My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 20 My Kiss


__ADS_3

"Jadi? apa ini lampu hijau untukku?" Victon pun berbalik dan menatap mata Valerie begitu lekat. Tatapan itu, Valerie yakin jika pria di hadapannya ini bersungguh-sungguh. Akhirnya, Valerie pun mengangguk pelan.


Tak butuh waktu lama, Victon pun secepat itu mengikis jarak dan kini sudah duduk di tepi ranjang. "Apa kamu serius?." Sekali lagi, Victon hanya ingin memastikan jika tidak ada keraguan lagi dalam diri Valerie.


Sejujurnya, di usia Victon saat ini bukanlah masa untuk bermain-main. Jika saja memungkinkan, Victon mungkin mengambil langkah cepat seperti Jordan. Tapi, wanitanya ini berbeda dengan lawan main sahabatnya itu. Sampai salah langkah, maka sedikit pun Victon tidak bisa mendapatkannya.


"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Victon kemudian di angguki Valerie sebagai jawaban.


Tanpa ninuninu lagi, Victon pun menarik pelan gadis itu ke dalam pelukannya. Tak lupa usapan-usapan pelan ia berikan di punggung Valerie yang kini nampak gugup dan masih berperang melawan rasa takutnya.


"Jangan takut, aku bukan pria brengsek seperti yang kamu bayangkan." Ucap Victon lagi. Sejak tadi Valerie membisu dan hanya dia yang aktif berbicara. Namun, itu tidaklah penting bagi Victon.


Sambil mengusap-usap kepalanya, sesekali Victon memberi kecupan di kening gadis itu. Kenapa tidak dari awal begini? jika begitu Victon kan tak perlu bersikap seperti pengemis cinta. Valerie yang kini penurut membuat naluri lelakinya merajalela.


Hingga detik berikutnya, kecupan manis itu semakin merambat pelan ke bawah. "Kamu akan terbiasa, ingat aku dalam kepalamu." Ucap Victon yang kemudian mencium pangkal hingga pucuk hidung Valerie. Semakin ke bawah, bibirnya berhenti tepat di bibir Valerie.


Sengaja Victon tidak menggerakkan bibirnya dan hanya menempel saja. Seperti yang di katakan sebelumnya, jika ia akan berhati-hati. Pelan tapi pasti, Victon akan membuat gadis itu terbang melayang dengan sentuhannya.


deg...deg...deg..

__ADS_1


Detik berikutnya, Victon memulai dengan gerakan pelan. Belum apa-apa napas Valerie kembali tersengal dan terpaksalah Victon menghentikannya. "Takut?" tanya Victon menatap lekat manik mata nan indah itu seraya menyelipkan anak rambutnya.


"Maaf."


"Jangan minta maaf seperti itu. Kita coba sekali lagi, ya?" Senyuman di wajah Victon malah membuat Valerie curiga. "Apa aku harus menerimanya?" batin Valerie cemas. Saat Victon sudah mendaratkan ciumannya lagi, Valerie hanya terpaku dan menerima tanpa banyak protes.


Agaknya pula tubuh Valerie kini mengikuti irama. Apalagi saat tangan kekar itu merayap di tengkuk lehernya membuatnya menggenggam sprei dan meremasnya sebagai pelampiasan. Sangat lembut tapi menuntut, Victon benar-benar menikmati dunianya dan Valerie seakan pasrah kala tubuhnya digiring untuk berbaring.


"Emmppphhh, i.....ini di rumah sakit." Ucap Valerie bersusah payah. Namun, Victon sudah menutup telinga dan matanya. Pria itu tidak peduli lagi, baginya pelajaran ini amat penting agar Valerie 'terbiasa' tadi.


deg..deg...deg...


cup....


"Shi*t gue nggak bisa berhenti. ini terlalu manis "


Victon merutuki dirinya. Semakin menuntut tapi tetap lembut, Victon masih menyesapi bibir atas dan bawah Valerie bergantian. Tanpa sadar Indra perasaanya sudah menelusup ke dalam hingga menimbulkan decapan dan lenguhan yang begitu merdu.


Victon menarik pagutannya sejenak dan memandangi wajah cantik yang kini memerah bak udang rebus itu. Satu langkah lebih maju, pria itu mendekatkan wajahnya di leher jenjang Valerie dan menyesapnya pelan.

__ADS_1


cup...


"J.....jangan. A...aku belum siap." Ucap Valerie dengan lirih. Kilasan memori itu kembali muncul kala Victon melakukan itu pada lehernya. Jika secepat ini, Valerie memang belum bisa.


Victon pun memejam dan menyudahi aksinya. Ia berusaha keras untuk memendam dan mengubur kembali gairahnya yang memuncak. Jadi beginilah rasanya ketika sudah menemukan pawangnya, rasanya membuat Victon kecanduan hingga tak bisa berhenti.


"Okay, pelajaran sampai di sini aja. Kita akan melakukannya lagi, lebih sering lebih bagus. Minimal 3 kali sehari"


Seketika wajah Valerie di buat cemberut akibat perkataan ambigu pria tampan di depannya ini. Sudah seperti minum obat saja, pikirnya. Bisa-bisa, bibir Valerie berubah menjadi semangka jika sering berpatukan dengannya.


"Mesum!!"


bugh...


"Adohhhh oy." Victon memegangi dadanya yang terkena serangan tiba-tiba.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continued


__ADS_2