My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 74 Tahan Dulu, Calm Down


__ADS_3

"N....nggak papa, aku bisa sendiri kok!"


"Bisa apanya? jangan banyak gerak sayang."


Valerie meleleh dengan segala bentuk perhatian yang suaminya berikan. Tetapi, ada kalanya perhatian itu berlebihan sekali.


"Nanti mama marah. Di sangkanya aku nggak bisa urus istri sendiri."


Aneh. Ada yang aneh dengan kalimat itu. Sejak kapan mama Nindi mempermasalahkan hal itu? memang juaranya jika Victon di suruh mengada-ada.


Sejak tadi, mulai dari melepas pakaian, mandi, bahkan berpakaian juga semua Victon yang melakukannya. Valerie tidaklah selemah itu, hingga tubuhnya harus di urus seperti bayi baru lahir.


"Ini kancingnya gimana?"


"Kan udah ku bilang, aku aja." Valerie gemas sendiri karena Victon yang begitu telaten memakaikan kacamata busa pelindung benda keramat miliknya. Padahal mah, Victon cuma memanfaatkan kesempatan.


Valerie di buat menahan napas kala bibir tebal itu meninggalkan cap bibir premium dan berkualitas di area punggungnya. Tak hanya itu, kata-kata nyeleneh itu juga keluar membuat telinga Valerie jadi panas.


"Bentuk yang pas dengan fungsi khusus buat di nikmati."


"Cepet iihhh!! y......yang pertama dari depan, nah iya itu bener." Ucap Valerie kian memerah.


Sambil terkekeh Victon menyelesaikan pekerjaan barunya. Semangatnya bahkan melebihi pasukan demokrasi. Padahal hanya memakaikan bra saja.


"Jangan lihat....jangan lihat. Tahan Victon tahan, tahaaaannn..... tubuhnya masih lemah." Ucapnya dalam hati. Victon memalingkan wajahnya yang memanas sementara tangannya melanjutkan mengaitkan kancing baju di tubuh bagian depan nan menantang pembangkit jiwa liarnya.


Valerie pun tersenyum simpul melihat jakun suaminya naik-turun. "Aku mau pulang hari ini, ya sayang?" Ujar Valerie setelah berhasil membuat Victon berdebar karena tiba-tiba mengecup jakunnya.


.


.

__ADS_1


.


.


Beberapa waktu kemudian.....


" Pulang....aku mau pulang." Rengek Valerie pelan.


Masih keras kepala. Victon menghela napas untuk permintaan yang kesekian kali Valerie utarakan. Seminggu lebih di rumah sakit mungkin membuatnya jenuh, namun permintaan untuk di pulangkan masih juga belum di setujui.


Alasannya hanya satu. "Tunggu kamu benar-benar pulih. " Valerie menirukan perkataan suaminya yang selalu di ucapkan tiap kali ia minta pulang.


"Aku udah sembuh. lihat! aku bisa lompat, sit up, squat jump, apa lagi ya? aha...jungkir balik juga bisa, iya kan ma-pa?" Biar lebih meyakinkan, Valerie meminta persetujuan sang mertua yang tengah sibuk menimang Cheryl seraya menikmati apel hijau yang Zoeya bawa tadi.


"Pfftttt..." Rara menahan tawa dengan tingkah lucu Valerie.


"Jangan ketawa Ra." Ucap Valerie dingin.


"Kak Val pasti udah bosan tuh, kak."


"Diam Zoe!!" Sentak Victon.


"Dih, galak banget. gak jelas!!" Ketus Zoeya yang kemudian memilih layar ponselnya.


"Aku mau lihat papa dan anak kita. Antar aku ya..." Valerie berusaha semampunya. ia menatap lembut kedua netra Victon bersamaan, berharap jika keinginannya mendapat lampu hijau.


Mendapat anggukan dari sang mama pula, Victon pun melemah dan tak ada pilihan selain meng-iyakan.


...🍃🍃🍃🍃...


Akhirnya, keinginan Valerie pun terpenuhi. Begitu keluar dari rumah sakit, Valerie langsung minta segera di antar ke pemakaman.

__ADS_1


Hanya berdua dengan sang suami, karena hanya Valerie yang melewatkan hari itu. Di tatapnya kembali tiga batu nisan yang berjajar. Valerie bersimpuh seraya melantunkan doa-doa terbaiknya.


Kehadiran mereka yang kini sudah aman di sisi sang khalik. Valerie sedih, tapi mencoba untuk ikhlas meski nyatanya amat sulit. "Aku menyayangi kalian, maaf dan terimakasih." Ucap Valerie seraya mengusap gundukan tanah paling kecil di antara ketiganya.


"Mereka selalu ada di sini." Victon menunjuk di mana letak hati kemudian kembali mendekap erat Valerie.


.


.


.


Pagi menjelang siang begitu jelas sehingga terik matahari cukup menyengat kulit. Selepas berdoa, dua insan itu pun memutuskan untuk kembali ke rumah.


Puluhan detik kemudian ....


tin....tin...


Dengan langkah terbirit-birit bahkan hingga terjatuh, pak Johan pun berhasil membuka gerbang. Victon sendiri heran kenapa pria paruh baya itu selalu gelagapan sendiri.


"Kenapa selalu begitu?"Ucap Victon heran. Sembari menggeleng-geleng, Victon melepas seat beltnya kemudian menoleh ke arah Valerie yang sudah membatu.


"Lah? terkapar dia." Tanpa perlu mengusik, pria itu pun membopong istrinya masuk ke dalam rumah. Kebetulan, semua keluarga berkumpul untuk menyambut pulangnya Valerie hari ini.


"Leo, jangan ganggu hussshhhh."


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2