My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB SPESIAL 4


__ADS_3

Keesokan harinya, masih di rumah sakit,


Baby Zyan terlelap dalam pangkuan ayahnya dengan balutan pakaian setebal bulu domba karena suhu udara memang sedang menurun.


Sesekali menggerakkan bibir dan menggeliat dalam tidurnya, Victon pun mengecup berkali-kali pipi gembul putranya karena gemas. Victon tidak bosan karena aroma khas bayi itu , namun Valerie risih kala pipi Zyan memerah akibat ulah brewok suaminya.


"Bangunnya cuma pas lapar saja. Nak, ayo main sama ayah."


"Jangan ganggu. Nanti kalau sekali bangun kamu kewalahan." ucap Valerie menengahi.


Beberapa jam lamanya, Valerie benar-benar diabaikan. Rupanya, benar jika perhatian suami akan beralih jika si kecil hadir. Sungguh, ingin cemburu tapi rasanya tidak logis.


Lihatlah wajah bersinar Victon, sangat bahagia hingga Valerie tidak ingin mengusik. Menjadi penonton adalah pilihan yang tepat baginya.


Tidak ada yang bisa mengalahkan keimutan asli seorang bayi. Victon pun menyentuh bibir putranya yang seperti mengulum sesuatu. Menjulurkan lidahnya mencari sumber kehidupannya.


"Sayang, Zyan lapar nih."


"Kemari!"


Dengan hati-hati, Victon beranjak dari duduknya. Langkahnya pelan seperti membawa benda yang rapuh dan amat berharga. "Uuuuhhh anak ayah lapar dan haus ya, hm?"


Benar saja, begitu jatuh dalam dekapan bundanya, Zyan sudah tidak sabar lagi. Mulut sudah komat-kamit seraya mencari-cari.

__ADS_1


"Ssshhhhh......perih." Valerie mendesis kala putranya begitu semangat. "Ayah tidak minta kok, pelan-pelan nak." ucap Victon lembut seraya kembali mengusap kepala Zyan.


Padahal, sejak tadi pria itu menelan ludahnya. Bentuk yang menggoda dan lebih berisi dari sebelumnya. Entah kenapa Victon juga penasaran akan rasanya.


"Sayang, gimana rasanya ASI?"


"Hm?"


Valerie pun mendongak. "Mana aku tahu." Melihat cara menatap Victon, sontak saja Valerie menggeleng-geleng. Ia paham betul isi kepala Victon yang sudah keruh dari sananya.


"Boleh aku cicip?" Victon bertanya.


"Jangan aneh-aneh. Kamu libur sampai dua tahun."


"Ngalah sama anak ih!!"


Tuinnnggg....


Tak ingin kalah, seseorang menonyor kepala Victon tiba-tiba. "Puasa dulu Vic. Ya ampunnn .......cucu Oma gemes banget." Semudah itu perhatian mama Nindi teralihkan karena cucunya lebih menarik daripada putranya.


Mama Nindi bersama sang suami langsung datang begitu turun dari pesawat. Terlihat bagaimana repotnya Aldi di belakang sana tengah membawa dua koper besar. Semuanya turut bersuka cita menyambut bayi Zyan.


"Ada titipan dari Jordan dan Rara buat baby Zyan."

__ADS_1


"Iya, terima kasih ma, tadi Rara sudah bilang." ucap Valerie masih pada pekerjaan barunya.


"Mama khawatir sama kamu nak. Jadi untuk beberapa bulan mama tinggal di sini ya." Valerie tersenyum dan mengangguk pasti. Sedangkan Victon memasang wajah datarnya.


"Kenapa ma?" tanya Victon seraya bergabung dengan Elard di sofa.


"Kenapa? Kamu tidak senang mama di sini? Ini demi istrimu Vic."


Salah paham pula. Victon tidak bermaksud begitu, namun sang mama sudah mengeluarkan taringnya. "Bukan begitu ma. Aku kan cuma bertanya." ucapnya lagi kemudian memasang wajah memelas "Pa, kenapa mama sensitif banget? Pasti papa kurang sayang-sayang nih."


"Sembarangan!!" langsung saja Elard meninju pelan pundak putranya itu. Candaan ringan dan juga gelak tawa cukup menjadi saksi bahagia akan kehadiran Zyan di keluarga tersebut.


"By, kapan kita menikah?" bisik Zoeya seraya menyenggol lengan Aldi di sampingnya.


"Sebentar lagi. Aku sedang berusaha." jawab pria itu dengan kedipan matanya.


.


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2