
"Ngapain ajak aki-aki bau tanah itu heh!!"
"Rubah licik!"
Valerie tidak akan meladeni jika tidak di senggol terlebih dulu. Itu sudah menjadi prinsip hidupnya. Namun, di hadapkan dengan manusia semacam Aurora ini bisa membuat tekanan darahnya meninggi. Sang papa benar-benar buta memilih wanita ini yang jelas memiliki topeng setebal 10 inci di wajahnya itu, pikir Valerie mencoba sabar.
greb...
Tangan seseorang melilit di pinggang Valerie dari belakang, sedangkan yang satu berusaha mencegah tangan Valeria yang sedang berusaha mencengkeram leher Aurora.
"Jangan sia-siakan tenagamu. ini terlalu indah." Victon menyelipkan jemarinya di sela-sela jari istrinya kemudian mencium telapak tangan itu penuh kelembutan. cup....
Cukup untuk membuat seseorang meremang dan menahan amarahnya yang hampir meletup-letup. Raymond memanas, tapi ia tak ada pilihan selain diam dan mengamati.
"Maaf ma, kami permisi dulu. Acara dansa segera di mulai." pamit Victon sembari menarik pelan istrinya.
"...."
"Itu wanita yang kamu mau? kasar begitu, kakak nggak akan pernah setuju Ray." Selidik Aurora dengan sorot mata tajamnya menatap sang adik.
"Aku nggak selera sama yang lain."
"Kalau belum coba mana tau. Kakak ada teman yang cantik banget, Valerie doang mah kalah."
"No. Dia tetap satu-satunya di hatiku." Ray menggeleng-geleng mantap seraya menatap nanar kepergian Valerie bersamaan dengan rasa sesalnya mengingat dirinya telah berkhianat di masa lalu.
"Dia udah bersuami Ray, jangan gila!!"
"Yang menikah aja bisa cerai, nggak ada kata mustahil kak!!"
"Setresss!!" Aurora pun menyerah dan memilih untuk pergi daripada menemani Ray yang selalu tergila-gila dengan anak sambungnya itu. Apa bisa cinta menciptakan ketertarikan berlebih seperti itu? Aurora sendiri tak bisa mencernanya, mungkin karena dia belum pernah jatuh sejauh itu dalam mencintai.
.
__ADS_1
.
.
.
Ruang nan gemerlap di tambah lagi dengan iringan musik melow sebagai pemandu acara berikutnya segera di mulai. Apalagi kalau bukan pesta dansa. Semua orang yang berpasang-pasangan sudah bersiap di posisi masing-masing.
"Do you wanna dance with me, my wife?" Victon mengulurkan tangannya dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk. Senyumnya terpampang nyata menginginkan sebuah persetujuan dari istrinya.
"Okay."
Betapa senangnya pria itu hingga tak lupa memberi kecupan singkat di punggung tangan sang istri sebelum membawanya ke arena dansa.
"Pegang pundakku." Ucap Victon yang tengah meletakkan tangannya di pinggang ramping Valerie. Srekk... Tanpa aba-aba ia sengaja menarik tubuh istrinya agar semakin dekat. "ikuti iramanya, kamu bisa dansa kan?" tanyanya.
"Menurutmu?" Valerie tersenyum dengan kakinya bergerak pelan ke kanan dan kiri.
"Iya. ini pertama kalinya bagiku." Valerie terkekeh pelan. Banyak hal yang pertama kali di lakukan selama bersama dengan Victon dan Valerie merasa sangat berharga untuk kesekian kalinya.
"Sebuah kehormatan untukku." Bisik Victon yang kini sudah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Valerie. Aroma yang hanya di miliki Valerie membuat Indra pencium pria itu tak berhenti menghirupnya.
Valerie pun memiringkan kepalanya untuk mempersilahkan suaminya ingin berbuat apapun di sana. Toh, pesta ini berbasis internasional dan banyak juga para pasangan bercumbu mesra di dalam sana. Jadi Valerie lebih leluasa saja meski risih juga sebenarnya.
"Sssssshhhhhh."
Apa yang di lakukan suaminya? hingga Valerie mendesis begitu. Gigitan itu datang tanpa permisi menciptakan getaran aneh dan Valerie hampir tak kuasa menahan diri.
"kamu milikku dan selalu jadi milikku." Dengan napas beratnya Victon mel*lu*mat sejenak bibir Valerie. Ia tidak mau jika keinginannya bertambah.
"emmmmmp."
"Kamu juga milikku." Ucap Valerie. Mereka saling menyatukan kening dan memejam menikmati tubuhnya yang tergiring oleh musik.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃...
"Apa ini istrimu pak Victon? cantiknya." Tanya Subroto.
Victon tersenyum "Iya pak. Sayang kenalin, beliau ini rekan bisnis sekaligus teman akrab papa." Ucap Victon yang kemudian meraih pinggang Valerie dengan posesif.
"Perkenalkan, saya Valerie pak."
Valerie dengan sopan menjabat tangan pria paruh baya di depannya. Sementara itu, telinganya semakin tajam mendengarkan earpod yang tersambung pada obrolan di seberang sana.
"......tenang aja, sebentar lagi dia pasti menyusul mamanya."
"aaaah...uh....kau wanita paling gila yang pernah ku kenal. Gimana dengan tua bangka itu sayang....euh."
"iyuhhhh, menjijikkan!!" Gumam Valerie mendadak geli kala mendengar suara aneh yang terdengar jelas di benda penyumbat telinganya "Mereka lagi ngapain sih?" batin Valerie bergidik ngeri.
"Kenapa?" Victon bertanya dengan cemas karena ekspresi Valerie cukup aneh. "e....enggak ada apa-apa." jawabnya tergagap.
"Yakin?"
"Iya."
tiba-tiba....
Clap!! lampu padam tiba-tiba membuat semua orang panik. Waaaaaaa........waaaaaaa........
.
.
.
-To Be Continued-
__ADS_1