My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 33 Si Penakut


__ADS_3

“A…aku takut. ini bergoyang.” Gumam Valerie seraya membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang di peluknya saat ini. Setiap orang memiliki kelemahan, wajar jika Valerie demikian. Bukan di buat-buat atau hanya mencari perhatian semata. Valerie benar-benar setakut itu.


Tangan Valerie semakin erat melilit di leher Victon, takut jika kemungkinan ia akan di lempar dari atas sana. “Kenapa takut? kan aku di sini.” Ucap Victon seraya mengusap pelan pucuk kepala Valerie.


Ia sempat terkekeh mendengar keluhannya. Baru beberapa saat lalu mereka saling berdebat. Kini Victon merasa di butuhkan oleh gadis itu, membuatnya tak kuasa menahan ujung bibirnya yang tertarik dan kini melengkung pasti.


Mentari hendak tenggelam dari ufuk barat yang kini menyisakan cahaya jingga nan indah menghiasi langit cerah senja itu. “Kamu tau nggak hubungan antara langit dan senja?” Tanya Victon yang masih di posisi sama.


“Nggak.” Singkat Valerie kemudian mendongak menatap wajah tegas yang selalu membuatnya salah tingkah itu. Meski sedikit kesulitan karena tinggi mereka yang berbeda, tidak sedikitpun ia ingin melepaskan tangannya.


“Emangnya apa?” tanyanya lagi.


“Nggak tau. Kan aku tanya kok malah balik nanya.” Ucap Victon dengan wajah datarnya. Memang salah sekali mengharapkan kata-kata manis keluar dari mulut Victon. Padahal Valerie telah menyiapkan hati, kalau-kalau ia di buat meleleh akibat gombalan manisnya. Nyatanya semua sia-sia saja.


Hening beberapa saat.....


“Ck, ayo pergi dari sini.” Ucap Valerie.


“Ya udah ayo. Tapi, mau tetap begini?” Tanya Victon kemudian.


“Gendong boleh nggak? Kakiku masih lemas buat jalan.” Valerie kembali mengeluarkan jurus andalan dengan ekspresi memelasnya. Sejujurnya ia memang segan untuk berjalan di jembatan goyang itu.

__ADS_1


“Boleh, panggil sayang dulu.”


“Nggak mau!” Tolak Valerie.


“Oh, okay. Aku tinggalin kamu di sini biar di temenin sama buaya di bawah itu tuh.” Ancam Victon seraya menunjuk ke arah sungai di bawahnya. Padahal tidak ada, ucapannya tadi hanya akal-akalan Victon saja agar kekasihnya menurut.


Deg…


Sontak Valerie pun membelalak. “iya…sayang….sayang…sayang…. aku nggak mau. Jangan di tinggalin, tolonglah!!” Valerie semakin mengeratkan tangannya hingga tubuhnya terangkat kala Victon berdiri tegap. Lucu sekali, ini moment langka bagi Victon dan rasanya ia tak ingin segera menyudahinya.


“Kenapa?. Kan mainannya pistol dan pisau. Lompat gedung, panjat tebing juga sering. Masa sama buaya aja takut, hm?” Biarlah, Victon ingin menggoda Valerie habis-habisan kali ini. Anggap saja itu pembalasan karena sudah membuat hatinya kesal beberapa kali.


“Bukan itu. Ini goyang dangdut jembatannya, aku ngeriii…”


Beberapa saat kemudian….


Hauppphhhhh…


Pada akhirnya, Victon sendiri yang tidak tega. Ia pun membopong tubuh Valerie ala bridal style kemudian menelusuri jalan batu setapak tempat itu. Ramainya orang semakin bertambah kala lampu-lampu gantung di sana menyala menandakan jika siang akan berganti menjadi malam. Cahaya di langit semakin redup dan langkah kaki Victon pun berakhir di sebuah restoran outdoor dengan nuansa malam hari yang begitu menyejukkan.


__ADS_1


“Kita makan dulu.” Ucap Victon yang kemudian menurunkan tubuh Valerie di kursi kosong yang tersedia.


“Mau apa?” Tanyanya lagi seraya menyerahkan buku menu. Valerie cukup bingung, “ Ini kebanyakan makanan berat.” Seorang Valerie sangat menjaga bentuk tubuh ideal dan bugar, tentu saja ia sangat paham mengenai pola makan yang sehat.


“Tapi nggak lucu kalau aku pesan salad.”


“Mau sampai tahun depan mikirnya?” Victon sudah memutuskan apa yang dia mau, tapi Valerie masih belum selesai juga. “Pesan semua kalau bingung.” Selorohnya lagi dan berhasil membuat Valerie mendelik.


“Eeemmm..... Omurice and Honey Mint Lemon. Please.” Ucap Valerie seraya tersenyum ramah pada pelayan. Namun, sikap ramah itu malah di salah pahami oleh Victon yang kini sudah berwajah masam.


“Ck, jangan senyam-senyum.” Gerutu Victon kemudian memilih sibuk dengan ponselnya. Valerie pun hanya terkekeh pelan mendengarnya.


Cekrekkk….


Tanpa mereka sadari jika ada dua orang dengan tujuan berbeda tengah memperhatikan mereka. Sementara yang satu secara diam-diam mengambil gambar. Seseorang di sudut berbeda tengah merasakan dongkol di dalam hatinya.


“Aku mencarimu selama ini Dira. Apa pria itu alasan kamu menghilang dariku?” Ucapnya seraya meremas gelas kaca itu hingga sedikit retak.


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2