My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 71 Papa Jangan Pergi!!


__ADS_3

"Hahahaha ......kata-kata yang bagus pak tua!!! Bravo.....bravo!!" Aurora terbahak-bahak sampai berjongkok seakan hal itu adalah lelucon.


Tangannya meraih sesuatu dari dalam tas dan mengeluarkan tabung kecil berbentuk gitar spanyol. Kemudian berjalan dan menghentikan langkahnya di depan tubuh Valerie. "Wolf's Bane. nggak asing kan dengan cairan ini?" Aurora meremas rahang Valerie hingga mulutnya sedikit terbuka.


Sementara tangan satunya membuka tutup tabung kecil berisi cairan mematikan yang ia dapat dari sumber terpercaya. "No!! Aku saja, bunuh aku jangan anakku!! Dia nggak bersalah ...."


"Ck, berisik!! Tunggu aja giliranmu, kalian bakalan mati kok, tenang aja!!" Aurora pun memiringkan botol kecil itu seraya tertawa penuh kemenangan.


greb....


bugh!!


"Cuihhhh!! ******** menjijikkan!!" Setelah meninju wajah sok cantik itu, Valerie meludahi wajah Aurora seperti sampah. Bahkan, sampah saja tidak lebih kotor dari wanita bermuka dua itu. Beruntungnya cairan tadi belum sempat masuk ke mulut Valerie, jika tidak mungkin sudah melayang nyawanya.


"Sialan!! Kalian habisi dia!!" Panggil Aurora pada beberapa anak buahnya di sana. Melihat bagaimana Valerie bertindak, sontak saja Aurora menelan kasar ludahnya. Bagaimana wanita bisa garang dan kuat seperti itu? pikirnya.


bugh....bugh...


"Rrrrrrrrrhhhhhhh, berhenti kalau nggak mau papamu jatuh dari atas sana!!"


Valerie terhenyak akan teriakan Aurora yang melengking. Ia lupa tentangnya, gawat sudah jika nyawa sang papa menjadi terancam. Valerie tak bisa membiarkan Aurora bertindak macam-macam.


dor.....dor..


Semua orang terperangah ke arah suara. Ada puluhan orang berpakaian khusus berlari menyergap tempat itu.


bugh...bughhh....

__ADS_1


"Awww....perutku!" Rintih Valerie kala perutnya mendapat tendangan maut sebab ia sempat lengah. Satu lagi pukulan mendarat di ulu hatinya hingga Valerie menjerit kesakitan. Ia pun bersalto ke ke depan dan secepat mungkin menjauh.


"aaaaakkkhhhhhh." Kenapa sakit sekali!! Rasanya seperti terlilit rantai besi sangat kuat. " Val? kamu nggak papa? sayang hei..." Ucap Victon cemas.


"emm, n...nggak papa kok. Papa....kamu bantu papa dulu." Berbohong adalah pilihan tepat untuk saat ini karena Valerie tidak ingin terlambat menyelamatkan papanya.


"Tenang. Orang-orangku udah di sana, lihat!!" Tunjuk Victon. Tanpa mereka sadari, Aurora kini sedang mengendap-endap hendak melarikan diri.


"TANGKAP DIA!!" Sentak Victon dengan nada yang meninggi dan menggelegar.


"Hahahaha .....hehehehehe."


"Dia gila?" Valerie heran sendiri. Aurora tampak seperti di rasuki jin, padahal dia sudah tidak bisa lari lagi. Polisi sudah mengepung tempat itu dan memenuhi sekeliling tempat.


"Kalian terlambat!! hehehe......dia udah sekarat tuh!!" Ucap Aurora seraya memandangi wajah Candra yang kian membiru dan juga gelagapan seperti ikan yang terlalu lama di daratan.


Sontak saja, Valerie mendorong tubuh Victon yang menghalanginya dan segera berlari merengkuh papanya dengan erat. Jangan, Valerie tidak terima jika sang papa ingin meninggalkannya juga. Ia tidak mau dan tidak akan rela. Cukup baginya kehilangan sosok ibu 6 tahun lalu, tidak untuk papanya.


" Berbahagialah dengan keluarga barumu sayang, papa selalu bangga dan mencintaimu. Kamu mirip sekali dengan mama." Ucap Candra dengan napas tersengal.


"Hikss.....pa maafin Val. Jangan bilang apapun ayo ke rumah sakit dulu, CEPAT SIAPIN MOBIL......CEPAT!!" Pekik Valerie pada beberapa orang.


"Val...hei...hei dengerin papa nak." Candra mengusap pipi putrinya dengan lembut. Bahkan air matanya juga ikut tumpah melihat kesedihan yang di perlihatkan putri kesayangannya itu.


"Hiks....nggak pokoknya nggak."


"Ssstttt.....Valerie udah dewasa kan? Ikhlaskan papa pergi ya uhuk.... papa sayang Va...." Belum sempat selesai Candra sudah terbujur kaku di dalam pelukan Valerie. Tetes air mata terakhir jatuh di ujung mata Candra meninggalkan sejuta kesedihan yang memenuhi benak Valerie saat ini.

__ADS_1


Pemandangan yang begitu menyedihkan hingga beberapa orang di sana ikut menangis pula.


"Paaaaaaaaaaa.......papaaaaaaaaa!! Hiks...hiksss paaaaaaaaaaa jangan tinggalin Val...hiks."


Dunia seakan runtuh dan meninggalkan Valerie dalam keterpurukan. Valerie merutuki dirinya dan penuh penyesalan mengingat dulu sering berbuat ulah.


"Paaaaaa banguuunn. Jangan pergi, Val butuh papa. Maaf ......maafin Val pa, maaf hiks...."


Victon pun tak tega. Kini ia hanya bisa menjadi sosok penguat bagi istrinya. Jujur saja, dia tak menyangka jika Candra pergi dengan cara seperti ini.


Namun memang semuanya di luar perkiraan. Victon meremehkan cerdiknya otak Aurora dan kini semua sudah terlambat.


"Aku jadi ingat ayahku." Ucap salah satu polisi yang sedang memborgol Aurora.


"You bitc*h!!! Mampus kau!!"


Valerie bangkit dengan tangan mengepal, kemudian berlari ke arah orang yang sejak dulu ia benci. Ia menghadiahkan beberapa pukulan di wajah itu, dan juga tendangan dengan high heels melekat erat di kakinya.


"Aaaaaaaaaahhhh aaaaaaaaaaa ." Pekik Aurora memberontak.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2