
Untuk apa dan mengapa? Victon seakan di buat percaya dengan fakta jika sahabatnya itu tidak mungkin hanya menumpang nama saja, melainkan turut andil dalam sebuah kasus yang melibatkan keluarga Giovanni kala itu.
Meski sekarang sudah bertobat, namun buruknya Jordan masih tercatat dalam sejarah. "Kenapa? Kenapa Jo, gue nggak ngerti!" Perginya Carl meninggalkan Victon yang kini meremas rambutnya frustasi. Hingga ia melangkahkan kakinya ke kamar, hatinya masih memanas dan kesal luar biasa.
Victon tak sadar apa yang di lakukan kala tubuhnya sudah menubruk Valerie. "Awww, sayang kamu kenapa? lepas dulu, ini ........uhuk." Keluh Valerie. Ia tidak siap kala Victon tiba-tiba menyeruduk layaknya banteng hingga mereka tak seimbang dan jatuh di atas kasur.
Victon memeluk kuat tubuh istrinya dengan posisi dia yang menindih. Kuat sekali hingga Valerie sesak napas. Berkali-kali Valerie memukul pelan dan Victon bergeming di tempatnya.
"Sa...kit.....sayang uhuk..uhuk!!" Akhirnya Valerie menjambak rambut Victon hingga wajah pria itu mendongak. Sesaat ia tercengang akan wajah sendu dan amat suram itu.
srekkkk...
Masih di posisi sama, Valerie menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya. "Kenapa? coba cerita ke aku, hm?" Bahkan kecupan singkat itu pun tak membuat Victon membuka mulut dan masih setia membisu.
Namun, Valerie tetap membiarkan tubuh sang suami yang masih ingin mendekapnya. Biarlah, Valerie akan memaklumi jika suasana hati Victon memang sedang sekalut itu.
"Ikut aku yuk!! mau nggak?" bisik Valerie seraya menggigit daun telinga Victon. Sontak saja, Victon menggeliat geli karena kejahilan Valerie yang semakin menjadi-jadi. Di saat kedua kalinya sisi telinganya di gigit lagi, Victon hanya bisa terkekeh.
"kemana?"
"Honeymoon." Valerie malu sendiri akibat ucapannya. Dia tidak biasa, mana pernah dia begitu. Ciuman saja Victon selalu meminta dulu, baru Valerie mau melakukannya. Peduli setan lah, kali ini Valerie membuang rasa malunya demi menghibur suaminya.
Detik berikutnya, Valerie menarik tangan Victon yang begitu pasrah. Saking pasrahnya, Victon hanya diam saja kala Valerie memakaikan apapun pada tubuhnya.
"Nah, ini kencan kedua kita jadi pakai baju yang santai." ujar Valerie dengan senyum manisnya setelah sentuhan terakhir pada lengan Victon.
__ADS_1
Padahal hari sudah mulai gelap dan Valerie seyakin itu mengajak Victon bermain bersama pinky. "Kamu yakin? Aku takut kalau jatuh Val." Keraguan itu seketika muncul kala Valerie memintanya untuk naik di belakang.
" Percaya padaku. Ayo naik!." Valerie sudah siap dengan posisinya yang meyakinkan. Semeyakinkan itu hingga Victon berkali-kali meneguk kasar ludahnya. Terakhir kali ia hampir di buat jantungan dengan gaya menyetir sang istri yang ugal-ugalan.
"Ayo, nungguin apa lagi?" Geram karena Victon masih terpaku di sana, akhirnya Valerie pun menariknya. Dengan setengah hati Victon berusaha percaya dan yakin akan keselamatannya di tangan Valerie.
Helm sudah terpakai di kepala masing-masing dan ....
brummmmmm.....
"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!! seru banget hahaha!!" pekik Victon riang gembira.
Ternyata tidak lah seburuk itu. Atau memang kemampuan Valerie dalam menghiburnya, kini Victon benar-benar menikmati udara segar yang menyapu tubuhnya. Jalan-jalan malam hari menelusuri hiruk pikuk jalan raya malam itu, Victon bahagia sekali rasanya, terlebih yang ada di sisinya adalah istri tercinta.
"Makasih sayang. Aku beruntung memilikimu."
Victon mendekap erat pinggang Valerie dari belakang kemudian melirik sorot mata cantik itu. Sungguh, ia kini ketagihan hanya dengan manik indah milik istrinya. Bahkan dengan tatapan saja ia di buat berdebar-debar.
brummmm....
ciitttt...
"Sebentar ya aku mau beli sesuatu." Ucap Valerie yang secepat itu masuk ke sebuah toko bunga. Mau apa dia? Victon tidak paham.
__ADS_1
drap....drap...
"Jangan lari!! aku nggak akan pergi kok!" Jantung Victon hampir saja lepas saat melihat Valerie berlari di atas jalan yang cukup licin itu. Sesaat kemudian Victon kembali berdesir kala setangkai bunga mawar merah di sodorkan di hadapannya.
"Buat kamu, my love." Ucap Valerie sedikit malu-malu, namun tangannya terulur pasti dengan bunga merah itu yang berdiri tegak.
Victon pun tertawa. "Seharusnya aku yang begini. rupanya aku nggak romantis ya?" Ucap Victon seraya menerima setangkai bunga itu dengan senyum tampannya.
"Nggak, aku memang lagi mau aja. hehe.." Valerie memalingkan wajahnya yang sudah semerah tomat. Setelah beberapa detik, Valerie kembali menoleh dan menatap mata Victon.
"Emm....kita ke hotel yuk!!" Bisik Valerie hingga membuat Victon membola. "Hadiah buat kamu yang lagi sedih." bisiknya lagi.
Oh, tentu saja Victon mau. Bahkan jika perlu, dia rela bersedih setiap hari jika Valerie bisa selalu begini.
"hayuk!!!"
.
.
.
-To Be Continue-
Nah loh, Victon mau di apain tuh sama Valerie??
__ADS_1