My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB SPESIAL 3


__ADS_3

Sakit banget, mama...


"Sayang, maafin aku kalau banyak salah," pinta Valerie sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya meraih rahang suaminya dengan lembut, diiringi rasa bersalah yang terus menerus menghantuinya.


"Jangan bicara aneh-aneh, aku selalu di sisimu. Pak tolong cepat!" ujar Victon dengan nada gemetar.


Suasana di dalam mobil semakin tegang. Zoeya, yang sejak tadi berbicara dengan kedua orang tuanya lewat panggilan jarak jauh, ikut memperburuk keadaan. Meski sang mama dan papa tidak bisa hadir, doa terbaik selalu mengiringi anaknya di mana pun ia berada.


Sampai di rumah sakit, Valerie keluhkan pinggangnya yang nyaris patah. Rasa sakit itu tak terhingga dan terus muncul kembali.


"Begini?" tanya suaminya sambil mengusap-usap perutnya.


Meski tidak mengurangi rasa sakit yang dirasakannya, Valerie mengangguk pelan. Melahirkan secara normal adalah keinginannya setelah melalui perdebatan panjang dengan suaminya.


Rasa cemas dan ketakutan kembali muncul, bergabung dengan rasa mules yang tak tertahankan.


Dokter dan tim medis melakukan tindakan segera. "Tarik napas, ikuti arahan saya..." ucap dokter itu. Valerie mengambil napas dalam-dalam dan mencari cara untuk meredakan rasa sakit yang semakin kencang.


Seketika, Victon ikut memekik tertahan karena rambut dan tangannya menjadi sasaran sang istri. "Kenapa tenaganya sekuat ini?" Keluh Victon dalam hati. Padahal belum apa-apa dibandingkan dengan istri yang rela menjembatani kelahiran sang penerus keluarga Ghaffari.

__ADS_1


"Wah... wah emmmppp." Waktu terus berjalan, tapi rasa sakit semakin sulit ditahan. Keringat dan darah bercampur meluncur, semakin mengambil alih tubuh Valerie. Ia merasa seolah ingin berhenti di tengah jalan.


"Sayang, jangan tidur. Kamu kuat...tolonglah," ucap Victon tanpa henti.


Sesekali, ia menyeka keringat istri dan menyemangati dengan ciuman di pucuk kepala. Pria itu bahkan ikut menangis melihat tubuh Valerie yang semakin melemah. Dokter juga sudah melakukan yang terbaik, tapi hanya Victon yang bisa melakukannya.


"Demi anak kita dan aku...bangunlah, aku mohon," ucapnya dengan tulus. Jika bisa, Victon rela bertukar posisi dan menggantikan rasa sakit istri yang bertubi-tubi itu.


"Sakit..."


Mendengar suaminya tak henti menyerukan doa dan menangis, Valerie merasa dirinya harus berjuang kembali. Ia pun menarik napas, menggenggam erat tangan suaminya, dan mengejan sekuat tenaga.


"Ya, kepalanya sudah mengintip. Ayo sedikit lagi...Yes!" ucap Dokter itu pula dengan semangat.


Victon langsung menghujani Valerie dengan ciuman di wajah lelah sambil mengucapkan rasa syukurnya. Kemudian, ia tiba-tiba merasa kehilangan sesuatu ketika tangisan bayi laki-laki menggema di dalam ruangan.


"Selamat Tuan dan Nyonya, bayinya laki-laki sesuai dengan prediksi awal," ucap salah satu perawat di sana.


Tak sabar, Victon mengambil sang bayi dan memeluknya erat-erat. Ia menghafal setiap detil di wajah bayi itu, tanda-tanda persis dengan sang ibu. "Makasih sayang. Aku tahu kamu bisa...aku mencintaimu," bisik Victon pada Valerie.

__ADS_1


Hilang sudah semua rasa sakit dan semua tergantikan ketika tangisan bayi itu mengiringi mereka. Mizyan Afzal Abbasy adalah bukti cinta mereka yang nyata dan sekarang menjadi pelengkap mereka.


.


.


.


"Mama berangkat besok. Oh, tampannya cucuku," ucap mama Nindi pada panggilan video mereka. Tak terkecuali Zoeya, yang sejak tadi memandangi bayi tampan itu tanpa berkedip.


"90 persen mirip mamanya," kata Zoeya dengan nada menyebalkan. Atas ucapannya itu, Victon langsung menatap dengan tatapan sengit.


"Masa sih? Buatnya aja setiap malam, masa aku cuma 10 persen?" seru Victon lalu melempar sendok ke arah sang adik, tapi berhasil dihindari.


"Jangan berisik nanti Zyan bangun," Ucap Valerie pelan. Ia saja yang mampu menangkap setiap emosi suaminya dan menenangkannya.


"Baby boy, nanti kalau besar jangan jadi kayak papamu ya," ujar Zoeya seraya tertawa.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2