My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 46 Malam ini


__ADS_3

Sudah beberapa hari Victon sibuk sekali. Pulang selalu larut malam dan pergi lagi pagi-pagi buta. Hal itu membuat Valerie khawatir. Banyak kemungkinan terjadi atau bahkan sesuatu yang tidak bisa di prediksi sama sekali.


“Mana kiss pagiku?” Ucap Victon dengan senyum liciknya.


Cup…


Valerie mencium sekilas bibir tebal Victon setelah memakaikan jas pada tubuhnya. Beginilah rutinitas Valerie setiap pagi, walaupun masih belum terbiasa sebenarnya. Dia tetap melakukannya agar menjadi istri yang baik di mata suaminya.


“Jangan lupa janjinya. Kamu sibuk banget, waktu buat akunya mana?” Rengek Valerie seraya memajukan bibirnya.


“Iya, nanti aku pulang tepat waktu. Tetap di rumah dan jangan kemana-mana, okay?”


Valerie pun mengangguk kemudian mengekori langkah Victon sampai depan rumah. Seperti biasa, mengumbar kemesraan selalu Victon lakukan dengan mencium bibir sang istri sebelum memasuki mobil.


“Emmmppp…u …udah ih!! Banyak yang liat!”


“Biarin!! Love you.”


Setelah berhasil membuat wajah Valerie merah padam, Victon pun berangkat dengan mobil mewahnya. Sedangkan Valerie belum beranjak pergi sebelum mobil itu benar-benar menghilang. Dirasa aman, Valerie pun buru-buru memasuki rumah.


“Anda mau sarapan, Nyonya?” Ucap salah satu pengurus rumah.


“Nanti aja.”


Ada sesuatu yang mengganjal di hati Valerie. Semalam, Victon selalu menyembunyikan laptop dan ponselnya setiap kali Valerie melihat. Bukan ingin berburuk sangka, tapi Valerie tidak bisa diam saja. Kenapa? padahal proyek bernilai milyaran pun Victon tidak masalah jika Valerie mengintip. Toh, memang dia tidak tertarik sama sekali.


Sempat berpikir jika Victon menyimpan file kramat yang biasa di sukai para pria. Namun, Valerie tidak masalah jika hanya itu. Takutnya, Victon memiliki simpanan atau kemungkinan yang sama sekali tidak Valerie duga.


“Di mana laptopnya? Tadi dia nggak bawa kan?.”


Valerie mengobrak-abrik meja dan juga lemari namun belum ada tanda keberadaan benda lipat itu.


“Tunggu!!” Tiba-tiba saja ia merasa cemas. Valerie lupa jika ruang kerja Victon di lengkapi CCTV. Sontak ia pun mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan.

__ADS_1


Deg…


Detak jantung Valerie semakin cepat kala matanya tertuju pada kamera CCTV yang menempel tak jauh dari tempat ia berdiri. Tanpa naninu, Valerie pun menutupi benda itu dengan sebuah kain. Tidak peduli lagi ada berapa benyak di dalam sana, karena Valerie akan melakukannya dengan cepat.


Srekkk….srekkkk…


Beberapa saat kemudian...


“Ini?”


Valerie di buat membelalak saat tak sengaja menemukan sebuah file beserta foto-foto yang bercecer. Valerie membaca dengan hati-hati kemudian mengamati beberapa foto itu. “Apa ini yang kamu lakukan di belakangku?” Rahang Valerie mengeras seketika tanda jika emosinya tengah membuncah.


Terlampau shock, Valerie sampai jatuh terduduk di lantai dengan tangannya yang masih menggenggam beberapa foto itu. Tidak ada kesedihan, yang ada hanya amarah karena sebuah fakta jika Victon telah berbohong selama ini.


.


.


.


“Dia ingkar janji.”


Sudah sejak sore tadi Valerie menunggu kedatangan Victon. Namun hingga jam menunjukkan pukul 10 malam masih belum muncul juga batang hidungnya. Valerie duduk di sofa kamarnya seraya mengamati satu persatu foto yang ia sebar di atas meja.


Ceklek…


“Sayang?”


Seketika Valerie melirik ke arah pintu. Wajah yang masih datar itu masih seperti biasa seolah-olah tidak ada masalah sama sekali. Tidak apa, Valerie kini hanya tertarik pada penjelasan Victon tentang benda-benda itu.


“Kamu terlambat.” Ucap Valerie sedingin pendingin ruangan di sana.


Victon yang merasa aneh akan sikap Valerie pun memilih untuk segera mendekat. Langkahnya terhenti kala mendapati beberapa benda miliknya terpampang nyata di atas meja.

__ADS_1


“Val? Ini…?”


“Tolong jelasin ini semua.” Valerie menyela dengan tatapan tajamnya.


“Buat apa kamu masuk ke ruang kerjaku? Sadar kalau kamu udah lancang, hm?!” Seharusnya Valerie yang marah, tapi malah Victon yang tak kalah meninggi akibat tindakan Valerie yang di anggapnya lancang.


“To the point aja, cinta itu semua bohong? Ini buktinya, kamu cuma mengincar sesuatu dariku. iya kan?”


“No.”


“Apa?” Valerie menyeringai saat mendengar jawaban singkat itu.


“Seharusnya aku nggak pernah mempercayaimu.” Ucap Valerie dengan nada bergetar kemudian melewati Victon. Sayang sekali, tangan Valerie di cekal dan di tarik paksa hingga tubuhnya membentur di dada bidang Victon.


“Jangan menatapku begitu. Ada alasan kenapa aku menyembunyikan semua ini.” Victon mengusap ujung mata Valerie yang sudah membasah. Tadinya ia juga ingin marah karena tindakan Valerie yang sesuka hati itu, tapi di urungkan.


“Satu hal lagi. Aku nggak pernah main-main sama perasaanku Val, apa perlu ku buktiin?”


“Minggir!! Kamu nggak lebih kayak para bajing**an yang selama ini ku tau.” Ketus Valerie.


Deg….


Victon pun memanas. “Heh? Okay, maka aku akan menjadi bajing**an seperti yang kamu bilang.”


tiba-tiba....


sretttt....brughhh....


.


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2