dan cicak.
"...ada, gede banget malah. Gue kira itu tuh cicak tenyata tokek yang tiap malem berisik banget."
"Tokek tuh cicak yang gede itu kan?" tanya Victon
__ADS_1
"Iya bro. Katanya kalo di jual tuh mahal, makanya kemaren gue berburu tuh tokek hahaha...."
Lima menit apa? Jika di kali sepuluh mungkin benar. Mata Valerie sudah tersisa beberapa Watt saja. Menunggu dua pria itu tidak ada habisnya hingga ia pun memilih tidur terlebih dulu.
Beberapa menit kemudian....
"Eeunggghh." Valerie menggeliat seraya menepis berkali-kali tangan yang sudah mengusik tidurnya.
"Sssstt, benerin dulu posisinya. Perutnya nggak enak kalo begini." Victon sendiri kasihan dengan kondisi perut istrinya yang sudah besar sekali. Dengan hati-hati ia berusaha membenahi. Dug....dug.... Victon terhenyak kala beberapa kali ia merasakan tendangan di perut besar itu.
"Maaf, ayah ganggu ya nak?" Gumam Victon kemudian menarik selimut agar menutupi seluruh tubuh sang istri.
"Sayang, aku haus." Ucap Valerie mengerjap pelan.
"hm? sebentar aku ambilin." Baru saja kembali dengan segelas air, tiba-tiba Valerie bertitah lagi.
"Maaf, baby-nya baru bilang sekarang."
Victon memutar bola matanya malas. Alasan yang sangat signifikan dan juga meyakinkan. "Ck, dasar bumil!!"
"Request bisa? aku maunya nasi kuning."
JDENG.....
"Sayang, kamu jangan bercanda. Nasi kuning cuma ada di Indonesia tercinta. Jangan ngadi-ngadi..! di sini mana ada..."
"Ada. Suruh koki masakin!! Aku nggak yakin kalo kamu bisa masak itu." Sindir Valerie.
__ADS_1
Sudah memerintah di olok-olok pula. Sesabar itu Victon menjaga hati sang istri, namun semudah itu Valerie menguji kesabarannya.
"Sabar Vic....sabar. Untung cinta, kalo nggak udah gue karungin."
"Aku ikut!"
" Nggak usah, nanti aku bawain ke sini. Kamu jalan aja udah susah begitu." Cegah Victon.
"Aaaaaaaaaaa........ikut pokoknya."
Habislah. Sepertinya pinggang Victon encok lagi malam ini. Sebab, tidak mungkin si bumil itu jalan sendiri, pasti minta di gendong.
.
.
.
.
-To Be Continued-
Sudah jelas ya.....
Waktu itu ada yang tanya, kenapa babang Marc gak othor masukin bab lagi. Terus kok udah tamat aja? Ya itu karena bang Marc cuma numpang lewat. Jangan khawatir, Victon udah bertindak kok hehe.....
So, see you all....
__ADS_1
Nanti othor tambahin yg banyak extra part-nya hihi🌝😁😆😆.