My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 49 Metode Lain


__ADS_3

"Sini peluk."


Pada kenyataannya pelukan itu tidak memuaskan Valerie yang kurang kehangatan. Bukan tentang cihuy-cihuy, tubuh Valerie benar-benar menggigil hebat saat ini.


bbrrrrhhhh....


"Jika masih belum ada perubahan, anda bisa menggunakan metode lain."


Kalimat itu terngiang jelas di kepala Victon saat ini. Ia tidak kurang memberikan pelukannya, namun Valerie masih tetap sama saja. Jika benar hal itu manjur, maka Victon bersedia dan oke-oke saja sebenarnya. Ini bukan tentang keinginan, ia hanya fokus pada kesembuhan sang istri untuk saat ini.


"Maaf Val, kita harus mencobanya. tolong patuh ya."


Meminta maaf sebelum bertindak. Victon hanya takut jika Valerie menganggapnya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Demi Tuhan dia tidak berniat seperti itu.


Victon pun menanggalkan benda yang membalut tubuh istrinya. Perlahan namun teratur, ia masih takut jika Valerie terusik. Meski nyatanya, sang istri sedang tak bertenaga untuk memberikan perlawanan.


Akhirnya Victon berhasil melakukannya. Meski sekuat tenaga menahan sesuatu yang hendak menyeruak keluar dari dalam dirinya kala melihat tubuh polos itu, Victon mampu dan kini tubuhnya pun sudah sama polosnya.


Dengan cepat Victon melakukan metode skin to skin seperti saran sang dokter tadi. Suhu tubuh normal Victon yang terasa panas membuat Valerie semakin merapat mencari kenyamanan di sana.


"Eeuuhhhh."


" Iya ini aku, sayang." Ucap Victon seraya mengeratkan kembali pelukannya. Sedikit tidak nyaman untuk Victon karena gundukan itu terasa nyata bersentuhan dengan miliknya.


"Oh, ayolah boy, jangan sekarang. Istriku lagi nggak mampu di ajak main, lo sih bikin dia sakit begini."


Victon sedang membenahi diri sendiri karena tubuhnya sedang di luar kendali pikirannya. Ia sangat memahami situasi, tapi tidak dengan anak kesayangannya itu. Dia bahkan sudah bangun meminta di beri amunisi.

__ADS_1


"Shi*t."


Victon menggigit bibir bawahnya seraya mengumpat pelan. Sepertinya ia harus tersiksa saat ini. Jujur saja, meski berusaha sekuat apapun hasilnya tak berubah. Maklum, jika perjaka tua yang baru menemukan pawangnya jadinya seperti ini. Sedikit-sedikit ingin menerobos masuk.


"Ya Allah, cobaan ini berat sekali. Tolong beri hamba mu ini kekuatan lebih."


Begitulah doa Victon yang terucap dalam hati. Entah kenapa ia bisa sekonyol itu di saat kondisi Valerie sedang memprihatinkan.


"Sayang?" panggil Valerie dengan sangat lirih.


"hmm, mau apa?"


Valerie saat ini paham dengan kebutuhan biologis suaminya. Kata Omanya, jika tidak memenuhi kebutuhan suami maka dosa istri akan bertambah besar. Valerie juga memikirkan hal itu, meski ia pun masih marah sebenarnya.


Tubuhnya sedang tak bisa. Tapi dia cukup mampu jika mengimbangi keinginan suaminya. "Nggak papa, kamu bisa lakuin kalau nggak tahan." Ujar Valerie dengan frontal membuat Victon membola.


"it's okay. Aku serius kok."


"No!! Aku lebih serius, kamu lagi sakit dan aku nggak segila itu untuk meminta. Udah istirahat aja ya." Memang mau, tapi Victon bukan maniak bermain lompat kodok. Otaknya masih waras, walaupun selebihnya tidak.


"Yakin?" Ucap Valerie seraya mendongak.


Oh, ada apa dengan istrinya hari ini. Victon tidak mengerti dengan sikap Valerie yang begitu aktif. Padahal Victon sudah susah payah dan seakan usahanya benar-benar tidak di hargai.


"Tidurlah!!" Victon mengecup sekilas bibir candu itu.


"Tapi..."

__ADS_1


"Tidur sayang, ya Allah ya Tuhanku istriku yang cantik!!" Lihatlah, Victon sampai bersumpah tanda jika kesabarannya tengah di uji hampir melebihi batasannya, sulit sekali memang.


.


.


.


Sementara itu, di belahan dunia lain seseorang tengah mengumpat melampiaskan kekesalannya. "Sial**n, Are you Fuc**ing kidding me?!!" Pekik seorang pria.


Dia tengah kesal akibat berita yang membuat telinganya memanas. Begitu mengejutkan hingga pekerjaannya menjadi kacau seketika.


Tidak menyangka saja jika perjuangannya sia-sia. Ray sangat marah kala mendengar informasi tentang pernikahan tersembunyi wanita yang selama ini masih di dambakannya.


Sama sekali dia tak berfikir sejauh itu, jika Valerie benar-benar melupakannya. Padahal sudah berulang kali ia jelaskan jika berakhirnya hubungan mereka murni karena kesalahpahaman.Namun, secepat itu Valerie berpindah hati.


Ray tahu jika 6 tahun bukan waktu yang singkat, tapi ia juga terus berjuang demi menemukan Valerie yang selama itu selalu bersembunyi dengan apik.


Dadanya nampak naik turun sebab amarahnya sedang memuncak. "I'll catch you, apapun caranya." Ucap Ray dengan mengeraskan rahangnya.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2