
Menikah bukan perkara satu atau dua hari. Mungkin usia memang sudah mencukupi, tetapi hal itu bukan perkara remeh. Valerie sejenak ragu akan ucapan Victon hingga ia pun beranjak dari tempatnya meninggalkan sejuta tanda tanya di kepala Victon.
Victon yang sudah memahami bagaimana watak gadis itu hanya bisa membiarkannya saja untuk saat ini. Jika masalah pekerjaan sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, tidak untuk menghadapi perubahan sikap Valerie yang secepat itu.
Victon masih setia duduk di sisi ranjang seraya mengacak rambutnya kasar. Bagaimana kalau dia marah? Atau mungkin dia menolaknya? Apa ini terlalu cepat? Hanya itu yang di khawatirkannya saat ini.
Pagi ini berlalu dengan suasana cukup tak mengenakkan. Diamnya Valerie semakin membuat jiwa Victon meronta-ronta. Bahkan untuk sekedar meminta bantuan saja seakan enggan, Valerie lebih memilih untuk mandiri. Padahal Victon membuka tangannya dan siap kapanpun, namun sikap mandirinya malah membuat Victon jengkel sendiri.
“Apa susahnya minta tolong, hm?” Victon memperhatikan Valerie yang kesulitan untuk menempelkan perekat pada perban di lengan bagian atasnya. Dia sudah mengulurkan tangan, sayangnya niat baiknya itu tidak di indahkan.
“Kamu betah banget di kamar ini?” Valerie protes karena setelah Victon rapi dengan jas ala kantornya, pun masih mengunjunginya dengan alasan ingin membantu. Bukan maksud untuk mengusir, dia masih sadar diri siapa yang menumpang.
“Terserah aku. Ini kan..…”
“Rumahmu. Iya aku tahu itu.” Sela Valerie seraya memejamkan matanya sebelum kembali menghela napas.
“Kamu kenapa uring-uringan begini? Aku salah apa kali ini?” tanya Victon yang kemudian melingkarkan tangannya di pinggang ramping Valerie. Ingin bekerja pun tidak akan fokus jika pikirannya masih tertinggal di rumah.
“Lepas, jangan sembarangan ya. Aku bukan wanita murahan, jadi jangan sentuh seenaknya.”
“Apa? kan belum ku apa-apain?” Semakin panas saja hati Victon kala ada penekanan pada kata ‘wanita murahan’ dari bibir mungil itu. Memang dia selalu nyosor, kesal saja jika di anggap seperti pelaku pelecehan sek*sual. Padahal Victon berusaha mati-matian menahan diri.
__ADS_1
Maklum lah, pria normal dan dewasa sepertinya bukan berarti otaknya masih polos. Apalagi, jika sudah bertemu gawangnya. Demi gadis itu Victon bahkan rela menjadi jinak, meski bisa di pastikan itu tidak akan selamanya. Entah kemana pembahasan ini, yang jelas Victon sama sekali tidak menerima penolakan lagi.
“Orang tuaku akan pulang ke Indonesia tiga hari lagi, aku harap kamu mempersiapkan diri.” Ujar Victon sambil menatap kekasihnya penuh damba.
“Pulang?” beo Valerie.
“Iya, mereka ada di Berlin selama ini. Tolong rapihin dasiku dong.”
Valerie pun menurut. Dengan telaten tangan lentik berototnya membenarkan simpul tali dasi itu. Valerie lupa akan satu hal yang selama ini dia abaikan. Tidak ada pergerakan dari papanya, padahal dia sudah membuat masalah besar kali ini dan bisa di pastikan jika papanya akan murka.
“Apa dia membantuku menghilangkan jejak?”
.
.
.
“Kalau bukan karena kantorku hancur, malas aku di ruanganmu yang bau ini Al.” Sarkas Victon yang duduk santai di kursi putar milik Aldi.
Memang tidak tahu terimakasih. Aldi sudah rela berbagi ruangan dengan pria rewel yang tak lain bossnya itu. Sejak tadi Victon menggerutu tidak jelas. Perkara tata letak vas bunga saja di permasalahkan, belum lagi ruangannya di bilang bau. Padahal pengharum ruangan otomatis yang baru saja Aldi isi ulang, selalu tersangkut di dinding dan tidak berpindah tempat sama sekali.
__ADS_1
Sebenarnya, ada ruang direktur yang lebih elite jika Victon mau. Tapi, dia menginginkan ruangan sang asisten dengan alasan jika ingin memperbudaknya tidak perlu jauh-jauh. Memang dasar boss laknat.
“Memang begini aroma jeruk sitrus pak boss. Jika tidak suka saya bisa menggantinya.” Sergah Aldi yang tidak terima jika ruangannya di bilang bau.
“Tidak perlu, aku harus pergi rapat setelah ini. Jelaskan, apa keadaan perusahaan sudah membaik?”
“Setelah harga saham menurun, kita belum bisa mengerjakan proyek besar. Semua department sudah berusaha keras untuk mengendalikan keadaan.”
“Good. Aku tidak pernah meragukan kinerjamu Al. Jangan lupa info yang ku minta, aku mau secepatnya.” Victon tersenyum puas.
“Baik boss.”
Rapat itu selesai tepat pada saat jam makan siang. Victon pun memutuskan untuk lunch bersama dengan sahabat konyolnya. Karena Aldi di bebankan tugas yang membuatnya sibuk, akhirnya Victon memutuskan untuk pergi sendiri ke HR Media.
.
.
.
-To Be Continued-
__ADS_1