
Bamm!!...
“Kita pergi Al.” Titah Victon seraya melirik Aldi yang sedang menguap lebar.
“Baik pak!.”
Kejanggalan kian terasa kala mata Victon menatap keluar Jendela. Ketika seluruh keluarga mengantar kepergian Victon di iringi doa-doa baik dari luar sana. “Vic!! pulang bawa cucu buat mama ya!!” Teriak mama Nindi dengan wajah bahagianya.
Lagi, satu hal yang menarik perhatian Victon sebelum mobil itu melaju. “Candra Tama Giovanni. Kau memang sulit di tebak.” Victon berucap dalam hati seraya membenarkan duduknya.
Bukan perkara mudah menuruti keinginan sang papa mertua, karena Victon harus meninggalkan banyak hal. Perusahaan salah satunya, apalagi saat ini dalam keadaan tidak stabil dan sangat membutuhkan Victon untuk mengembalikan keadaan.
“Kenapa dia ingin mengasingkan putrinya? Jika mau, seharusnya sudah dia lakukan sejak dulu.”
Brakk…
“Matamu di mana Al? Bawa mobil yang benar!!” Segitunya, ia kini menyalahkan Aldi yang di kiranya tidak becus menyetir kala polisi tidur di hantam begitu saja.
“Maaf pak!!”
“Sssshhhh, pusing kepalaku. Pelan-pelan saja, istriku sampai bangun ku sunat habis burungmu itu!!.”
Aldi tertegun kemudian tersenyum miring mendengarnya. “Pusing atas bawah ya pak? Pasti gara-gara gagal unboxing nih!!.” Seloroh Aldi hingga ia mendapat lemparan box tisu dari Victon.
Bugh...
Memang Aldi sialan!! Ucapannya yang benar itu membuat Victon malu saja. Bagaimana tidak? Wajah teduh Valerie yang terlelap di pangkuannya sudah menjadi bukti yang jelas dari kegagalan Victon malam ini.
__ADS_1
“Bisa-bisanya gue sekonyol ini. Seharusnya dia pingsan karena gue gempur habis-habisan. Bukan karena obat bius.”
“ But, efek obatnya berapa jam ya?”
Waktu pun berlalu. Tiba lah mereka di bandara pribadi milik keluarga Victon. Ya, fasilitas mewah yang merupakan aset dari kekayaan keluarga Ghaffari. Jet pribadinya kini sudah siap untuk mengantar misi pengasingan berkedok bulan madu itu.
Aldi pun di paksa untuk turut serta karena Victon tidak bisa terpisah dengan sang asisten dalam jarak jauh. Akibat embel-embel kata ‘liburan’ pula, Aldi pun menyetujuinya. Tak apa lah, sekali-kali memang perlu bagi pria malang itu untuk refresing dan memanjakan pikirannya.
Sampai di kabin, Victon pun merebahkan tubuh Valerie di kamar khusus yang sudah di sediakan. Toh, perjalanan pasti memakan waktu cukup lama, jadi ia pun ikut menemani sang istri.
“Istriku, cepat bangun ya. Aku udah kangen suaramu.” Ucap Victon menikmati waktunya sendiri.
Wajah cantik itu teramat candu bagi Victon. Meski mulutnya yang terkadang sepedas cabai rawit, tapi itu adalah bagian terfavorit. Tak aneh jika sejak tadi Victon menikmatinya dalam diam. Sekali-dua kali hingga semakin membuat keinginannya menjadi-jadi. Ingin miris atau lucu, karena Victon seperti tengah bermain dengan tubuh patung.
Cup…cup…
Valerie masih tak bergerak juga, padahal Victon sudah menciumi seluruh wajahnya. “Euhhh….sayang jangan lama-lama tidurnya.” Rengeknya lagi kemudian membenamkan wajahnya di dada sang istri. Jika tahu akan selama ini, seharusnya ia memilih cara lain saja. Laknat sekali ide si papa mertua itu.
😅😅
Pada akhirnya, Victon pun tersiksa sendiri karena Valerie tak kunjung bangun juga. Hingga berakhir dengan solo karirnya di kamar mandi.
Jleb…
“No!! Paman tolong jangan begini, lepaskan suamiku!!” Pekik Valerie dengan nadanya yang bergetar.
Lantai sudah bersimbah darah dan beberapa anggota keluarga yang lain sudah terkapar di sana. Dan kini pria yang tak lain adalah pamannya sendiri itu, menghujami tubuh Victon dengan pisau bergerigi di tangannya.
__ADS_1
Pria keji itu melakukan hal yang sama pada kedua orang tua kandung Valerie dan juga oma-opanya. Ini gila, semua orang mati di depan mata kepalanya sendiri. Sedangkan Valerie tidak bisa berbuat apa-apa.
“Tuhan tolong biarkan aku menyelamatkan mereka.” Batin Valerie terisak.
Jleb….
Jleb…
Jleb….
”Tidak….tidak…Jangann!! Berhenti psycho…!!” Berkali-kali pemandangan mengerikan itu terjadi secara live di depan Valerie.
Hikss….hikss Jangan…jangan bunuh dia kumohon!! Jangaaaannnnn!
“Val...…Valerie bangun!! Hei!!”
Suara bariton itu membuat Valerie tersentak kemudian membuka matanya tiba-tiba. Hening beberapa saat sebelum ia kembali berpikir. Apa tadi hanya mimpi? Syukurlah jika begitu. Saking takutnya karena penampakan mimpi itu begitu nyata, Valerie kini hanya bisa menangis sejadi-jadinya di dalam rengkuhan tubuh kekar suaminya.
Perasaan lega bercampur ketakutan yang luar biasa membuat respon tubuhnya berlebihan. Bahkan saat Victon bertanya, Valerie tidak mampu menjawab dan hanya bisa menangis dan menangis lagi. Padahal itu hanya mimpi, dan Valerie benar-benar di buat kehilangan separuh nyawanya.
“Huhuuhuuuu….jangan mati …hiks.” Valerie memeluk Victon begitu kuat. Takut sekali jika hal buruk itu sungguh terjadi.
“Sssssttt.” Victon kembali menyeka air mata Valerie yang bercucuran seraya menghibur suasana hati yang sedang buruk itu.
-To Be Continued-
Sini puk puk dulu🥺🥺
__ADS_1