
Kepergian Valerie menciptakan huru-hara keluarga besar Giovanni. Tak terkecuali Candra yang kini benar-benar di buat murka karena kelakuan putrinya yang lagi-lagi di anggap mencemarkan nama baik keluarga. Sejak awal semua sudah terencana dengan rapi dan Candra sangat yakin jika pernikahan ini benar-benar akan terjadi. Namun, semua sirna dan kini Candra menelan pahitnya rasa malu di depan keluarga Bastian.
“Ini sudah yang kesekian kali. Tuan, mari kita batalkan saja pernikahan ini.” Ucap Clara dengan wajah dinginnya.
“Maafkan kami Nyonya ini..” belum selesai bicara Clara menodongkan telapak tangannya seraya bangkit dari duduknya.
“Jika tidak mau, maka jangan di paksa lagi. Putri anda sudah jelas-jelas menolak sejak awal. Itu lah kenapa dia selalu mengacaukannya.”
“Mom.” Tuan Bastian menggelengkan kepalanya untuk membuat istrinya agar lebih tenang. Clara menghela napas seraya menatap bergantian putra dan suaminya. Kevin bahkan sudah terlihat rapi dan menawan dengan setelan rapi jasnya, sangat di sayangkan jika impian keluarganya tidak bisa terwujud. Tidak untuk Kevin yang begitu bahagia karena gagalnya pernikahan itu.
yes!!
.
.
.
.
__ADS_1
Sudah bebas bukan berarti bisa semena-mena. Meski bukan seorang tawanan, pada kenyataannya Valerie tetap berada di dalam wilayah kekuasaan seseorang. Bedanya, dia lebih suka karena seseorang tersebut adalah sosok yang di akui. Lebih jelasnya, di akui jika hatinya saling bertaut satu sama lain.
“ Val kamu mendengarku?”
“Hah? i…iya…” Valerie termangu dan tidak percaya dengan keadaan di mana dia kembali di sadarkan oleh tempat yang asing lagi. Baginya, tidak bagi Victon yang merupakan pemilik tempat itu. Siapa yang menyangka jika Valerie kini di bawa ke rumah megah milik pria yang tak lain bossnya itu.
Sejak tadi yang di ajak bicara tidak bisa serius dan Victon di buat geram karenanya. Valerie masih begitu menjaga jarak hingga Victon tidak tahan untuk tidak mengusiknya. Victon pun melangkah ke arah Valerie yang masih terpaku dan tepat berhenti sejengkal di depannya. Tangannya kemudian terulur untuk meraih dagu Valerie agar membalas tatapannya.
“Kamu menyesal?” tanya Victon dengan sorot mata yang sulit di artikan.
Sempat menelan ludahnya kasar, kini Valerie menggeleng dan membalas tatapan pria di depannya itu. Ia sudah begitu yakin jika perasaanya tidak akan pernah salah, tapi entah kenapa tubuhnya masih kaku seperti ini.
Di saat Victon kembali menarik tubuhnya hingga tak berjarak, Valerie sudah dapat menerimanya.
Entah sejak kapan, Valerie sudah merasakan sentuhan benda kenyal itu di bibirnya. Mereka saling bertaut dalam suasana malam yang hening di ruang tamu dengan cahaya temaram. Valerie pun di giring untuk membalas permainan itu, meski ia sendiri memang belum mahir.
Sesuatu kini seperti terpompa amat cepat di imbangi desiran hebat yang menyebar luas ke seluruh tubuhnya. Valerie semakin resah. Namun hatinya benar-benar sudah terbuai akan pesona paripurna yang di miliki oleh Victon.
Jika saja pernikahan itu benar-benar terjadi, mungkin seharusnya Valerie tengah menikmati malam pertama suram dengan pria lain. Tidak di sangka dia terjebak dalam situasi yang sulit di jelaskan ini.
__ADS_1
“it’s sweet like candy. I want more and more. ”
Victon mengusap bibir yang membuatnya candu itu. Napas keduanya masih terengah-engah bak habis melakukan pekerjaan berat di tambah keinginan terselubung itu semakin meningkat. Rasanya Victon ingin segera melahap gadis di hadapannya saat ini. Hanya saja, ia takut jika tindakan gegabahnya kembali membuat Valerie menjauh.
Dia masih normal, namun otaknya masih harus tetap waras. “Mau lagi?” Bodohnya Victon malah melontarkan pertanyaan yang membuat Valerie memerah malu. Tingkah lucu Valerie yang kini menundukkan kepala membuat Victon tersenyum puas. Bangga lebih tepatnya, ternyata taktik dan teknik ciumannya bisa membuat gadis yang terkenal kasar dan tomboy itu melemah.
“Aku mau kasih pelajaran yang naik satu tingkat. Cuma… takut kalau nggak bisa menahan diri.” Ucap Victon kemudian memegang pundak Valerie seraya terkekeh pelan.
Cup….
Victon kembali memajukan wajahnya kemudian mengecup dan menyesap pelan leher jenjang Valerie. Aromanya begitu memikat hingga Victon tidak ingin menyudahi. Namun, saat merasakan tangan Valerie meremas belakang kepalanya, Victon pun segera berhenti.
“Jangan takut, ingat ini aku.”
.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-