
-POV Valerie.
Brakkkk…
Valerie tiba di pintu terakhir yang menghubungkan langsung dengan kantor Victon. Hal mengejutkan lagi saat ia mengetahui jika di ruangan itu sudah tidak ada orang sama sekali. “Apa dia udah di bawah? Sial, aku telat.” Gerutu gadis itu yang tengah mengatur napasnya lagi. Keringatnya sudah mengucur bak air terjun dan sayangnya usahanya sia-sia.
Tetapi jauh di dalam benaknya, Valerie bersyukur jika Victon sudah menyelamatkan diri. “Pak Victon udah pergi, kantornya kosong.” Ucapnya pada seseorang di seberang sana.
“Keluar dari sana Val, Cepatt!!”
“Apa? Kenapa?” beo Valerie.
“Bodoh!! Penyusupnya di sana cepat keluar!!”
Dor….
Belum selesai dengan pembicaraannya, Valerie mendapat serangan tiba-tiba. Sebuah peluru di tembakkan ke arahnya, tapi ia berhasil menghindar. Valerie pun berlari dan kini bersembunyi, di balik sofa. Deg…deg…deg…Ini seru tapi cukup menegangkan. “Aduh!!” Valerie kembali mengatur napasnya yang sudah tak karuan.
Di ambilnya pistol dari dalam saku jas khususnya. Sesekali Valerie melirik sekilas dari balik sofa, namun hal tersebut di ketahui dan seseorang kembali menembakinya secara beruntun. Dor…dor… dor masih melesat dan Valerie berhasil menghindar lagi.
Tidak ada jalan lain selain keluar jendela karena jaraknya lebih dekat. Tapi setelah di telisik kembali, itu juga tidak mungkin karena jendela kaca tersebut tidak bisa di buka.
__ADS_1
“Mati aku!! Gimana ini?!!”
Valerie melihat pantulan orang asing dari balik kaca itu dan Ini satu-satunya kesempatan bagi Valerie untuk menyerang balik. Dor…. Akhirnya baku tembak pun terjadi. Beberapa waktu pun berlalu, dan posisi Valerie kini sudah terjepit karena pelurunya habis. Ia kembali berlari dan bersembunyi dari balik meja besar Victon.
“hahahhaha mati kau hahaha!!” Gelak tawa pria itu begitu menggema di seluruh ruangan.
Muncul dalam benaknya rasa takut itu yang kian menjalar ke seluruh tubuh Valerie. Jika keluar sekarang ia bisa saja mati dengan cepat, tapi jika bertahan di tempat kemungkinan untuk mati pun sama besarnya. Valerie benar-benar tidak ada pilihan.
Dor…
Valerie pun memilih untuk diam di tempatnya seraya mengucapkan banyak doa. Ia aka pasrah jika harus menyusul sang mama secepat ini. “Mamaaaaaaaaaaa….”
Pip…pip…pip…
PYARRRRRR!!
"Bye-bye..." Ucap penyusup itu seraya melambaikan tangan.
Loh kok? Valerie terkesiap kala suara pecahan kaca tadi mengejutkannya. Ternyata si penyusup terjun bebas dari atas gedung yang ketinggiannya bukan main itu. Yang membuatnya bingung adalah suara itu, terasa amat familiar dan Valerie yakin jika pendengarannya tidak salah.
Sementara itu, Victon tengah berusaha keras agar segera tiba tepat waktu. Sayangnya saat sedikit lagi , usahanya di gagalkan kala suara ledakan itu amat menggelegar di telinganya.
__ADS_1
BOOOMMMM!! DUAARRRRR!!!!
“Aaaaaaaaakkkhhhh.” Pekik Aldi terkejut kala tempatnya berpijak bergetar.
Perusahaan Victon memiliki desain gedung dengan 2 sayap kanan dan kiri. Menurut Victon suara itu terdengar cukup jauh yang menandakan jika ledakan tadi berasal dari sayap kanan. Sialnya, Victon berada penghubung tengah sayap kiri, sedangkan kantornya berada di sayap kanan. Itu semua karena panik, ia jadi salah masuk tangga darurat dan berakhir di gedung yang salah.
“Val tolong tetap baik-baik aja.” Gumam Victon yang semakin cemas. Menyesal sekali ia sudah bersikap cuek kepada gadis itu. Jika tahu hal seperti ini akan terjadi, maka ia tidak akan bersikap begitu padanya.
Beberapa saat kemudian....
Victon berlari saat keadaan sudah cukup memungkinkan. Dalam jarak 10 meter nampaklah seorang gadis dengan penampilannya yang terbilang sangat menyedihkan. Langkahnya tertatih dan kini menatap Victon dalam keadaan terpaku. Begitu pula Victon yang kini matanya bertemu pandang dengan gadis yang ia yakini adalah Valerie.
Drap…drap….drap..
Keduanya pun berlari dan bertemu tepat di tengah lorong panjang itu. Victon tercekat melihat penampilan Valerie hatinya kembali teriris. Seluruh tubuh itu kotor di penuhi sisa-sisa reruntuhan bangunan. Darah yang mengalir di kening dan beberapa bagian tubuh lainnya membuat Victon tak tahan untuk segera meraihnya.
“Hiks…hiksss..” Isak tangis Valerie terdengar saat di hadapan Victon langsung. Victon yang tidak bisa menahan diri lagi, akhirnya menarik gadis itu ke dalam pelukan dan merengkuhnya begitu erat. Perasaan Victon kini sudah bercampur aduk, tapi juga lega karena Valerie selamat dari ancaman maut beberapa saat lalu.
“Syukurlah ….syukurlah kamu selamat. Val aku takut.” Ucap Victon dengan lirih seraya menghujani kecupan di wajah Valerie berulang kali. Selama hidupnya, belum pernah dirinya merasa ketakutan seperti ini. Jika boleh di tukar maka ia bersedia, kenapa wanitanya harus selalu terluka seperti ini? Victon benar-benar marah kali ini.
"Maafin aku Val."
__ADS_1
-To Be Continued-